Jumat, 03 Juli 2009

PENYAKIT TIFUS

Apa Itu Penyakit Tifus ?
Tifus adalah suatu penyakit infeksi bakterial akut yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi. Di Indonesia penderita tifus atau disebut juga demam tifoid cukup banyak, tersebar di mana-mana, ditemukan hampir sepanjang tahun, dan paling sering diderita oleh anak berumur 5 sampai 9 tahun. Kurangnya pemeliharaan kebersihan merupakan penyebab paling sering timbulnya penyakit tifus. Pola makan yang tidak teratur dan menyantap makanan yang kurang bersih dapat menyebabkan timbulnya penyakit ini.
BAKTERI PENYEBAB TIFUS
Salmonella adalah suatu genus bakteri enterobakteria gram-negative berbentuk tongkat yang menyebabkan tifus, paratifus, dan penyakit foodborne. Spesies-spesies Salmonella dapat bergerak bebas dan menghasilkan hidrogen sulfida. Salmonella dinamai dari Daniel Edward Salmon, ahli patologi Amerika, walaupun sebenarnya, rekannya Theobald Smith (yang terkenal akan hasilnya pada anafilaksis) yang pertama kali menemukan bakterium tahun 1885 pada tubuh babi.Bakteri tifoid ditemukan di dalam tinja dan air kemih penderita.Penyebaran bakteri ke dalam makanan atau minuman bisa terjadi akibat pencucian tangan yang kurang bersih setelah buang air besar maupun setelah berkemih.
Lalat bisa menyebarkan bakteri secara langsung dari tinja ke makanan.
Bakteri masuk ke dalam saluran pencernaan dan bisa masuk ke dalam peredaran darah. Hal ini akan diikuti oleh terjadinya peradangan pada usus halus dan usus besar. Pada kasus yang berat, yang bisa berakibat fatal, jaringan yang terkena bisa mengalami perdarahan dan perforasi (perlubangan).Sekitar 3% penderita yang terinfeksi oleh Salmonella typhi dan belum mendapatkan pengobatan, di dalam tinjanya akan ditemukan bakteri ini selama lebih dari 1 tahun.Beberapa dari pembawa bakteri ini tidak menunjukkan gejala-gejala dari demam tifoid.
GEJALA
Biasanya gejala mulai timbul secara bertahap dalam wakatu 8-14 hari setelah terinfeksi. Gejalanya bisa berupa demam, sakit kepala, nyeri sendi, sakit tenggorokan, sembelit, penurunan nafsu makan dan nyeri perut. Kadang penderita merasakan nyeri ketika berkemih dan terjadi batuk serta perdarahan dari hidung. Jika pengobatan tidak dimulai, maka suhu tubuh secara perlahan akan meningkat dalam waktu 2-3 hari, yaitu mencapai 39,4-40°Celsius selama 10-14 hari. Panas mulai turun secara bertahap pada akhir minggu ketiga dan kembali normal pada minggu keempat. Demam seringkali disertai oleh denyut jantung yang lambat dan kelelahan yang luar biasa.Pada kasus yang berat bisa terjadi delirium, stupor atau koma. Pada sekitar 10% penderita timbul sekelompok bintik-bintik kecil berwarna merah muda di dada dan perut pada minggu kedua dan berlangsung selama 2-5 hari.
KOMPLIKASI
Sebagian besar penderita mengalami penyembuhan sempurna, tetapi bisa terjadi komplikasi, terutama pada penderita yang tidak diobati atau bila pengobatannya terlambat:Banyak penderita yang mengalami perdarahan usus; sekitar 2% mengalami perdarahan hebat. Biasanya perdarahan terjadi pada minggu ketiga.Perforasi usus terjadi pada 1-2% penderita dan menyebabkan nyeri perut yang hebat karena isi usus menginfeksi ronga perut (peritonitis).Pneumonia bisa terjadi pada minggu kedua atau ketiga dan biasanya terjadi akibat infeksi pneumokokus (meskipun bakteri tifoid juga bisa menyebabka (pneumonia).Infeksi kandung kemih dan hati.Infeksi darah (bakteremia) kadang menyebabkan terjadinya infeksi tulang (osteomielitis), infeksi katup jantung (endokarditis), infeksi selaput otak (meningitis), infeksi ginjal (glomerulitis) atau infeksi saluran kemih-kelamin. Pada sekitar 10% kasus yang tidak diobati, gejala-gejala infeksi awal kembali timbul dalam waktu 2 minggu setelah demam mereda

DIAGNOSIS
Diagnosis penyakit ini ditegakkan atas dasar riwayat penyakit, gambaran klinik dan hasil pemeriksaan laboratorium (jumlah lekosit menurun dan titer Widal yang meningkat). Diagnosis pasti ditegakkan dengan ditemukannya kuman pada salah satu biakan.Pemeriksaan serologik Widal (titer Aglutinin OD) sangat membantu dalam diagnosis walaupun 30% penderita memperlihatkan titer yang tidak bermakna atau tidak meningkat. Sebaliknya, hasil uji Widal yang positif (titer Widal lebih besar dari 1/160) belum tentu menunjukkan pasien positif menderita tifus. Uji Widal baru bermanfaat bila dilakukan pemeriksaan serial tiap minggu dengan kenaikan titer sebanyak 4 kali.
PENCEGAHAN
Vaksin tifus per-oral (ditelan) memberikan perlindungan sebesar 70%. Vaksin ini hanya diberikan kepada orang-orang yang telah terpapar oleh bakteri Salmonella typhi dan orang-orang yang memiliki resiko tinggi (termasuk petugas laboratorium dan para pelancong). Para pelancong sebaiknya menghindari makan sayuran mentah dan makanan lainnya yang disajikan atau disimpan di dalam suhu ruangan. Sebaiknya mereka memilih makanan yang masih panas atau makanan yang dibekukan, minuman kaleng dan buah berkulit yang bisa dikupas.
PENGOBATAN
Dengan antibiotik yang tepat, lebih dari 99% penderita dapat disembuhkan.
Antibiotik yang banyak digunakan adalah kloramfenikol. Kadang makanan diberikan melalui infus sampai penderita dapat mencerna makanan. Jika terjadi perforasi usus, diberikan antibiotik berspektrum luas (karena berbagai jenis bakteri akan masuk ke dalam rongga perut) dan mungkin perlu dilakukan pembedahan untuk memperbaiki atau mengangkat bagian usus yang mengalami perforasi.
OBAT – OBAT TIFUS
Kloramfenikol Untuk Tifus diberikan dosis 4 kali 500 mg sehari selama 2 – 3 minggu . Untuk anak diberikan dosis 50 – 100 mg / kg BB sehari dibagi dalam beberap dosis selama 10 hari.Tiamfenikol dengan dosis 50 mg / kg BB sehari pada minggu pertama , lalu diteruskan 1-2 minggu lagi dengan dosis separuhnya. Kotrimoksazol 2 dd 3 tablet setiap hari ( 1440 mg ) sampai bebas demam , kemudian 2 dd 2 tablet selama 7 hari. Amoxsisilin 6 dd 1 g selama 2 minggu
FARMAKOLOGI OBAT
Klormfenikol diserap dengan cepat . Kadar puncak dalam darah tercapai 2 jam . Untuk anak biasanya diberikan bentuk ester kloramfenikol palmitat atau stearat yang rasanya tidak pahit . Bentuk Ester ini akan mengalami hidrolisis dalam usus dan membebaskan kloramfenikol.Masa penuh eliminasi pada orang dewasa kurang lebih 8 jam , Pada bayi berumur kurang dari 2 minggu sekitar 24 jam . Kira – kira 50 % kloramfenikol dalam darah terikat dengan albumin.Dengan demikian toksisitas obat – obat ini lebih tinggi bila diberikan bersama kloramfenikol .Amoksisilin bekerja lebih lambat, selama 5 – 6 hari, demam hilang dibandingkan rata – rata 3 hari dengan kloramfenikol. Kotrimoksazol mampu menghilangkan demam dalam 4 hari, setelah terapi, tinja tidak mengandung basil tifus, sehingga efektif juga untuk mengobati pembawa basil. Berhubung bahaya gangguan darah sebaiknya jangan digunakan selama 2 minggu.

Nama Obat dan Produsen Cloramfenikol
ALCHLOR(Pharmac), CHLORAMEX
( Dumex ), ( Parke D ), COLSANCETINE ( Sanbe ), COMBECETIN (Combi ), CHLOROMYCETIN FENICOL ( Poneo ), KEMICETIN ( Farmitalia), PARAPHENICOL ( Prafa ), PARAXIN ( Boehringer Man ), RIBOCINE
( Dexa ), ZENICHLOR ( Zenith ), CLORAMPHENICOL ( Generik ).
Bagaimana Menghindari Tifus
Beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mencegah timbulnya penyakit ini adalah biasakan makan makanan dan minuman yang sudah dimasak, lindungi makanan dari lalat, kecoa dan tikus, cuci tangan dengan sabun setelah ke WC dan sebelum makan, serta hindari jajan ditempat-tempat yang kurang bersih. Cara termudah menghindari penyakit ini adalah dengan menjaga higienitas makanan
MAKANAN YANG DIANJURKAN UNTUK PENDERITA TIFUS
Penderita tifus sebaiknya makan makanan yang lembut dan mudah dicerna, seperti bubur nasi atau bubur sumsum dengan lauk ayam, ikan, telur, daging, tahu dan tempe. Buah-buahan dan sayuran seperti pepaya, pisang, bayam, wortel dan labu siam juga baik untuk penderita tifus. Hindari makan nenas, nangka, tape, singkong dan daun singkong, kentang, dendeng, corned beef, sardines dan makanan awetan lainnya.

Rabu, 01 Juli 2009

SKRIPSI KEPERAWATAN

SKRIPSI KEPERAWATAN /KEDOKTERAN [KODE O.9]
1 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT MAHASISWA SEMESTER VIII PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNTUK MELANJUTKAN KE PROGRAM NERS DI SEKOLAH TINGGI KESEHATAN WIRA HUSADA YOGYAKARTA TAHUN 2006
2 KORELASI KOLESTEROL -HDL DENGAN INDEKS MASSA TUBUH PADA PENDERITA PENYAKIT JANTUNG KORONER DI RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
3 ANALISIS KEBUTUHAN TENAGA KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN SAMBAS PROPINSI KALIMNATAN BARAT, 05
4 HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN SIKAP REMAJA TENTANG MEROKOK DI SEKOLAH MENENGAH SENI RUPA YOGYAKARTA, 06
5 HUBUNGAN STIMULASI BERMAIN DENGAN PERKEMBANGAN ANAK USIA SEKOLAH DI TK ABA AL WAFA CEPIT, BANTUL YOGYAKARTA,06
6 HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN PRESTASI BELAJAR MURID KELAS 4, 5 DAN 6 DI SD 2 JARAKAN BANTUL YOGYKARTA, 06
7 TA: FAKTOR RISIKO PENDERITA HIPERTENSI PADA LANJUT USIA STUDI KASUS PADA PENDERITA HIPERTENSI DENGAN USIA LANJUT DI POSYANDU LANSIA DUSUN SORAGAN, BETON, PADOKAN LOR DAN MRISI, KASIHAN BANTUL, YOGYAKARTA, 05
8 TA / HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN MENARCHE DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA SISWI SMP NEGERI I KASIHAN BANTUL YOGYAKARTA 2003, 03

PANDUAN PENULISAN SKRIPSI

PANDUAN PENULISAN SKRIPSI
I. PENDAHULUAN a. Latar Belakang Permasalahanb. Rumusan Permasalahanc. Tujuan dan Kegunaan Penelitian PENJELASAN a. Latar Belakang Permasalahan 1) Latar Belakang Permasalahan merupakan penjelasan fenomena yang diamati dan menarik perhatian peneliti dan bukan merupakan alasan pemilihan judul.2) Latar Belakang Penelitian apabila memungkinkan dapat didukung oleh data penunjang, yang dapat digali dari sumber utama dan/atau sumber kedua seperti Biro Pusat Statistik, hasil penelitian terdahulu, jurnal dan internet3) Latar Belakang Penelitian memuat hasil penelitian terdahulu (dari jurnal) dengan menyebutkan sumber jurnal yang dipakai sebagai referensi.4) Apabila perusahaan (sebagai sumber utama) belum menyajikan laporan keuangan, misalnya rasio keuangan (financial ratio), maka dalam Latar Belakang Penelitian disajikan minimal 3 periode atau tahun.
b. Rumusan Permasalahan 1) Rumusan permasalahan disajikan secara singkat dalam bentuk kalimat tanya, yang isinya mencerminkan adanya permasalahan yang perlu dipecahkan atau adanya permasalahan yang perlu untuk dijawab.2) Rumusan permasalahan merupakan inti penelitian, sehingga bisa dipakai pertimbangan menyusun judul dan hipotesa
c. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1) Tujuan PenelitianTujuan penelitian merupakan sasaran yang hendak dicapai oleh peneliti sebelum melakukan penelitian dan mengacu pada permasalahan. Berikut ini beberapa contoh cara pengungkapan tujuan penelitian yang umumnya diawali dengan kalimat tujuan penelitian adalah untuk …………. atau penelitian ini bertujuan untuk …………………dan sebagainya.2) Kegunaan PenelitianKegunaan penelitian, menguraikan kontribusi yang diharapkan dari hasil penelitian itu sendiri.


2. TINJAUAN PUSTAKA a. Kerangka Teorib. Hipotesis PenelitianPENJELASANa. Kerangka Teori 1) Kerangka teori sebaiknya menggunakan acuan yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti dan acuan-acuan yang berupa hasil penelitian terdahulu (bisa disajikan di Bab II atau dibuat sub-bab tersendiri)2) Cara penulisan dari subbab ke subbab yang lain harus tetap mempunyai keterkaitan yang jelas dengan memperhatikan aturan penulisan pustaka.3) Penulisan nama pengarang dalam Endnotes atau Footnotes yang bersumber dari kepustakaan tidak perlu mencantumkan gelar akademik.4) Untuk memperoleh hasil penelitian yang baik, studi pustaka harus memenuhi prinsip kemutakhiran dan keterkaitannya dengan permasalahan yang ada. Apabila menggunakan literatur dengan beberapa edisi, maka yang digunakan adalah buku dengan edisi terbaru, jika referensi tidak terbit lagi, referensi tersebut adalah terbitan terakhir. Dan bagi yang menggunakan Jurnal sebagai referensi pembatasan tahun terbitan tidak berlaku.5) Semakin banyak sumber bacaan, semakin baik, dengan jumlah minimal 10 (sepuluh) sumber, baik dari teks book atau sumber lain misalnya jurnal, artikel dari majalah, Koran, internet dan lain-lain.6) Pedoman kerangka teori di atas berlaku untuk semua jenis penelitian.7) Dalam kerangka teori, peubah dicantumkan sebatas yang diteliti dan dapat dikutip dari dua atau lebih karya tulis/bacaan.8) Teori bukan merupakan pendapat pribadi (kecuali pendapat tersebut sudah ditulis di BUKU)9) Pada akhir kerangka teori bagi penelitian korelasional disajikan model teori, model konsep (apabila diperlukan) dan model hipotesis pada subbab tersendiri, sedangkan penelitian studi kasus cukup menyusun Model teori dan beri keterangan. Model teori dimaksud merupakan kerangka pemikiran penulis dalam penelitian yang sedang dilakukan. Kerangka itu dapat berupa kerangka dari ahli yang sudah ada, maupun kerangka yang berdasarkan teori-teori pendukung yang ada. Dari kerangka teori yang sudah disajikan dalam sebuah skema, harus dijabarkan jika dianggap perlu memberikan batasan-batasan, maka asumsi-asumsi harus dicantumkan.
b. Hipotesis PenelitianJika penelitian bersifat korelasional maka: 1) Hipotesis penelitian beraspek empiris disajikan pada akhir bab II dalam sub-sub tersendiri dengan memperhatikan teori pendukungnya, sedangkan hipotesis penelitian beraspek statistik disajikan dalam bab III.2) Apabila analisis data (akhir bab IV) direncanakan tidak untuk menganalisis data secara luas baik masalah utama (mayor) maupun bagian-bagiannya (minor) maka dalam hipotesis tidak perlu dicantumkan hipotesis mayor dan minor.3) Hipotesis harus berlandaskan teori, jika ingin mengubah harus mencantumkan alasan mengapa merubah teori tersebut.


3. METODE PENELITIAN a. Jenis Penelitianb. Peubah dan Pengukuranc. Populasi dan Sampeld. Metode Pengumpulan Datae. Metode AnalisisPENJELASAN a. Jenis PenelitianPenelitian bisa bersifat kuantitaif maupun kualitatif, misalnya: a) Historis;b) Deskriptif;c) Perkembangan;d) Kasus dan penelitian lapangan;e) Korelasional;f) Kausal komparatif;g) Eksperimen murni;h) Eksperimen semu;i) Kaji tindak.
1) Pemilihan jenis penelitian dilakukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan berikut : a) Daya tarik permasalahan;b) Kesesuaian dengan kemampuan dan latar belakang pendidikan;c) Tersedianya alat dan kondisi kerja;d) Kesesuaian dengan kemampuan untuk mengumpulkan data yang diperlukan;e) Kesesuaian dengan waktu, tenaga dan biaya;f) Resiko kegagalan.
2) Jenis penelitian dimaksud dapat dilacak dari judul, latar belakang permasalahan dan tujuan penelitian, sehingga dapat dijelaskan alasan penentuan jenis penelitian tertentu tanpa menyajikan definisi jenis penelitian itu sendiri.b. Peubah dan Pengukuran 1) “Peubah (Variable) merupakan suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya.” ( Sugiyono, 2003, 32)2) Peubah harus terukur
c. Populasi dan Sampel 1) “Populasi merupakan sekumpulan orang atau objek yang memiliki kesamaan dalam satu atau beberapa hal dan yang membentuk masalah pokok dalam suatu riset khusus. Populasi yang akan diteliti harus didefinisikan dengan jelas sebelum penelitian dilakukan.” (Santoso & Tjiptono, 2002, 79)2) “ Sampel adalah semacam miniatur (mikrokosmos) dari populasinya” (Santoso & Tjiptono, 2002, 80)
d. Metode Pengumpulan DataMetode pengumpulan data misalnya: 1) “Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dan dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun dengan menggunakan telpon.2) Kuesioner (angket) dapat dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.3) Observasi merupakan suatu proses yang komplek , suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.” (Sugiyono, 2003, 130-141)
e. Metode AnalisisMetode analisis disesuaikan dengan Rumusan Permasalahan pada Bab IJika metode analisis menggunakan regresi dengan Ordinary Least Square (OLS) Estimators, maka uji asumsi klasik harus dilakukan. Lihat buku "Ekonometrika Dasar" oleh Damodar Gujarati alih bahasa Sumarno Zain, 2000.


4. HASIL PENELITIAN DAN BAHASAN a. Penyajian DataPada subbab ini dipaparkan data yang ada relevansinya dengan topik skripsi.b. Analisis Data dan Interpretasi

5. SIMPULAN DAN SARAN a. Simpulanb. Saran PENJELASAN a. Simpulan menjelaskan butir-butir temuan (hasil penelitian dan bahasan) yang disajikan secara singkat dan jelas.b. Saran-saran merupakan himbauan kepada instansi terkait maupun peneliti berikutnya yang berdasarkan pada hasil temuan. Saran sebaiknya selaras dengan topik penelitian
Lampiran: memuat hal-hal atau informasi yang mendukung bab-bab sebelumnya, misalnya: data (hasil Questionaire, data time series), Laporan Keuangan perusahaan (Neraca, R/L dsb), informasi yang terkait dengan hasil (misal: olahan komputer, diskripsi , hasil uji validitas dan reliabilitas) dsb.

Kamis, 25 Juni 2009

GANGGUAN PSIKOSOMATIS

GANGGUAN PSIKOSOMATIK

Gangguan psikosomatik mrpk istilah yg tidak dipakai scr resmi.
Dlm PPDGJ-III, psikosomatik termasuk dalam gangguan somatoform.

Gg.somatoform adl kelompok gangguan yg memiliki gejala atau keluhan fisik (misal nyeri, mual, sakit kepala) di mana tidak ditemukan penjelasan medis yg adekuat, krn dasarnya adalah permasalahan psikologis.
Gejala / keluhan fisiknya cukup serius utk menyebabkan penderitaan emosional yg bermakna bagi pasien / menimbulkan perubahan fungsi peran.

Salah satu contoh gangguan somatoform adalah gangguan somatisasi.
Gangguan inilah yg merupakan diagnosis resmi utk gangguan psikosomatik.

Gangguan somatisasi ditandai oleh banyak gejala somatik / fisik yg tdk dpt dijelaskan secara adekuat dg px fisik & lab.
Gangguan ini:
-kronis (gejala telah ada selama bbrp tahun, onset sblm usia 30 th atau belasan)
-disertai distres psikologis bermakna & gangguan fungsi peran
-doctor shopping

Etiologi: multifaktorial:
-biologi
-genetik
-psikososial

Faktor predisposisi:
-jenis kelamin wanita
-tingkat pendidikan rendah
-sosial ekonomi kurang
-usia remaja/dewasa muda
-kepribadian cemas-menghindar, dependen, dan obsesif-kompulsif.

Diferensial diagnosis:
-gg.hipokondriasis (menderita penyakit spesifik)
-gg.konversi / histeri (gejala neurologis)
-body dysmorphic disorder (biasanya 1 keluhan bentuk / cacat tubuh)
-gg.depresi (lebih menonjol gejala depresinya)
-gg.kecemasan umum (cemas pada semua hal, tdk hanya keluhan fisik)
*Gg.somatisasi melibatkan sistem organ multipel  beragam keluhan fisik.

Terapi: sebaiknya ditangani oleh dokter tunggal shg pasien tdk berkesempatan terlalu berkeluh kesah.
Prinsip: mencari dasar permasalahan psikologis & menyadarkan pasien bahwa gangguannya adalah gangguan psikologis, bukan fisik.
Terapi utama adl psikoterapi kognitif-perilaku.
Terapi obat dpt diberikan bila terdapat gg penyerta seperti cemas atau depresi, tetapi memiliki resiko drug abuse.

Selasa, 16 Juni 2009

KONSEP BUNUH DIRI

MAKALAH PSIKATRI
tentang
BUNUH DIRI











DISUSUN OLEH:
KELAS IVB

SEKOLAH TINGGI KESEHATAN(STIKES)
MATARAM
(2009/2010)



KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia, penulis dapat menyelesaiakan makalah yang berjudul “ BUNUH DIRI”.Penyusunan makalah ini merupakan perwujudan dari kewajiban penulis sebagai mahasiswa untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Dosen, khususnya mata kuliah PSIKATRI . Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing Mata Kuliah PSIKATRI yang telah memberikan kami waktu yang cukup untuk menyelesaikan makalah ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan bantuan dan dukungan .
Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, untuk itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca sehingga dalam penulisan makalah selanjut bisa lebih baik. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca semua



Mataram,14 MEI 2009


Penulis












Pendahuluan
Bunuh diri merupakan salah satu bentuk kegawat daruratan psikiatri. Meskipun suicide adalah perilaku yang membutuhkan pengkajian yang komprehensif pada depresi, penyalahgunaan NAPZA , skizofrenia, gangguan kepribadian( paranoid, borderline, antisocial), suicide tidak bisa disamakan dengan penyakit mental. Ada 4 hal yang krusial yang perlu diperhatikan oleh perawat selaku tim kesehatan diantaranya adalah : pertama, suicide merupakan perilaku yang bisa mematikan dalam seting rawat inap di rumah sakit jiwa, Kedua,
Factor – factor yang berhubungan dengan staf antara lain : kurang adekuatnya pengkajian pasien yang dilakukan oleh perawat, komunikasi staf yang lemah, kurangnya orientasi dan training dan tidak adekuatnya informasi tentang pasien. Ketiga, pengkajian suicide seharusnya dilakukan secara kontinyu selama di rawat di rumah sakit baik saat masuk, pulang maupun setiap perubahan pengobatan atau treatmen lainnya. Keempat, hubungan saling percaya antara perawat dan pasien serta kesadaran diri perawat terhadap cues perilaku pasien yang mendukung terjadinya resiko bunuh diri adalah hal yang penting dalam menurunkan angka suicide di rumah sakit. Oleh karena itu suicide pada pasien rawat inap merupakan masalah yang perlu penanganan yang cepat dan akurat. Pada makalah ini akan dipaparkan mengenai factor resiko terjadinya bunuh diri, instrument pengkajian dan managemen keperawatannya dengan pendekatan proses keperawatanya.









BUNUH DIRI
A. Pengertian bunuh diri
Bunuh diri merupakan salah satu bentuk kegawat daruratan psikiatri. Meskipun suicide adalah perilaku yang membutuhkan pengkajian yang komprehensif pada depresi, penyalahgunaan NAPZA , skizofrenia, gangguan kepribadian( paranoid, borderline, antisocial), suicide tidak bisa disamakan dengan penyakit mental.
Ada 4 hal yang krusial yang perlu diperhatikan oleh perawat selaku tim kesehatan diantaranya adalah :
1. Suicide merupakan perilaku yang bisa mematikan dalam seting rawat inap di rumah sakit jiwa,
2. Factor – factor yang berhubungan dengan staf antara lain : kurang adekuatnya pengkajian pasien yang dilakukan oleh perawat, komunikasi staf yang lemah, kurangnya orientasi dan training dan tidak adekuatnya informasi tentang pasien.
3. Pengkajian suicide seharusnya dilakukan secara kontinyu selama di rawat di rumah sakit baik saat masuk, pulang maupun setiap perubahan pengobatan atau treatmen lainnya.
4. Hubungan saling percaya antara perawat dan pasien

B. Etiologi
1. Faktor genetic dan teori biologi
Factor genetic mempengaruhi terjadinya resiko bunuh diri pada keturunannya. Disamping itu adanya penurunan serotonin dapat menyebabkan depresi yang berkontribusi terjadinya resiko buuh diri.
2. Teori sosiologi
Emile Durkheim membagi suicide dalam 3 kategori yaitu : Egoistik (orang yang tidak terintegrasi pada kelompok social) , atruistik (Melakukan suicide untuk kebaikan masyarakat) dan anomic ( suicide karena kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain dan beradaptasi dengan stressor).
3. Teori psikologi
Sigmund Freud dan Karl Menninger meyakini bahwa bunuh diri merupakan hasil dari marah yang diarahkan pada diri sendiri.
4. Penyebab lain
a. Adanya harapan untuk reuni dan fantasy.
b. Merupakan jalan untuk mengakhiri keputusasaan dan ketidakberdayaan
c. Tangisan untuk minta bantuan
d. Sebuah tindakan untuk menyelamatkan muka dan mencari kehidupan yang lebih baik
C. Predisposisi
Penyakit jiwa merupakan faktor predisposisi terpenting terjadinya bunuh diri. WHO memperkirakan sebanyak 90% orang yang melakukan tindakan bunuh diri terjadi akibat penyakit jiwa yang tidak didiagnosa dan diobati, di samping penggunaan obat-obatan terlarang dan konsumsi alkohol. Kondisi ini merupakan masalah kesehatan utama di dunia yang mempresentasikan 1,4% dari beban masalah kesehatan dunia.
Di samping itu, masyarakat dalam hal ini tokoh agama dan pemerintah juga mempunyai peran penting dalam mencegah dan meminimalkan kasus bunuh diri dengan menanamkan nilai-nilai kesehatan jiwa sejak dini.
Preveler dkk dalam jurnal yang berjudul ‘ABC of Psychological Medicine: Depression in Medical Patients’ (2002) mengatakan, risiko bunuh diri seumur hidup akan dialami orang yang mengalami mood disorder, terutama depresi yaitu sebesar 6-15%, sedangkan schizophrenia sebesar 4-10%. Data tahun 2005 menyebutkan, di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, kejadian bunuh diri akibat depresi menempati ranking ke-11 penyebab kematian penduduk.
Depresi merupakan kondisi medis yang disebabkan karena adanya disregulasi neurotransmitter (zat penghantar dalam sistem syaraf) terutama serotonin (neurotransmitter yang mengatur perasaan) dan norepinefrin (neurotransmitter yang mengatur energi dan minat). Spektrum depresi sangat luas dengan keluhan penyakit dan manifestasi klinik yang bermacam-macam sehingga pengelolaannya harus dilakukan secara holistik.



D. Patofiologi
Luka yang terjadi karena disengaja sering terjadi dan pemeriksaannya biasanya menjadi tugas ahli patologi dan dokter ahli forensik klinik. Kejadian-kejadian ini terdiri dari : bunuh diri, percobaan bunuh diri, dan bunuh diri berencana., pada akhirnya tidak adanya makud untuk untuk membunuh, meskipun kematian mungkin terjadi karena kurang hati-hati.
Salah satu keputusan yang sulit di hadapi oleh ahli patologi dan pemeriksa medis, dan untuk bertindak yang legal, seperti juga pemeriksa sebab dari kematian, terdapat perbedaan antara bunuh diri, pembunuhan, dan perlukaan oleh diri sendiri lainnya. Meskipun ini bukan merupakan juga fungsi yang legal ahli patologi dalam ,menghubung-hubungkan motif, pengalaman mereka dan latihan juga factor-faktor yang sering sehingga mereka dapat membuat keputusan dalam pengklasifikasian kebiasaan-kebiasaan atau cara kematian serta perlukaan.
 Cidera akibat bunuh diri
Diskusi ini dibatasi dengan trauma fisik, meracuni diri sendiri, yang akan dibicarakan lebih lanjut. Bunuh diri akibat melukai diri sendiri dengan berbagai macam cara, yaitu dengan cara yang ganjil atau aneh. Ahli patologi harus selalu waspada dengan kemungkinan-kemungkinan lain selain karena bunuh diri. Pada beberapa kejadian biasanya disebabkan karena ketidaksengajaan dilakukan oleh korban. Contoh primer yaitu “Masochistic Asfiksia”, dimana kadang sering keliru dengan bunuh diri.

E. Penatalaksanaan
1. Bantu klien untuk menurunkan resiko perilaku destruktif yang diarahkan pada diri sendiri, dengan cara :
- Kaji tingkatan resiko yang di alami pasien : tinggi, sedang, rendah.
- Kaji level Long-Term Risk yang meliputi : Lifestyle/ gaya hidup, dukungan social yang tersedia, rencana tindakan yang bisa mengancam kehidupannya, koping mekanisme yang biasa digunakan.



2. Berikan lingkungan yang aman ( safety) berdasarkan tingkatan resiko , managemen untuk klien yang memiliki resiko tinggi
- Orang yang ingin suicide dalam kondisi akut seharusnya ditempatkan didekat ruang perawatan yang mudah di monitor oleh perawat.
- Mengidentifikasi dan mengamankan benda – benda yang dapat membahayakan klien misalnya : pisau, gunting, tas plastic, kabel listrik, sabuk, hanger dan barang berbahaya lainnya.
3. Membantu meningkatkan harga diri klien
- Tidak menghakimi dan empati
- Mengidentifikasi aspek positif yang dimilikinya
- Mendorong berpikir positip dan berinteraksi dengan orang lain
- Berikan jadual aktivitas harian yang terencana untuk klien dengan control impuls yang rendah
- Melakukan terapi kelompok dan terapi kognitif dan perilaku bila diindikasikan.
4. Bantu klien untuk mengidentifikasi dan mendapatkan dukungan social
- Informasikan kepada keluarga dan saudara klien bahwa klien membutuhkan dukungan social yang adekuat
- Bersama pasien menulis daftar dukungan sosial yang di punyai termasuk jejaring sosial yang bisa di akses.
- Dorong klien untuk melakukan aktivitas social
5. Membantu klien mengembangkan mekanisme koping yang positip.
- Mendorong ekspresi marah dan bermusuhan secara asertif
- Lakukan pembatasan pada ruminations tentang percobaan bunuh diri.
- Bantu klien untuk mengetahui faktor predisposisi ‘ apa yang terjadi sebelum anda memiliki pikiran bunuh diri’
- Memfasilitasi uji stress kehidupan dan mekanisme koping
- Explorasi perilaku alternative
- Gunakan modifikasi perilaku yang sesuai





 Pemeriksaan dan penatalaksanaan
1. klinik harus menilai resiko bunuh diri pada pasien individual berdasarkan pemeriksaan klinis. Hal yang paling prediktif yang berhubungan dengan resiko bunuh diri
2. memeriksa pasien yang berusaha bunuh diri, jangan meninggalkan mereka sendirian dan keluarkan benda yang berbahaya dari ruangan
3. pasien yang baru saja melakukan usaha bunuh diri.
4. penatalaksaannya adalah sangat tergantung pada diagnosis. Pada pasien dengan gangguan depresi berat mungkin diobati sebaga pasien rawat jalan jika keluarganya dapat mengawasi mereka secara ketat dan pengobatannya dapat dimulai secar cepat.
5. ide bunuh diri pada pasien alkoholik biasanya menghilang dengan abstinensia dalam beberapa hari. Jika depresi menetap setelah tanda psikologis dari putusnya alkohol yang menghilang dengan adanya kecurigaan yang tinggi pada ganguan depresi berat
6. ide bunuh diri pada pasien skizofrenia harus ditanggapi secara serius, karena mereka cendrung menggunakan kekerasan atau metode yang kacau dengan letalitas yang tinggi
7. pasien dengan gangguan keperibadian mendapat manfaat dari konfrontasi empatik dan bantuan dengan mendapatkan pendekatan yang rasional dan bertanggung jawab.
8. hospitalisasi jangka panjang, diindikasi pada keadaan yang menyebabkan mutilasi diri.
 Psikoterapi dengan pedoman wawancara
 Mulailah dengan bertanya apakah pasien pernah merasa menyerah atau merasa mereka lebih baik meninggal. Pendekatan tersebut menyebabkan stigma yang kecil dan dapat dilakukan sebagian besar orang
 Berbicaralah mengenai apa yang sebenarnya yang difikirkan pasien dan catatlah fikirannya
 Lontarkan pertanyaan pada pasien
 Pertimbangkan usia dan kecanggihan pasien dan apakah maksud pertanyaan pasien sesuai dengan caranya.
 Apakah cara yang dipilih untuk bunuh diri tersedia pada pasien.
 Pertanyaan yang terakhir menentukan penilaian dan pengobatan karena pasien dapat menunjukkan cara untuk keluar dari dilemanya




















DAFTAR PUSTAKA

CAPTAIN, C, ( 2008). Assessing suicide risk, Nursing made incredibly easy, Volume 6(3), May/June 2008, p 46–53
Varcarolis, E M (2000). Psychiatric Nursing Clinical Guide, WB Saunder Company, Philadelphia.
Stuart, GW and Laraia (2005). Principles and practice of psychiatric nursing, 8ed. Elsevier Mosby, Philadelphia

Senin, 15 Juni 2009

JUDUL SKRIPSI II

o
________________________________________
SKRIPSI/TA KEPERAWATAN [KODE 06E]
1. ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TH. 9 DENGAN KEHAMILAN RESIKO TINGGI FAKTOR GRANDEMULTIPARA DI JAMBANGAN II WILAYAH PUSKESMAS KANDANG SAPI PASURUAN (2001)
2. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG DIARE PADA ANAK BALITA DIRUANG 7 ANAK RSUD DR. SAIFUL NAWAR MALANG (2001)
3. HUB. ANTARA MOTIVASI PERAWAT DENGAN PELAKSANAAN PROSES KEPERAWATAN BERDASARKAN STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN JIWA DI RS. GRHSIA PROP DIY (2004)
4. PERBEDAAN SKALA KEHANGATAN PERAWAT PRIA DENGAN KLIEN (2002)
5. ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN BP. ”MH” DENGAN FAKTUR INTERTROKANTER SINITRA PRA DAN PASTA ORIP DI RUANG PERAWATAN ELISABETH RS. PANTI RAPIH YK (2003)
6. PENGANTARA RISET KEPERAWATAN BAGI PEMULA (2003)
7. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN NY. ”RT” DENGAN HYPERMESI GRAVIDARIUM DI RUANG PERAWATAN ELISABETH RS. PANTI RAPIH YK (2000)
8. PERAN KELUARGA EXTENDED FAMILY DALAM PENERIMAAN LANJUT USIA DI DUSUN TANGKILAN DESA SUMBER MULYA KEC. BAMBANGLIPURA KAB. ANTUL PROP. DIY TH. 2002 (2002)
9. PERAN FUNGSI DAN CITRA PERAWAT YANG DIHARAPKAN OLEH MASYARAKAT DI MASA YANG AKAN DATANG (2001)
10. TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG UPAYA MEMINIMALISASI SERANGAN STROKE PADA PASIEN HIPERTENSI DI RAWAT INAP RS. PANTI RAPIH YK (2003)
11. HUB. ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG PROSES KEPERAWATAN DENGAN PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEPERAWATAN DI RUANG RAWAT INAP RSUD PURWAREJO (2004)
12. HUB. TINGKAT PENGETAHUAN PRIMAVARA DENGAN PERILAKU PERAWATAN MASA NIFAS DI RSD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL YK TH. 2005 (2005)
13. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TN ”K” DENGAN CARSINOMA NASOFARING DI IRNA I DAHLIA IV RUANG D3 RS. DR. SARDJITO (2005)
14. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN NY/ ”W” DENGAN PENDARAHAN ANTERPARTUM ATAS INDIKASI PLASENTA PREVIA PADA MULTI GRAVIDARIUM 33 + 5 MINGGU DI RUANG MELATI RSUD SLEMAN YK (2005)
15. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TN. “RW” DENGAN GANGGUAN SISTEM PERNAFASAN BRONKITIS KRONIS DI BANGSAL MULTAZAM RSU PKU MUHAMMADIYAH YK (2000)
16. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PELAKSANAAN KOMUNIKASI TERAUPUTIK DI RUANG BERSALIN RSUD DR. DORIS SYLVANUS PALANGKARAYA (2005)
17. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN AN. “R” DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN THIROID ABDOMINALIS DI RUANG B2 UPA IRNA II RSUP DR. SARDJITO (2001)
18. STUDI KORELASI ANTARA MOTIVASI DAN TEST MASUK DENGAN PRESTASI BELAJAR ILMU KEPERAWATAN PADA SISWA KELAS II DAN II SPK PANTI RAPIH YK TH. 1993/1994 (1995)
19. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ”NY” DENGAN KERUSAKAN INTERAKSI SOSIAL MENARIK DIRI PADA SKIZOPERENTA TAK TERINCI DI RUANG P2A RSJ PUSAT GRHASIA YK (2004)
20. ANALISIS KEBUTUHAN TENAGA KEPERAWATAN DI RSUD KAB. SAMBAS PROP. KALBAR (2005)
21. KTI ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TN. ”N” DENGAN KONJUNGTIVITAS BAKTERI DI RUANG POLIKLINIK RS. OTORITA BATAM TGL. 13-26 JUNI 2004 (2004)
22. KTI STUDI DESKRIPTIF TINGKAT KECEMASAN PASIEN RAWAT JALAN DALAM MENUNGGU LAYANAN OBAT DI FARMASI RS BETHESDA YK (2005)
23. KTI ASUHAN KEPERAWATAN KESEHATAN KOMONITAS DI PEDUKUHAN WATU ADES DESA PURWOBINANGUN KEC. PAKEM KAB. SLEMAN YK (2003)
24. PENATALAKSANAAN PADA PASIEN NY. ”W” DENGAN PARTUS NORMAL DI RSUD UNGARAN SEMARANG (2005)
25. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELUARGA TN/ ”R” DENGAN SALAH SATU ANGGOTA KELUARGA MENDERITA SCIZOFENIA DI GENENG NGAWI (2002)
26. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELUARGA TN R DENGAN SALAH SATU ANGGOTA KELUARGA MENDERITA SCIZOFENIA DI GENENG NGAWI - 02
27. ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TN. ”AP” DENGAN SALAH SATU ANGGOTA KELUARGA MENDERITA EPILEPSI DI WILAYAH MUNTILAN
28. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELUARGA TN ”H” DENGAN SALAH SATU ANGGOTA KELUARGA MENDERITA ’GOUT” DI WILAYAH MUNTILAN
29. ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TN ”S” DENGAN SALAH SATU ANGGOTA KELUARGA MENDERITA DEPRESI DI KOTARJO (2002)
30. PROP KTI STUDI DESKRIPTIF TINGKAT KECEMASAN ORANG TUA YANG BAYINYA DI RAWAT DI INKOBATOR DI RUANG VIII RS. BETESDA YK (2006)
31. PROP KTI ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN L DENGAN FAKTOR ORURIS PRE DAN PAST PEMASANGAN PLAST DAN SCREVUS DI IRNA BANGSAL E2 RSUP DR. SARDJITO
32. PTOP KTI ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN X DENGAN OSTEOKORSOM YANG DILAKUKAN DIDAKAN AMPUTASI DI IRNA I RUANG Z RSUP DR. SARDJITO
33. PROP KTI HUB. TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG GIZI DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS DIRI MULYA KAB. KULON PROGO
34. PROP KTI EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN PENINGKATAN KABUPATEN PERSALINAN OLEH TENAGA KESEHATAN DI DESA WUKIR SARI KEC. CANGKRINGAN KAB. SLEMAN (2003)
35. PROP KTI ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN DIABETES MELITUS DI RS. MARGO HUSADA WONOGIRI (2005)
36. ASUHAN KEPERAWATAN NY. ”H” PADA GANGGUAN ALAM PERASAAN DEPRESI DENGAN PERILAKU MENARIK DIRI PADA SKEOLFRENIA TAK TERINCI DI KELAS PUTRI DI RSJ DI PROP. DIY (2002)
37. PENGETAHUAN REMAJA TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI DALAM HUBUNGAN DENGAN SIKAP TERHADAP HUB. SEKSUAL PRA NIKAH PADA SISWA SMU I KOTAMADYA TERNATE PRO. MALUKU UTARA (2003)
38. KTI ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN NT. “S” DENGAN KANKER PAYUDARA POST MASTECTOY DI BANGSAL A3 IRNA RSUP DR. SARDJITO (2001)
39. KTI ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN NY. ”S” DENGAN KANKER SERVIKS UTERI DI RUANG CDS INSTALASI RAWAT INAP I DI RSUD DR. SARDJITO YK (2001)
40. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN NY S DENGAN KANGKER SERVIKS UTERI DI RUANG CDS INSTALASI RAWAT INAP I RSUP DR. SARDJITO YK - 01
41. KTI ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI NT. ”T” DENGAN DIAGNOSA MEDIS SEPSIS NEONATORIUM DI IRNA BANGSAL B2 RSUP DR. SARDJITO YK (2001)
42. KTI ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN Nn. TS DENGAN GANGGUAN SISTEM PERNAPASAN ASHMA BRONCHISLE DI RUANG CI IRNA I RSUP DR. SARDJITO YK - 01
43. KTI ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN NN. “S” DENGAN KANKER PAYUDARA POST MASECTOMY DI IRNA BEDAH B2 RSUP DR. SARDJITO YK (2001)
44. KTI PENCERNAAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN AN. “A” DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN DEMAM THIPOID DI BANGSAL B2 UPA IRNA II RSUP DR. SARDJITO YK (2001)
45. KTI MUSKULOSKETELETAL DEMAM THIPOID ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TN. “X” DENGAN GANGUAN SISTEM MUSKULOSKETELETAL FRAKTUR CRURIUS 1/3 DISTAL DENGAN PEMASANGAN PLATE DAN CSREVOS DI BANGSAL E2 IRNA 1 RSUP DR. SARDJITO YK (2001)
46. KTI GASTROINTESTINAL ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN AN. “M” GANGGUAN PENCERNAAN GASTROINTESTINAL DIARE DI BANGSAL ANAK (IRNA II) RSUP DR. SARDJITO UK
47. KTI DEMAM THIPOID ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ANAK HN DENGAN DEMAM THIPOID RUANG B2 IRNA II RSUP DR. SARDJITO YK (2001)
48. KTI BRONCORNEUMA ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN AN. “W” DENGAN GANGGUAN SISTEM PERNAPASAN BRONCORNEUMA DI BANGSAL B2 IRNA II RSUP DR. SARDJITO (2001)
49. KTI MASTEKTOMI ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN NT. ”S” DENGAN PASCA MASTEKTOMI DI IRNA I BEDAH A2 RSUP DR. SARDJITO (2006)
50. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN AN. “H” DENGAN RENTINOBLASTOMA POST OP ENUKREASI DEKSTRA DI INSKA II RUANG MATAHARI (B4) RS. DR. SARDJITO UK (2005)
51. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT MAHASISWA SEMESTER VIII PROGRAM STUDI KEPERAWATAN UNTUK MELANJUTKAN PROGRAM NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INTRO HUSADA (2006)
52. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT ANGGOTA BADAN KOMUNIKASI PAGUYUBAN LANSIA WILAYAH KOTA YOGYAKARTA UNTUK MEMILIH JENIS ASURANSI UNTUK KESEHATAN DAN PENGGUNAAN FASILITAS KESEHATAN (2005)
53. ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN NORMAL PADA PASIEN NY. ”T” DI RD DKT YK (2005)
54. HUB. ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PERILAKU DALAM MENCEGAH DEKUBITAS DI RS. DR. SARDJITO (2006)
55. PROPOSAL FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PELAKSANAAN KOMUNIKASI TERAPUEUTIK YANG DILAKSANAKAN OLEH MAHASISWA PSIK FK UGM PROGRAMA TAHAP PROFESI DENGAN KLIEN DI RS. DR . SARDJITO YK - 05
56. PROPOSAL KOMUNIKASI TERAPEUTIK PENERAPAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK OLEH PERAWAT TERHADAP PASIEN YANG DIRAWAT DI RUANG INTERNEDIATE CARE IRNA RSUP DR. SARDJITO (2005)
57. PROPOSAL PENDARAHAN KEJADIAN PENDARAHAN PEMASANGAN NASOGASTRIC TUBE (NGT) PADA PASIEN ANAK DENGAN TROMBOSITOPE IA DI RUMAH SAKIT DR. SARDJITO (2005)
58. PROPOSAL NUTRISI ENTERAL GAMBARAN PEMBERIAN NUTRISI ENTERAL PADA PASIEN DEWASA DI RS. DR. SARDJITO (2005)
59. PROPOSAL KEMAMPUAN TERAPEUTIK HUB. ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN KEMAMPUAN TERAPEUTIK PADA ANAK USIA PRASEKOLAH DI INSKA RSUP DR. SARDJIJTO (2006)
60. PROPOSAL TINJAUAN PERSEPSI ORANG TUA MENGENAI KEBUTUHAN PENAWARAN SELAMA ANAK RAWAT INAP DI IRNA I RUANG 4 RSUP DR. SARDJITO
61. PROPOSAL KECENDERUNGAN BUNUH DIRI ANALISIS SKOR SISTEM KATAGORI PASIEN JIWA PADA PASIEN DENGAN KECENDERUNGAN PERILAKU BUNUH DIRI DI IRNA IV RS. DR. SARDJITO (2005)
62. KTI HUB. ANTARA PERAN SERTA KELUARGA DALAM PEARWATAN PENDERITA STROKE DI RSUP DR. SARDJITO YK (2006)
63. PROPOSAL FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN ORANG TUA DALAM PENGOBATAN KEMOTERAPI ANAK PENDERITA LEUKIMIA UMFOBLASTIK AKUT DI RSUP DR. SARDJITO YK (2006)
64. PROPOSAL GAMBARAN KEBUTUHAN PSIKO SOSIAL ORANG TUA DENGAN ANAK BALITA YANG DIRAWAT DI RUANG PKU RS. DR. SARDJITO YK (2005)
65. PROPOSAL FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KECEMASAN ANAK SEKOLAH YANG DIRAWAT DI RUANG PERAWATAN ANAK RSUP DR. SARFJITO (2006)
66. PROPOSAL GAMBARAN STATUS GIZI PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DENGAN TERAPI HEMODIALISA DAN TANPA TERAPI HEMODIALISA DI RSUP DR. SARDJITO - 06
67. PROPOSAL PERBEDAAN EFEKTIVITAS KLORAMFENIKOL SALEP KULIT 2% DI BANDING POVIDONE IODINE CAIR 0% PADA TINDAKAN DRESSING INFUS TERHADAP KEJADIAN PLEBITIS DI IRNA DR. SARDJITO (2006)
68. PROPOSAL EVALUASI POLA PENGGUNAAN ANTI INFEKSI PADA PENYAKIT PENDERITA HIV/AIDS PASIEN RAWAT INAP RS. DR. SARDJITO PERIODE JANUARI-DESEMBER 2005 (2005)
69. KTI KAJIAN PELAKSANAAN BIMBINGAN PRAKTEK KLINIK KEPERAWATAN MEDICAL BEDAH OLEH PERAWAT KEPADA MAHASISWA PROFESI PSIK KF UGM DI RSUP DR. SARDJITO (2005)
70. PROPOSAL GAMBARAN PELAKSANAAN PELAYANAN PASIEN HOME CARE RSUP DR. SARDJITO (2005)
71. PROPOSAL PENGARUH BERMAIN TERHADAP PERILAKU KOOPERATIF ANAK SELAMA MENJALANI PERAWATAN DOKTER DI RSUP DR. SARDJITO (2005)
72. PROPOSAL HUB. ANTARA PENERAPAN KEPERAWATAN ATRAUMATIK DENGAN RESPON ANAK USIA 1-3 TAHUN SELAMA DILAKUKAN PERAWATAN LUKA POST OPERASI HARI KE III DI IRNA D2 RSUP DR. SARDJITO (2005)
73. PROPOSAL EFEKTIVITAS DUKUNGAN KELUARGA DALAM ASUHAN KEPERAWATAN JIWA TERHADAP KONDISI JIWA DI RSUP DR. SARDJITO (2005)
74. PROPOSAL FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KECEMASAN PADA ANAK USIA SEKOLAH (6-12 TH) YANG DIRAWAT DI INSTALASI KESEHATAN ANAK (INSKA) RSUP DRD. SARDJITO (2006)
75. PROPOSAL PENGARUH BERMAIN TERHADAP PERILAKU SOSIALISASI ANAK SELAMA MENJALANI PERAWATAN DI RSUP DR. SARDJITO (2005)
76. PROPOSAL GAMBARAN PENATALAKSANAAN PASIEN PASCA OPERASI DENGAN ANESTASI UMUM DI RUANG PEMULIHAN INSTALASI BEDAH SENTRAL RSUP DR. SARDJITO (2005)
77. PROPOSAL MANFAAT BLADDER TRAINING PADA PASIEN DENGAN PAODER KETELER (2006)
78. KTI PROPOSAL ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HYPERMESIS GRAVIDARIUM DI RSUP DR. SARDJITO YK (2000)
79. PROPOSAL DAMPAK ASUPAN GIZI BURUK TERHADAP TERJADINYA ANEMIA PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS GONDONGKUSUMA I YK
80. PROPOSAL PERSEPSI SISWA DI SEKOLAH MUHAMMADIYAH I BANTUL TAHUN 2005/2006 TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI (2005)
81. PROPOSAL PERUBAHAN POLA MENSTRUASI PADA AKSEPTOR KB SUNTIK DI KODYA YK (2005)
82. PROPOSAL TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG VIRUS CMV DI RSUD WIROSABAN YK (2005)
83. PROPOSAL FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN 2 PADA PENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS SEWON II BANTUL YK (2005)
84. PROPOSAL HUB. TINGKAT KEPATUHAN IBU HAMIL MINUM TABLET BASI DAN KEJADIAN ANEMIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEWON II BANTUL YK 2005 (2005)
85. PROPOSAL PENGETAHUAN KESEHATAN REPRODUKSI TERHADAP PERILAKU SEKSUAL REMAJA DI SMU MUH 3 YK (2005)
86. PROPOSAL PERSEPSI MAHASISWA-MAHASISWI STIKES WIRA HUSADA TERHADAP MENSTRUASI (2005)
87. PROPOSAL PERSEPSI TERHADAP PERSALINAN DUKUNGAN SUAMI TINGKAT PENDIDIKAN DAN KECEMASAN MENGHADAPI PERSALINAN PADA IBU HAMIL DI JAJARAN BANTUL YK 2005 (2005)
89. PROPOSAL PERILAKU SEKSUAL PASCA DIAGNOSIS KANKER PAYUDARA DI RS. DR. SARDJITO (2005)
90. PROPOSAL SIKAP DAN PERILAKU IBU HAMIL PRIMIGRAVIDA DI DESA GENENG SEWON BANTUL (2005)
91. PROPOSAL PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI EKSKLUSIF DI PUSKESMAS NGEMPLAK II SLEMAN (2005)
92. PROPOSAL HUB. ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG PERAWATAN ISPA PADA BALITA DI PUSKESMAS TEMON I KAB. KULON PROGO YK (2002)
93. PROPOSAL PERILAKU PASIEN HIPERTENSI DALAM MENGONTROL TEKANAN DARAH DI RS. PKU MUHAMMADIYAH BANTUL (2005)
94. KTI PROPOSAL GAMBARAN KEMUDAHAN PENGGUNAAN FORMAT PENGKAJIAN MODAL POLA KESEHATAN FUNGSIONAL GORDON DAN MODEL ADAPTASI ROY DI RS. PK KAB. TEGAL
95. PROPOSAL FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KECEMASAN PADA IBU HAMIL PRIMIGRAVIDA DI PUSKESMAS SEWON BANTUL YK 2005 (2005)
96. PROPOSAL PERBEDAAN SKALA KEHANGATAN PRIA DENGAN PERAWAT WANITA DALAM BERKOMUNIKASI DENGAN KLIEN (2002)
97. PROPOSAL PERAN PERAWAT DALAM PENERAPAN ”DHC” PADA PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN ANAK PUSKESMAS DI WILAYAH TIRTONIRMOLO KASIHAN BANTUL (2005)
98. PROPOSAL PENYIMPANGAN SEKSUAL SEBAGAI FAKTOR KONFLIKS DALAM PERKAWINAN DI DUSUN PANGGUNG HARJO SEWON BANTUL (2005)
99. PROPOSAL HUB. TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG POLA ASUH ANAK DENGAN TINGKAT PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR ANAKA PRA SEKOLAH DI PUSKESMAS WIROSABAN II YK 2002
100. PROPOSAL HUB. PEMAPARAN KEBISINGAN DENGAN NILAI AMBANG PENDENGARAN PETUGAS LAPANGAN DI TERMINAL UMBULHARJO YK (2004)
101. PROPOSAL ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA BP ”RS” DENGAN SALAH SATU ANGGOTA KELUARGA MENDERITA HIPERTENSI DI DUSUN TINOM SIDOARUM GODEAN SLEMAN (2004)
102. PROPOSAL PENGARUH PEMBERIAN TERAPI BERMAIN TERHADAP TINGKAT KOOPERATIF SELAMA MENJALANI PERAWATAN PADA ANAK USIA PRA SEKOLAH DI BANGSAL IBNU SINA RSU PKU MUHAMMADIYAH YK (2002)
103. PROPOSAL HUB. MOTIVASI PRAKTEK KLINIK MEDIKAL BEDAH DENGAN PENCAPAIAN KOOPERASI KETERAMPILAN KLINIK PERAWATAN MEDIKAL BEDAH (2002)
104. PROPOSAL PENGARUH PADA IBU HAMIL YANG MENGIKUTI SENAM HAMIL DAN IBU HAMIL YANG TIDAK MENGIKUTI SENAM HAMIL TERHADAP PROSES PERSALINAN DI RT. 04 BENDUNG SEMIN KAB. GUNUNGKIDUL YK
105. PROPOSAL RESPON ADAPTASI TERHADAP GANGGUAN MENSTRUASI PADA MAHASISWA ILMU KEPERAWATAN STIKES WIRAHUSADA YK (2005) (2005)
106. PROPOSAL HUB. ANTARA KEPATUHAN KLIEN DIABETES MELITUS DALAM MENJALANKAN TERAPI DIET DENGAN PENGENDALIAN KADAR GULA DARAH DI POLITEKNIK PENYAKIT DALAM RS. PKU MUHAMMADIYAH YK 03 (2003)
107. PROPOSAL PENGETAHUAN IBU TENTANG GIZI PADA ANAK DI KEL SEWON BANTUL (2005)
108. PROPOSAL ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN BP. ”X” DENGAN GANGGUAN SISTEM KARDIOVASKULER ANGINA DEKTORIS DI RUANG INAP RS PANTI RAPIH YK
109. PROPOSAL ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN POST OPERASI BEDAH JANTUNG (TOF) DI IRI
110. PROPOSAL DAMPAK KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP MOTIVASI BERPRESTASI MAHASISWA STIKES WIRAHUSADA YK
111. PROPOSAL KEPUASAN PASIEN TERHADAP MUTU PELAYANAN KEPERAWATAN DI RSUD WATES KULON PROGO (2005)
112. PROPOSAL HUB. SENAM LANSIA TERHADAP TANDA DAN GEJALA PORSES DEGERATIF DI WILAYAH KAUMAN NGUPASAN GONDOMANAN YK (2005)
113. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN ORANG TUA DALAM PENGOBATAN KEMOTERAPI ANAK PENDERITA LEUKIMIA UMFOBLASTIK AKUT DI RS. SARDJITO YK (2005)
114. KTI KARAKTERISTIK IBU DENGAN KEHAMILAH EKLOPIK DI RSUP DR. SARDJITO SELAMA 5 TAHUN (2001-2005) (2006)
115. PROPOSAL HUB. TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN KETERAMPILAN PERAWAT DALAM MELAKUKAN PENGAMBILAN DARAH ARTERI DI INSTALASI RAWAT INSTENSIF RS. DR. SARDJITO YK
116. PROPOSAL ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN SDR. “H” DENGAN LIMFOMA NOHN HODOKIN DI IRNA I BANGSAL BOUGENFIL I RS. DR SARDJITO (2005)
117. PROPOSAL ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA BP ”S” DENGAN SALAH SATU ANGGOTA KELUARGA MENGALAMI TUBERKOLOSIS PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NGLIPAR I (SEMANU I)
118. PROPOSAL ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ”S” DENGAN HALUSINASI PENDENGARAN DI RUANG P2A DI RS GRASIA PROP DIY
119. PROPOSAL ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY ”SW” DENGAN PERSALINAN LETAK SUNGSANG DI KAMAR BERSALIN RSUP DR. SARDJITO YK
120. PROPOSAL PENGARUH SUPLEMEN BESI TERHADAP ANEMIA PADA REMAJA PUTRI ANEMIA DI SMUN 1 WONOSARI THUN 2000
121. PROPOSAL PENGARUH FREKUENSI SENAM NIFAS TERHADAP PERUBAHAN TINGGI FUNDUS UTERI PADA IBU POST PATUM BANGSAL SAKINAH RSU PKU MUH YK
122. PROPOSAL EFEK PROPOLIS TERHADAP GINJAL MENCIT SWIS YANG TELAH TERINFEKSI PLASMODIUM BERGHEI
123. PROPOSAL PENYELIDIKAN PENULARAN VIRUS FLU BURUNG YANG MENYEBABKAN KEMATIAN 3 WARGA TANGERANG
124. PROPOSAL PENYAKIT EPILEPSI
125. PROPOSAL HUB. ANTARA PENGETAHUAN IBU TENTANG TIRAH BARING DENGAN PERAN SERTA IBU DALAM MEMPERTAHANKAN TIRAH BARING PADA ANAK DENGAN TRAUMA KEPALA DI RUANG DAHLIA RSU DATI II BANTUL
126. PROPOSAL KORELASI ANTARA MOTIVASI MENJADI PERAWAT DENGAN KOMUNIKASI ANTARA PERAWAT DENGAN PASIEN PERAWATAN THERESIA RS. PANTI RAPIH
127. PROPOSAL ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN BISU TULI
128. PROPOSAL PROFIL PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN RAWAT JALAN DEWASA DI RSU JENDRAL AHMAD YANI KOTA METRO LAMPUNG
129. PROPOSAL TINGKAT PENGETAHUAN SISWA SMUN I PEMENGANG (14-17) TENTANG HIV/AIDS
130. PROPOSAL PERANAN PERAWAT DALAM MEMBERIKAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PRE DAN POST OPERASI KATARAK SINILIS DI BANGSAL MATA RSUD WIROSABAN YK
131. PROPOSAL ANALISIS KEADAAN GIZI BALITA TERHADAP BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SUSENAS (2005)
132. PROPOSAL PENGARUH BUKU PANDUAN MALARIA TERHADAP PENGETAHUAN SIKAP DAN PERILAKU MASYARAKAT DI DESA PAKEMBINGANGUN DENGAN DAERAH PENELITIAN SEBELUMNYA TAHUN 2003-2005
133. PROPOSAL ASUHAN KEPRAWATAN STASE KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH PADA BP. N DENGAN KASUS CKB (CIDERA KEPALA BERAT)
134. PROPOSAL HUB. ANTARA PENGETAHUAN TERHADAP SIKAP PERAWAT DALAM KOMUNIKASI KRAPIOTIK ANAK USIA PRA SEKOLAH DI BANGSAL ANAK RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL YK
135. PROPOSAL HUB. POLA KONSUMSI GANDUM PADA LANSIA YANG BERESIKO TERKENA PENYAKIT JANTUNG KORONER DI DESA CANDI MAS KOTA BUMI LAMPUNG UTARA TAHUN 2005
136. PROPOSAL PENGARUH PEMBERIAN THREAT TERHADAP PARTISIPASI WANITA DALAM PROGRAM SKRING KANTOR SERVIS DI POLIKLINIK KEBIDANAN DAN KANDUNGAN RS. DR. SARDJITO YK
137. PROPOSAL HUB. KONSUMSI ALKHOHOL DAN FOLAT TERHADAP RESIKO KETERPARAKAN KANKET PAYUDARA WANITA USIA 30-70 TAHUN DI DESA SONOSEWU RT. 04 TAHUN 2005
138. PROPOSAL ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TN. “Y” DENGAN INFARK MIOKARD AKUT DI IRJI RSUP DR. SARDJITO YK
139. PROPOSAL PENDEKATAN KOMPEHENSIP TERHADAP PERAWATAN KESEHATAN LANSIA
140. PROPOSAL ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.”SW” DENGAN PERSALINAN LETAK SUNGSANG DI KAMAR BERSALIN RSUP DR. SARDJITO YK
141. PROPOSAL HUB. ANTARA POLUSI PABRIK BATU KAPUR DENGAN TUBERCOLOSIS ANAK DESA KAGOTAN RT. 05 RW. 05 PLERET BANTUL
142. PROPOSAL INDEKS MASA TUBUH (IMT) DAN LINGKAR PERUT (Lpe) SEBAGAI PREDIKATOR KEJADIAN HIPERTENSI PADA KARYAWAN DEWASA LANJUT
143. PROPOSAL TINGKAT PENGETAHUAN IBU POST PORTUM PRIMIPARA TENTANG PERAWATAN PERINEUM DI RUANG PERAWATAN CAROLUS BOROMELUS IV RS. PANTI RAPIH YK
144. .PROPOSAL HUB. ANTARA PENERAPAN PERAWATAN ATRAUMATIK DENGAN RESPON KECEMASAN ANAK SELAMA DILAKUKAN KEPERAWATAN LUKA POST OPERASI DI IRNA I CENDANA 4 RSUP DR. SARDJITO YK
145. PROPOSAL ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN AN. ”Y” DENGAN DIAGNOSA MEDIS GASTROENTERIS SEDANG DI BANGSAL ANAK SERUNI I RSU MUNTILAN
146. PROPOSAL PERANAN MOTIVASI DALAM MENINGKATAKAN PRESTASI BELAJAR MAHASISWA STIKES WIRAHUSADA YK (2005)
147. PROPOSAL PERSEPSI IBU TERHADAP BAYI LAHIR RENDAH DI INSTALASI MATERNAL PERINATAL RSUD WONOSARI PADA TAHUN 2005 (2005)
148. PROPOSAL PENERAPAN KEPERAWATAN MODEL SELFCARE PADA PASIEN DI RUANG RAWAT INAP ELISABETH RS. PANTI RAPIH YK TH. 2001 (2001)
149. PROPOSAL PENGARUH TEHNIK RELAKSASI NAFAS DALAM TERHADAP TINGKAT NYERI PADA KLIEN DENGAN FRAKTUR DI RUANG BEDAH RS. PKU MUHAMMADIYAH YK 2002 (2002)
150. PROPOSAL FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN PERAN DAN TINGKAT KECEMASAN PADA ORANG TUA TUNGGAL DI DESA PANGGUNGHARJO SEWON BANTUL YK (2005)
151. PROPOSAL HUB. ANTARA PERAN SERTA KELUARGA DALAM PERAWATAN PENDERITA STROKE DENGAN KONSEP DIRI PENDERITA STROKE DI RSUP DR. SARDJITO
152. PROPOSAL PELAKSANAAN METODE PRIMER MODIFIKASI HUB. PROFESIONAL DAN PENDOKUMENTASIAN DI RUANG IRNA IV RS. DR. SARDJITO (2005)
153. PROPOSAL PERKEMBANGAN EMOSIONAL REMAJA AWAL DI SMPN 2 SEWON BANTUL YK (2005)
154. PROPOSAL PENGETAHUAN SIKAP DAN PRAKTIK KEBIASAAN BUANG AIR BESAR PADA KEPALA KELUARGA DI DUSUN BOLAWEN TLOGODADI MLATI SLEMAN

JUDUL-JUDUL SKIPSI KEPERAWATAN

Judul Skripsi Keperawatan

1.Pengaruh Interaktif antara pengaktif strategi kognitif dan gaya kognitif siswa terhadap perolehan belajar di bidang keperawatan klinik

2.Faktor-faktor yang mempengaruhi tindakan keperawatan pasca persalinan pada ibu di ruang rawat inap kebidanan RSAB Harapan Kita, Jakarta, 1996

3.Karakteristik perawat terhadap pelaksanaan proses keperawatan di ruang rawat inap RSUD Cibinong, Kabupaten Bogor, tahun 1997

4.Analisis fungsi rekrutmen pada manajemen sumber daya manusia bidang keperawatan di Rumah Sakit Muhammadiyah, Bandung

5.Analisis beban kerja keperawatan untuk memperkirakan kebutuhan tenaga perawat di Bagian Rawat Inap Umum Rumah Sakit Islam, Jakarta Timur

6.Pengembangan manajemen asuhan keperawatan dalam rangka persiapan akreditasi rumah sakit di Rumah Sakit Umum Daerah Serang

7.Analisis korelasi pelaksanaan kegiatan dengan ketrampilan gugus kendali mutu asuhan keperawatan di RSUP Fatmawati, Jakarta

8.Evaluasi hasil pelatihan penerapan standar asuhan keperawatan di ruang rawat inap RSUD Dr. H. Soewondo Kendal

9.Analisis pekerjaan keperawatan sebagai acuan penyusunan kompensasi : studi di instalasi rawat inap RSU Ungaran

10.Hubungan karakteristik dan tingkat pengetahuan perawat tentang komunikasi terapeutik dengan pelaksanaannya dalam