Selasa, 16 Juni 2009

KONSEP BUNUH DIRI

MAKALAH PSIKATRI
tentang
BUNUH DIRI











DISUSUN OLEH:
KELAS IVB

SEKOLAH TINGGI KESEHATAN(STIKES)
MATARAM
(2009/2010)



KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia, penulis dapat menyelesaiakan makalah yang berjudul “ BUNUH DIRI”.Penyusunan makalah ini merupakan perwujudan dari kewajiban penulis sebagai mahasiswa untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Dosen, khususnya mata kuliah PSIKATRI . Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing Mata Kuliah PSIKATRI yang telah memberikan kami waktu yang cukup untuk menyelesaikan makalah ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan bantuan dan dukungan .
Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, untuk itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca sehingga dalam penulisan makalah selanjut bisa lebih baik. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca semua



Mataram,14 MEI 2009


Penulis












Pendahuluan
Bunuh diri merupakan salah satu bentuk kegawat daruratan psikiatri. Meskipun suicide adalah perilaku yang membutuhkan pengkajian yang komprehensif pada depresi, penyalahgunaan NAPZA , skizofrenia, gangguan kepribadian( paranoid, borderline, antisocial), suicide tidak bisa disamakan dengan penyakit mental. Ada 4 hal yang krusial yang perlu diperhatikan oleh perawat selaku tim kesehatan diantaranya adalah : pertama, suicide merupakan perilaku yang bisa mematikan dalam seting rawat inap di rumah sakit jiwa, Kedua,
Factor – factor yang berhubungan dengan staf antara lain : kurang adekuatnya pengkajian pasien yang dilakukan oleh perawat, komunikasi staf yang lemah, kurangnya orientasi dan training dan tidak adekuatnya informasi tentang pasien. Ketiga, pengkajian suicide seharusnya dilakukan secara kontinyu selama di rawat di rumah sakit baik saat masuk, pulang maupun setiap perubahan pengobatan atau treatmen lainnya. Keempat, hubungan saling percaya antara perawat dan pasien serta kesadaran diri perawat terhadap cues perilaku pasien yang mendukung terjadinya resiko bunuh diri adalah hal yang penting dalam menurunkan angka suicide di rumah sakit. Oleh karena itu suicide pada pasien rawat inap merupakan masalah yang perlu penanganan yang cepat dan akurat. Pada makalah ini akan dipaparkan mengenai factor resiko terjadinya bunuh diri, instrument pengkajian dan managemen keperawatannya dengan pendekatan proses keperawatanya.









BUNUH DIRI
A. Pengertian bunuh diri
Bunuh diri merupakan salah satu bentuk kegawat daruratan psikiatri. Meskipun suicide adalah perilaku yang membutuhkan pengkajian yang komprehensif pada depresi, penyalahgunaan NAPZA , skizofrenia, gangguan kepribadian( paranoid, borderline, antisocial), suicide tidak bisa disamakan dengan penyakit mental.
Ada 4 hal yang krusial yang perlu diperhatikan oleh perawat selaku tim kesehatan diantaranya adalah :
1. Suicide merupakan perilaku yang bisa mematikan dalam seting rawat inap di rumah sakit jiwa,
2. Factor – factor yang berhubungan dengan staf antara lain : kurang adekuatnya pengkajian pasien yang dilakukan oleh perawat, komunikasi staf yang lemah, kurangnya orientasi dan training dan tidak adekuatnya informasi tentang pasien.
3. Pengkajian suicide seharusnya dilakukan secara kontinyu selama di rawat di rumah sakit baik saat masuk, pulang maupun setiap perubahan pengobatan atau treatmen lainnya.
4. Hubungan saling percaya antara perawat dan pasien

B. Etiologi
1. Faktor genetic dan teori biologi
Factor genetic mempengaruhi terjadinya resiko bunuh diri pada keturunannya. Disamping itu adanya penurunan serotonin dapat menyebabkan depresi yang berkontribusi terjadinya resiko buuh diri.
2. Teori sosiologi
Emile Durkheim membagi suicide dalam 3 kategori yaitu : Egoistik (orang yang tidak terintegrasi pada kelompok social) , atruistik (Melakukan suicide untuk kebaikan masyarakat) dan anomic ( suicide karena kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain dan beradaptasi dengan stressor).
3. Teori psikologi
Sigmund Freud dan Karl Menninger meyakini bahwa bunuh diri merupakan hasil dari marah yang diarahkan pada diri sendiri.
4. Penyebab lain
a. Adanya harapan untuk reuni dan fantasy.
b. Merupakan jalan untuk mengakhiri keputusasaan dan ketidakberdayaan
c. Tangisan untuk minta bantuan
d. Sebuah tindakan untuk menyelamatkan muka dan mencari kehidupan yang lebih baik
C. Predisposisi
Penyakit jiwa merupakan faktor predisposisi terpenting terjadinya bunuh diri. WHO memperkirakan sebanyak 90% orang yang melakukan tindakan bunuh diri terjadi akibat penyakit jiwa yang tidak didiagnosa dan diobati, di samping penggunaan obat-obatan terlarang dan konsumsi alkohol. Kondisi ini merupakan masalah kesehatan utama di dunia yang mempresentasikan 1,4% dari beban masalah kesehatan dunia.
Di samping itu, masyarakat dalam hal ini tokoh agama dan pemerintah juga mempunyai peran penting dalam mencegah dan meminimalkan kasus bunuh diri dengan menanamkan nilai-nilai kesehatan jiwa sejak dini.
Preveler dkk dalam jurnal yang berjudul ‘ABC of Psychological Medicine: Depression in Medical Patients’ (2002) mengatakan, risiko bunuh diri seumur hidup akan dialami orang yang mengalami mood disorder, terutama depresi yaitu sebesar 6-15%, sedangkan schizophrenia sebesar 4-10%. Data tahun 2005 menyebutkan, di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, kejadian bunuh diri akibat depresi menempati ranking ke-11 penyebab kematian penduduk.
Depresi merupakan kondisi medis yang disebabkan karena adanya disregulasi neurotransmitter (zat penghantar dalam sistem syaraf) terutama serotonin (neurotransmitter yang mengatur perasaan) dan norepinefrin (neurotransmitter yang mengatur energi dan minat). Spektrum depresi sangat luas dengan keluhan penyakit dan manifestasi klinik yang bermacam-macam sehingga pengelolaannya harus dilakukan secara holistik.



D. Patofiologi
Luka yang terjadi karena disengaja sering terjadi dan pemeriksaannya biasanya menjadi tugas ahli patologi dan dokter ahli forensik klinik. Kejadian-kejadian ini terdiri dari : bunuh diri, percobaan bunuh diri, dan bunuh diri berencana., pada akhirnya tidak adanya makud untuk untuk membunuh, meskipun kematian mungkin terjadi karena kurang hati-hati.
Salah satu keputusan yang sulit di hadapi oleh ahli patologi dan pemeriksa medis, dan untuk bertindak yang legal, seperti juga pemeriksa sebab dari kematian, terdapat perbedaan antara bunuh diri, pembunuhan, dan perlukaan oleh diri sendiri lainnya. Meskipun ini bukan merupakan juga fungsi yang legal ahli patologi dalam ,menghubung-hubungkan motif, pengalaman mereka dan latihan juga factor-faktor yang sering sehingga mereka dapat membuat keputusan dalam pengklasifikasian kebiasaan-kebiasaan atau cara kematian serta perlukaan.
 Cidera akibat bunuh diri
Diskusi ini dibatasi dengan trauma fisik, meracuni diri sendiri, yang akan dibicarakan lebih lanjut. Bunuh diri akibat melukai diri sendiri dengan berbagai macam cara, yaitu dengan cara yang ganjil atau aneh. Ahli patologi harus selalu waspada dengan kemungkinan-kemungkinan lain selain karena bunuh diri. Pada beberapa kejadian biasanya disebabkan karena ketidaksengajaan dilakukan oleh korban. Contoh primer yaitu “Masochistic Asfiksia”, dimana kadang sering keliru dengan bunuh diri.

E. Penatalaksanaan
1. Bantu klien untuk menurunkan resiko perilaku destruktif yang diarahkan pada diri sendiri, dengan cara :
- Kaji tingkatan resiko yang di alami pasien : tinggi, sedang, rendah.
- Kaji level Long-Term Risk yang meliputi : Lifestyle/ gaya hidup, dukungan social yang tersedia, rencana tindakan yang bisa mengancam kehidupannya, koping mekanisme yang biasa digunakan.



2. Berikan lingkungan yang aman ( safety) berdasarkan tingkatan resiko , managemen untuk klien yang memiliki resiko tinggi
- Orang yang ingin suicide dalam kondisi akut seharusnya ditempatkan didekat ruang perawatan yang mudah di monitor oleh perawat.
- Mengidentifikasi dan mengamankan benda – benda yang dapat membahayakan klien misalnya : pisau, gunting, tas plastic, kabel listrik, sabuk, hanger dan barang berbahaya lainnya.
3. Membantu meningkatkan harga diri klien
- Tidak menghakimi dan empati
- Mengidentifikasi aspek positif yang dimilikinya
- Mendorong berpikir positip dan berinteraksi dengan orang lain
- Berikan jadual aktivitas harian yang terencana untuk klien dengan control impuls yang rendah
- Melakukan terapi kelompok dan terapi kognitif dan perilaku bila diindikasikan.
4. Bantu klien untuk mengidentifikasi dan mendapatkan dukungan social
- Informasikan kepada keluarga dan saudara klien bahwa klien membutuhkan dukungan social yang adekuat
- Bersama pasien menulis daftar dukungan sosial yang di punyai termasuk jejaring sosial yang bisa di akses.
- Dorong klien untuk melakukan aktivitas social
5. Membantu klien mengembangkan mekanisme koping yang positip.
- Mendorong ekspresi marah dan bermusuhan secara asertif
- Lakukan pembatasan pada ruminations tentang percobaan bunuh diri.
- Bantu klien untuk mengetahui faktor predisposisi ‘ apa yang terjadi sebelum anda memiliki pikiran bunuh diri’
- Memfasilitasi uji stress kehidupan dan mekanisme koping
- Explorasi perilaku alternative
- Gunakan modifikasi perilaku yang sesuai





 Pemeriksaan dan penatalaksanaan
1. klinik harus menilai resiko bunuh diri pada pasien individual berdasarkan pemeriksaan klinis. Hal yang paling prediktif yang berhubungan dengan resiko bunuh diri
2. memeriksa pasien yang berusaha bunuh diri, jangan meninggalkan mereka sendirian dan keluarkan benda yang berbahaya dari ruangan
3. pasien yang baru saja melakukan usaha bunuh diri.
4. penatalaksaannya adalah sangat tergantung pada diagnosis. Pada pasien dengan gangguan depresi berat mungkin diobati sebaga pasien rawat jalan jika keluarganya dapat mengawasi mereka secara ketat dan pengobatannya dapat dimulai secar cepat.
5. ide bunuh diri pada pasien alkoholik biasanya menghilang dengan abstinensia dalam beberapa hari. Jika depresi menetap setelah tanda psikologis dari putusnya alkohol yang menghilang dengan adanya kecurigaan yang tinggi pada ganguan depresi berat
6. ide bunuh diri pada pasien skizofrenia harus ditanggapi secara serius, karena mereka cendrung menggunakan kekerasan atau metode yang kacau dengan letalitas yang tinggi
7. pasien dengan gangguan keperibadian mendapat manfaat dari konfrontasi empatik dan bantuan dengan mendapatkan pendekatan yang rasional dan bertanggung jawab.
8. hospitalisasi jangka panjang, diindikasi pada keadaan yang menyebabkan mutilasi diri.
 Psikoterapi dengan pedoman wawancara
 Mulailah dengan bertanya apakah pasien pernah merasa menyerah atau merasa mereka lebih baik meninggal. Pendekatan tersebut menyebabkan stigma yang kecil dan dapat dilakukan sebagian besar orang
 Berbicaralah mengenai apa yang sebenarnya yang difikirkan pasien dan catatlah fikirannya
 Lontarkan pertanyaan pada pasien
 Pertimbangkan usia dan kecanggihan pasien dan apakah maksud pertanyaan pasien sesuai dengan caranya.
 Apakah cara yang dipilih untuk bunuh diri tersedia pada pasien.
 Pertanyaan yang terakhir menentukan penilaian dan pengobatan karena pasien dapat menunjukkan cara untuk keluar dari dilemanya




















DAFTAR PUSTAKA

CAPTAIN, C, ( 2008). Assessing suicide risk, Nursing made incredibly easy, Volume 6(3), May/June 2008, p 46–53
Varcarolis, E M (2000). Psychiatric Nursing Clinical Guide, WB Saunder Company, Philadelphia.
Stuart, GW and Laraia (2005). Principles and practice of psychiatric nursing, 8ed. Elsevier Mosby, Philadelphia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar