Artikel
PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA: BAGAIMANA MENYIKAPINYA? *
halalsehat.com Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Batasan usia remaja menurut WHO (World Health Organization, badan PBB untuk kesehatan dunia) adalah 12 sampai 24 tahun. Hampir semua remaja dibelahan bumi manapun, sekarang berada dalam situasi yang penuh godaan dan ujian. Perkembangan teknologi komunikasi telah menyebarkan berbagai informasi, hiburan, dan budaya. Keadaan ini tidak mungkin dibendung hanya dengan mengurung anak dirumah atau menyediakan berbagai fasilitas canggih di rumah. Karena kehidupan menuntut mereka untuk tampil luwes dan lebih bergaul dengan dunia luar. Itulah yang mendorong mereka lebih menyukai berbagai kegiatan di luar rumah seperti ke diskotik, kegiatan ekstra sekolah, berwisata, berkemah atau sekedar jalan-jalan ke maal.
Remaja Dipersimpangan jalan
Remaja merupakan bagian fase kehidupan manusia dengan karakter khasnya yang penuh gejolak. Perkembangan emosi yang belum stabil dan bekal hidup yang masih perlu dipupuk menjadikan remaja lebih rentan mengalami gejolak sosial. Diakui atau tidak, fakta telah menjelaskan keteledoran orang tua dan pendidik dalam mengarahkan dan membimbing anaknya berkontribusi meningkatkan problem-problem sosial dan kriminal.
Dampak pergaulan bebas remaja mengantarkan pada kegiatan tuna sosial di masyarakat. Beberapa penelitian menunjukkan, remaja putra maupun putri pernah berhubungan seksual. Di antara mereka yang kemudian hamil pranikah mengaku taat beribadah. Penelitian di Jakarta tahun 1984 menunjukkan 57,3 persen remaja putri yang hamil pranikah mengaku taat beribadah. Penelitian di Bali tahun 1989 menyebutkan, 50 persen wanita yang datang di suatu klinik untuk mendapatkan induksi haid berusia 15-20 tahun. Menurut Prof. Wimpie, induksi haid adalah nama lain untuk aborsi. Sebagai catatan, kejadian aborsi di Indonesia per tahun cukup tinggi yaitu 2,3 juta per tahun. “ Dan 20 persen di antaranya remaja,” kata Guru Besar FK Universitas Udayana, Bali ini.
Penelitian di Bandung tahun 1991 menunjukkan dari pelajar SMP, 10,53 persen pernah melakukan ciuman bibir, 5,6 persen melakukan ciuman dalam, dan 3,86 persen pernah berhubungan seksual. Dari aspek medis, menurut Dr. Budi Martino L., SPOG, seks bebas memiliki banyak konsekwensi misalnya, penyakit menular seksual,(PMS), selain juga infeksi, infertilitas dan kanker. Tidak heranlah makin banyak kasus kehamilan pranikah, pengguguran kandungan, dan penyakit kelamin maupun penyakit menular seksual di kalangan remaja (termasuk HIV/AIDS).
Di Denpasar sendiri, menurut guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, per November 2007, 441 wanita dari 4.041 orang dengan HIV/AIDS. Dari 441 wanita penderita HIV/AIDS ini terdiri dari pemakai narkoba suntik 33 orang, 120 pekerja seksual, 228 orang an baik. Karena keadaan wanita penderita HIV/AIDS mengalami penurunan sistem kekebelan tubuh menyebabkan 20 kasus HIV/AIDS menyerang anak dan bayi yang dilahirkannya.
Tindakan remaja yang seringkali tanpa kendali menyebabkan bertambah panjangnya problem sosial yang dialaminya. Menurut WHO, di seluruh dunia, setiap tahun diperkirakan sekitar 40-60 juta ibu yang tidak menginginkan kehamilan melakukan aborsi. Setiap tahun diperkirakan 500.000 ibu mengalami kematian oleh kehamilan dan persalinan. Sekitar 30-50 % diantaranya meninggal akibat komplikasi abortus yang tidak aman dan 90 % terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia.
Analisa Penggagas Kespro, solutifkah
Menurut penggagas kespro, masa depan dunia sangat tergantung pada kondisi sehat tidaknya organ reproduksi remaja. Kehamilan yang tidak diinginkan akan mendorong ibu untuk melakukan tindakan pengguguran (aborsi). Data WHO, setiap tahun 15 juta remaja mengalamii kehamilan dimana 60 %-nya berupaya mengakhirinya. Tetapi ketika mengambil keputusan untuk mengakhiri kehamilan di dalam lingkungan dimana pengguguran masih dilarang atau sukar didapat, akan mendorong mereka melakukan unsafe abortion. Hal ini menyebabkan komplikasi akibat aborsi tidak aman berupa perdarahan, infeksi pasca aborsi bahkan sepsis yang dapat menyebabkan kematian. Disisi lain, pengetahuan remaja tentang resiko melakukan hubungan seksual masih sangat rendah karena kurangnya informasi mengenahi seksualitas dan reproduksi. Keadaan ini menjadi alasan pentingnya membentuk wadah konsultasi remaja yang akan mengarahkan remaja untuk tidak melakukan hubungan seks atau berkata tidak kepada pasangannya, dan memberi layanan untuk pencegahan kehamilan serta kehamilan tidak diinginkan.
Gagasan kespro ini, menurut Tini Hadad (ketua Yayasan Kesehatan Perempuan) dilatarbelakangi oleh banyaknya angka kematian ibu dan bayi, juga banyaknya kasus-kasus pelanggaran hak reproduksi perempuan seperti kasus perkosaan dalam perkawinan, perjodohan, larangan aborsi, pelecehan seksual, penyiksaan, paksaan terhadap penggunaan alat-alat kontrasepsi, tidak adanya akses mudah terhadap masalah kesehatan reproduksi, dan berbagai bentuk diskriminasi yang menomorduakan kedudukan perempuan.
Gagasan kespro ini pertama kali dipopulerkan oleh International Conference On Population and Development (ICPD)/ Konferensi International Kependudukan dan Pembangunan yang berlangsung 5-13 September 1994 di Kairo. Hal ini dapat dilihat dari 4 kerangka tujuan ICPD:
1. Tujuan agar setiap kegiatan seks harus bebas dari paksaan serta berdasarkan pilihan yang dipahami dan bertanggung jawab.
2. Setiap tindakan seks harus bebas dari infeksi. Diantaranya dengan kondomisasi bagi yang aktif secara seksual dengan lebih dari satu pasangan.
3. Setiap kehamilan dan persalinan harus diinginkan.
4. Setiap kehamilan dan persalinan harus aman.
Elemen-elemen kespro di Indonesia, menurut Departemen Kesehatan tahun 1995, adalah keluarga berencana, kesehatan ibu dan anak, penanggulangan infeksi saluran reproduksi dan HIV/AIDS. Hanya saja, penerapan elemen kespro ini membawa semangat ICPD yang penuh dengan nuansa kebebasan dalam mengagungkan hak reproduksi perempuan. Misalnya, dalam elemen KB, seorang istri berhak memutuskan kapan memakai alat kontrasepsi dan menghindari kehamilan tanpa persetujuan suami. Seorang perempuan berhak untuk menggugurkan kehamilan hasil perselingkuhannya jika dia merasa tidak nyaman dengan kehamilannya. Perempuan bebas melakukan kegiatan seks berdasarkan pasangan pilihannya, baik pasangan sah atau bukan, asalkan bertanggung jawab dan paham atas resikonya.
Definisi reproduksi menurut mereka adalah keadaan yang menunjukkan kondisi kesehatan fisik, mental dan sosial yang dihubungkan dengan fungsi dan proses reproduksi. Sasaran program ini tentunya bukan hanya perempuan yang menikah tetapi remaja putri juga harus memahami konsep kespro ini. Oleh karena itu, Pendidikan seks bagi remaja menjadi program yang harus direalisasikan. Tak hanya dari orang tua, tetapi juga pendidikan di sekolah. Pengetahuan remaja tentang seks masih sangat kurang. Faktor ini ditambah dengan informasi keliru yang diperoleh dari sumber yang salah, seperti mitos seputar seks, VCD porno, situs porno di internet, dan lainnya akan membuat pemahaman dan persepsi anak tentang seks menjadi salah. Tujuan dari pendidikan seks ini adalah agar remaja menyadari bahwa pemegang kendali utama tubuh kita adalah diri kita sendiri bukan orang tua, pacar, atau teman dari berbagai paksaan yang menyangkut tubuh dan jiwa kita.
Pada faktanya, pelaksanaan pendidikan seks pada remaja justru memarakkan seks bebas itu sendiri. Bagaimana tidak, program pendidikan seksual yang komprehensif tidak hanya mencakup fakta-fakta biologis, tapi juga menyuguhkan informasi dan ketrampilan praktis kepada para pemuda mengenahi soal berkencan, hubungan seks, dan penggunaan kontrasepsi. Di Indonesia sendiri, pemerintah mengeluarkan kebijakan pendidikan kespro melalui penyuluhan dan seminar oleh BKKBN, buku saku dan dirumuskan dalam kurikulum formal maupun non formal. Dari segi muatan (materi) yang memberikan gambar dan penjelasan vulgar, provokatif (keinginan untuk mencoba), serta tidak tepat sasaran (lebih tepat untuk pasutri). Tidak aneh, jika di Amerika sendiri, remaja belum menikah yang aktif melakukan kegiatan seks dan menggunakan alat kontrasepsi lebih besar dari pada yang menikah.
Begitu juga dengan program kondomisasi, didasarkan pada 'niat suci' untuk memberantas HIV/AIDS. Di Bogor Jawa Barat, misalnya, bertepatan dengan hari AIDS se-dunia pemerintah membagi-bagikan kondom gratis. Sebanyak 282 boks kondom dibagi-bagikan secara gratis oleh Dinas Kesehatan bekerja sama dengan Global Pants serta Dinas Kesehatan dan Kebudayaan kota Bogor kepada hotel-hotel losmen serta wisma. Pemerintah juga mendirikan sejumlah ATM kondom yang disebar di beberapa daerah di kota-kota besar. Namun solusi ini justru memicu permasalahan lain yang lebih besar berupa maraknya perzinahan di kalangan remaja, prostitusi remaja, serta menjamurnya tempat hiburan dan diskotik.
Konsep Kespro Dalam Islam
Islam adalah agama yang sempurna. Islam datang sebagai pedoman yang menyelesaikan segala persoalan kehidupan manusia termasuk di dalamnya dengan masalah kesehatan. Terciptanya kondisi sehat secara fisik dan jiwa sangat terkait dengan faktor lain yaitu pandangan hidupnya. Jauh sebelum kita membicarakan apa dampak seks bebas dan bagaiaman solusinya, Islam mengajarkan konsep filosofi hidup yang benar yaitu keyakinan kuat menempatkan Alloh sebagai pencipta dan pengatur hidup manusia. Dia melengkapi hidup kita dengan seperangkat aturan yang terbaik yaitu islam. Inilah konsep hidup yang benar & harus ditanamkan pada remaja.
Pergaulan bebas adalah merupakan bentuk pelanggaran terhadap aturan Alloh yang sangat memuliakan pola hubungan dan interaksi antara laki-laki dan perempuan. Alloh menjunjung tinggi kehormatan perempuan dengan menghalalkan organ reproduksinya hanya melalui satu pintu yaitu pernikahan. Pernikahan bertujuan untuk melahirkan keturunan dan melestarikan jenis manusia (QS. Annisa [4]:1; QS an-Nahl [16]: 72 dan Islam melarang perbuatan zina. Pernikahan merupakan bentuk kontrol reproduksi perempuan bukan sebagai bentuk penjajahan atas kebebasan perempuan. Dengan menikah perempuan akan lebih dimuliakan karena kemampuannya untuk hamil, melahirkan dan memenuhi hak pengasuhan terhadap anak-anaknya. Inilah fitrah perempuan dan ketika menjalani sesuai fitrah ini akan mendatangkan ketenangan hidup dan terjaga kemuliaannya. Sebaliknya, ketika manusia melakukan pelanggaran, akan mendatangkan kemadharatan yang menghancurkan kehidupannya sendiri.
Hubungan seks di luar pernikahan menunjukkan tidak adanya rasa tanggung jawab dan memunculkan rentetan persoalan baru yang menyebabkan gangguan fisik dan psikososial manusia. Bahaya tindakan aborsi, menyebarnya penyakit menular seksual, rusaknya institusi pernikahan, serta ketidakjelasan garis keturunan. Kehidupan keluarga yang diwarnai nilai sekuleristik dan kebebasan hanya akan merusak tatanan keluarga dan melahirkan generasi yang terjauh dari sendi-sendi agama.
Islam tidak menganggap seks sebagai satu-satunya tujuan pernikahan. Namun terciptanya keturunan merupakan aspek terpenting dalam pernikahan. Kehidupan keluarga mengajarkan seseorang agar bertanggung jawab, mengasihi dan mencintai anggota keluarga, berbagi, dan saling memperhatikan. Keluarga ini yang mampu melahirkan generasi bertaqwa. Cinta yang ditimbulkan antara suami-istri akan berkembang menjadi cinta bagi keturunan yang menyebarkan rahmat bagi semesta alam.
”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Barang siapa yang mengikuti langkah syetan, maka sesungguhnya dia (syetan) menyuruh perbuatan yang keji dan mungkar. Kalau bukan karena karunia Alloh dan Rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun diantara kamu bersih dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Alloh membersihkan siapa yang dikehendaki... (An-Nuur (24):21)
Dari paparan di atas betapa bahanyanya budaya seks bebas di kalangan remaja, tidak hanya pada remaja itu sendiri tetapi juga pada lingkungan sosial masyarakat. Islam sebagai agama yang paripurna telah mengatur dengan begitu mulianya pemenuhan kebutuhan seksual manusia. Oleh karena itu sebagai orang tua atau tenaga pendidik perlu untuk mengkaji lebih lanjut cara yang benar dalam Islam dalam memberikan pendidikan seks kepada remaja, termasuk juga mengenalkan kesehatan reproduksi yang bijak dan benar sehingga siap menjadi orangtua yang mendidik generasi unggulan. Bukankah demikian.........
* Disampaikan pada Seminar Regional ”Peran Pendidik Dalam Memahamkan Remaja tentang Kesehatan Reproduksi” oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia DPD II Malang, di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Malang. (Makalah tersedia di www.halalsehat.com )
** Pemateri adalah pengelola www.halalsehat.com situs Kehalalan Produk dan Kesehatan, serta pengasuh Bunga (Bincang untuk Keluarga, Kesehatan Ibu dan Anak) Mitra 97 FM Batu, setiap hari Kamis jam 09.00 WIB.
Jumat, 04 September 2009
JUDUL SKRIPSI
1.Pengaruh Interaktif antara pengaktif strategi kognitif dan gaya kognitif siswa terhadap perolehan belajar di bidang keperawatan klinik
2.Faktor-faktor yang mempengaruhi tindakan keperawatan pasca persalinan pada ibu di ruang rawat inap kebidanan RSAB Harapan Kita, Jakarta, 1996
3.Karakteristik perawat terhadap pelaksanaan proses keperawatan di ruang rawat inap RSUD Cibinong, Kabupaten Bogor, tahun 1997
4.Analisis fungsi rekrutmen pada manajemen sumber daya manusia bidang keperawatan di Rumah Sakit Muhammadiyah, Bandung
5.Analisis beban kerja keperawatan untuk memperkirakan kebutuhan tenaga perawat di Bagian Rawat Inap Umum Rumah Sakit Islam, Jakarta Timur
6.Pengembangan manajemen asuhan keperawatan dalam rangka persiapan akreditasi rumah sakit di Rumah Sakit Umum Daerah Serang
7.Analisis korelasi pelaksanaan kegiatan dengan ketrampilan gugus kendali mutu asuhan keperawatan di RSUP Fatmawati, Jakarta
8.Evaluasi hasil pelatihan penerapan standar asuhan keperawatan di ruang rawat inap RSUD Dr. H. Soewondo Kendal
9.Analisis pekerjaan keperawatan sebagai acuan penyusunan kompensasi : studi di instalasi rawat inap RSU Ungaran
10.Hubungan karakteristik dan tingkat pengetahuan perawat tentang komunikasi terapeutik dengan pelaksanaannya dalam
2.Faktor-faktor yang mempengaruhi tindakan keperawatan pasca persalinan pada ibu di ruang rawat inap kebidanan RSAB Harapan Kita, Jakarta, 1996
3.Karakteristik perawat terhadap pelaksanaan proses keperawatan di ruang rawat inap RSUD Cibinong, Kabupaten Bogor, tahun 1997
4.Analisis fungsi rekrutmen pada manajemen sumber daya manusia bidang keperawatan di Rumah Sakit Muhammadiyah, Bandung
5.Analisis beban kerja keperawatan untuk memperkirakan kebutuhan tenaga perawat di Bagian Rawat Inap Umum Rumah Sakit Islam, Jakarta Timur
6.Pengembangan manajemen asuhan keperawatan dalam rangka persiapan akreditasi rumah sakit di Rumah Sakit Umum Daerah Serang
7.Analisis korelasi pelaksanaan kegiatan dengan ketrampilan gugus kendali mutu asuhan keperawatan di RSUP Fatmawati, Jakarta
8.Evaluasi hasil pelatihan penerapan standar asuhan keperawatan di ruang rawat inap RSUD Dr. H. Soewondo Kendal
9.Analisis pekerjaan keperawatan sebagai acuan penyusunan kompensasi : studi di instalasi rawat inap RSU Ungaran
10.Hubungan karakteristik dan tingkat pengetahuan perawat tentang komunikasi terapeutik dengan pelaksanaannya dalam
KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA
Kesehatan Reproduksi Remaja
Oleh : dr. Sri Rejeki
PUSKESMAS KEMBIRITAN KECAMATAN GENTENG
PENGERTIAN
Kesehatan reproduksi menurut WHO adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Atau Suatu keadaan dimana manusia dapat menikmati kehidupan seksualnya serta mampu menjalankan fungsi dan proses reproduksinya secara sehat dan aman.
TUMBUH KEMBANG REMAJA.
Masa remaja dibedakan dalam :
1. Masa remaja awal, 10 – 13 tahun.
2. Masa remaja tengah, 14 – 16 tahun.
3. Masa remaja akhir, 17 – 19 tahun.
Pertumbuhan fisik pada remaja perempuan :
1. Mulai menstruasi.
2. Payudara dan pantat membesar.
3. Indung telur membesar.
4. Kulit dan rambut berminyak dan tumbuh jerawat.
5. Vagina mengeluarkan cairan.
6. Mulai tumbuh bulu di ketiak dan sekitar vagina.
7. Tubuh bertambah tinggi.
Perubahan fisik yang terjadi pada remaja laki-laki :
1. Terjadi perubahan suara mejadi besar dan mantap.
2. Tumbuh bulu disekitar ketiak dan alat kelamin.
3. Tumbuh kumis.
4. Mengalami mimpi basah.
5. Tumbuh jakun.
6. Pundak dan dada bertambah besar dan bidang.
7. Penis dan buah zakar membesar.
Perubahan psikis juga terjadi baik pada remaja perempuan maupun remaja laki-laki, mengalami perubahan emosi, pikiran, perasaan, lingkungan pergaulan dan tanggung jawab, yaitu :
1. Remaja lebih senang berkumpul diluar rumah dengan kelompoknya.
2. Remaja lebih sering membantah atau melanggar aturan orang tua.
3. Remaja ingin menonjolkan diri atau bahkan menutup diri.
4. Remaja kurang mempertimbangkan maupun menjadi sangat tergantung pada kelompoknya.
Hal tersebut diatas menyebabkan remaja menjadi lebih mudah terpengaruh oleh hal-hal yang negatif dari lingkungan barunya.
MENSTRUASI ATAU HAID.
Bila menstruasi baru mulai periodenya mungkin tidak teratur dan dapat terjadi sebulan dua kali menstruasi kemudian beberapa bulan tidak menstruasi lagi. Hal ini memakan waktu kira-kira 3 tahun sampai menstruasi mempunyai pola yang teratur dan akan berjalan terus secara teratur sampai usia 50 tahun. Bila seorang wanita berhenti menstruasi disebut menopause. Siklus menstruasi meliputi :
1. Indung telur mengeluarkan telur (ovulasi) kurang lebih 14 hari sebelum menstruasi yang akan datang.
2. Telur berada dalam saluran telur, selaput lendir rahim menebal.
3. Telur berada dalam rahim, selaput lendir rahim menebal dan siap menerima hasil pembuahan.
4. Bila tidak ada pembuahan, selaput rahim akan lepas dari dinding rahim dan terjadi perdarahan. Telur akan keluar dari rahim bersama darah.
Panjang siklus menstruasi berbeda-beda setiap perempuan. Ada yang 26 hari, 28 hari, 30 hari, atau bahkan ada yang 40 hari. Lama menstruasi pada umumnya 5 hari, namun kadang-kadang ada yang lebih cepat 2 hari atau bahkan sampai 5 hari. Jumlah seluruh darah yang dikeluarkan biasanya antara 30 – 80 ml. Selama masa haid, yang perlu diperhatikan adalah kebersihan daerah kewanitaan dengan mengganti pembalut sesering mungkin.
MIMPI BASAH, BAGAIMANA BISA TERJADI ?
Ketika seseorang laki-laki memasuki masa pubertas, terjadi pematangan sperma didalam testis. Sperma yang telah diproduksi ini akan dikeluarkan melalui Vas Deferens kemudian berada dalam cairang mani yang diproduksi oleh kelenjar prostat. Air mani yang telah mengandung sperma ini akan keluar yang disebut ejakulasi. Ejakulasi yang tanpa rangsangan yang nyata disebut mimpi basah. Masturbasi adalah memberikan rangsangan pada penis dengan gerakan tangan sendiri sehingga timbul ereksi yang disusul dengan ejakulasi, atau disebut juga onani.
KEHAMILAN.
Merupakan akibat utama dari hubungan seksual. Kehamilan dapat terjadi bila dalam berhubungan seksual terjadi pertemuan antara sel telur (ovum) dengan sel sperma. Proses kehamilan dapat diilustrasikan sebagai berikut :
1. Sel telur yang keluar dari indung telur pada saat ovulasi akan masuk kedalam sel telur.
2. Sperma yang tumpah didalam saluran vagina waktu senggama akan bergerak masuk kedalam rahim dan selanjutnya ke saluran telur.
3. Di saluran telur ini, sperma akan bertemu dengan sel telur dan langsung membuahi.
Tanda-tanda kehamilan :
1. Sering mual-mual, muntah dan pusing pada saat bangun tidur (morning sickness) atau sepanjang hari.
2. Mengantuk, lemas, letih dan lesu.
3. Amenorhea (tidak mengalami haid).
4. Nafsu makan menurun, namun pada saat tertentu menghendaki makanan tertentu (nyidam).
5. Dibuktikan melalui tes laboratorium yaitu HCG Test dan USG.
6. Perubahan fisik seperti payudara membesar dan sering mengeras, daerah sekitar Aerola Mammae (sekitar puting) membesar.
Oleh : dr. Sri Rejeki
PUSKESMAS KEMBIRITAN KECAMATAN GENTENG
PENGERTIAN
Kesehatan reproduksi menurut WHO adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Atau Suatu keadaan dimana manusia dapat menikmati kehidupan seksualnya serta mampu menjalankan fungsi dan proses reproduksinya secara sehat dan aman.
TUMBUH KEMBANG REMAJA.
Masa remaja dibedakan dalam :
1. Masa remaja awal, 10 – 13 tahun.
2. Masa remaja tengah, 14 – 16 tahun.
3. Masa remaja akhir, 17 – 19 tahun.
Pertumbuhan fisik pada remaja perempuan :
1. Mulai menstruasi.
2. Payudara dan pantat membesar.
3. Indung telur membesar.
4. Kulit dan rambut berminyak dan tumbuh jerawat.
5. Vagina mengeluarkan cairan.
6. Mulai tumbuh bulu di ketiak dan sekitar vagina.
7. Tubuh bertambah tinggi.
Perubahan fisik yang terjadi pada remaja laki-laki :
1. Terjadi perubahan suara mejadi besar dan mantap.
2. Tumbuh bulu disekitar ketiak dan alat kelamin.
3. Tumbuh kumis.
4. Mengalami mimpi basah.
5. Tumbuh jakun.
6. Pundak dan dada bertambah besar dan bidang.
7. Penis dan buah zakar membesar.
Perubahan psikis juga terjadi baik pada remaja perempuan maupun remaja laki-laki, mengalami perubahan emosi, pikiran, perasaan, lingkungan pergaulan dan tanggung jawab, yaitu :
1. Remaja lebih senang berkumpul diluar rumah dengan kelompoknya.
2. Remaja lebih sering membantah atau melanggar aturan orang tua.
3. Remaja ingin menonjolkan diri atau bahkan menutup diri.
4. Remaja kurang mempertimbangkan maupun menjadi sangat tergantung pada kelompoknya.
Hal tersebut diatas menyebabkan remaja menjadi lebih mudah terpengaruh oleh hal-hal yang negatif dari lingkungan barunya.
MENSTRUASI ATAU HAID.
Bila menstruasi baru mulai periodenya mungkin tidak teratur dan dapat terjadi sebulan dua kali menstruasi kemudian beberapa bulan tidak menstruasi lagi. Hal ini memakan waktu kira-kira 3 tahun sampai menstruasi mempunyai pola yang teratur dan akan berjalan terus secara teratur sampai usia 50 tahun. Bila seorang wanita berhenti menstruasi disebut menopause. Siklus menstruasi meliputi :
1. Indung telur mengeluarkan telur (ovulasi) kurang lebih 14 hari sebelum menstruasi yang akan datang.
2. Telur berada dalam saluran telur, selaput lendir rahim menebal.
3. Telur berada dalam rahim, selaput lendir rahim menebal dan siap menerima hasil pembuahan.
4. Bila tidak ada pembuahan, selaput rahim akan lepas dari dinding rahim dan terjadi perdarahan. Telur akan keluar dari rahim bersama darah.
Panjang siklus menstruasi berbeda-beda setiap perempuan. Ada yang 26 hari, 28 hari, 30 hari, atau bahkan ada yang 40 hari. Lama menstruasi pada umumnya 5 hari, namun kadang-kadang ada yang lebih cepat 2 hari atau bahkan sampai 5 hari. Jumlah seluruh darah yang dikeluarkan biasanya antara 30 – 80 ml. Selama masa haid, yang perlu diperhatikan adalah kebersihan daerah kewanitaan dengan mengganti pembalut sesering mungkin.
MIMPI BASAH, BAGAIMANA BISA TERJADI ?
Ketika seseorang laki-laki memasuki masa pubertas, terjadi pematangan sperma didalam testis. Sperma yang telah diproduksi ini akan dikeluarkan melalui Vas Deferens kemudian berada dalam cairang mani yang diproduksi oleh kelenjar prostat. Air mani yang telah mengandung sperma ini akan keluar yang disebut ejakulasi. Ejakulasi yang tanpa rangsangan yang nyata disebut mimpi basah. Masturbasi adalah memberikan rangsangan pada penis dengan gerakan tangan sendiri sehingga timbul ereksi yang disusul dengan ejakulasi, atau disebut juga onani.
KEHAMILAN.
Merupakan akibat utama dari hubungan seksual. Kehamilan dapat terjadi bila dalam berhubungan seksual terjadi pertemuan antara sel telur (ovum) dengan sel sperma. Proses kehamilan dapat diilustrasikan sebagai berikut :
1. Sel telur yang keluar dari indung telur pada saat ovulasi akan masuk kedalam sel telur.
2. Sperma yang tumpah didalam saluran vagina waktu senggama akan bergerak masuk kedalam rahim dan selanjutnya ke saluran telur.
3. Di saluran telur ini, sperma akan bertemu dengan sel telur dan langsung membuahi.
Tanda-tanda kehamilan :
1. Sering mual-mual, muntah dan pusing pada saat bangun tidur (morning sickness) atau sepanjang hari.
2. Mengantuk, lemas, letih dan lesu.
3. Amenorhea (tidak mengalami haid).
4. Nafsu makan menurun, namun pada saat tertentu menghendaki makanan tertentu (nyidam).
5. Dibuktikan melalui tes laboratorium yaitu HCG Test dan USG.
6. Perubahan fisik seperti payudara membesar dan sering mengeras, daerah sekitar Aerola Mammae (sekitar puting) membesar.
KEPERAWATAN JIWA
keperawatan jiwa
KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT-KLIEN
A. PENDAHULUAN
Komunikasi sangat bermakna pada profesi keperawatan yang mana merupakan metode utama dalam memberikan asuhan keperawatan. Komunikasi terapeutik sebagai komunikasi professional.
B. DEFINISI KOMUNIKASI TERAPEUTIK
Komter (komunikasi terapeutik) merupakan komunikasi yang direncanakan secara sadar, tujuan dan kegiatannya difokuskan untuk menyembuhkan klien.
Komter merupakan media untuk saling memberi dan menerima antar perawat dengan klien. Komter berlangsung secara verbal dan non verbal
Dalam komter ada tujuan spesifik, batas waktu, berfokus pada klien dalam memenuhi kebutuhan klien, ditetapkan bersama, timbal balik, berorientasi pada masa sekarang, saling berbagi perasaan.
C. TUJUAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK
Tujuan komunikasi terapeutik adalah untuk perkembangan klien (Stuart dan Sundeen):
1. Kesadaran diri, penerimaan diri, penghargaan diri yang meningkat
2. Identitas diri jelas, peningkatan integritas diri
3. Membina hubungan interpersonal yang intim, interdependen, memberi dan menerima dengan kasih sayang.
4. Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk mencapai tujuan yang realistic
D. TEKNIK KOMUNIKASI TERAPEUTIK
Menurut Stuart dan Sundeen (1998), dalam menanggapi pesan yang disampaikan klien, perawat menggunakan tehnik komunikasi terapeutik.
1. LISTENING (Mendengarkan)
Definisi : menerima informasi secara aktif dan memperhatikan respon klien.
a. Sebagai dasar utama komunikasi
b. Sehingga perawat tahu perasaan klien
c. Beri waktu yang banyak untuk bicara.
d. Jadilah pendengar yang aktif
e. Sikap/nonverbal: kontak mata, tidak menyilangkan tangan/kaki, hindari gerak tubuh yang tidak perlu, anggukkan kepala, tubuh condong
f. Nilai : anda bernilai untuk saya, saya tertarik pada anda
g. Listening secara aktif dan pasif (mendengar dengan kegiatan nonverbal)
h. Misal : oo…. oo…. oo …., mhmmm…., ya saya dengan kamu….
i. Cara jadi pendengar yang efektif :
1) Fokus pada pemahaman apa yang dikatakan seseorang
2) Pelihara kontak mata
3) Melihat sekitar, sering berubah posisi menunjukkan tidak mendengarkan
4) Posisi pada level yang sama
5) Duduk bila mungkin
6) Berdiri menandakan diangapa akan pergi, tidak punya waktu cukup untuk komunikasi
7) Sikap kalem saat klien berfikir untuk menjawab, jangan bicara sebelum orang lain bicara.
8) Respon baik (verbal, nonverbal).
2. BROAD OPENING (Pertanyaan terbuka)
a. Yaitu suatu teknik untuk membuka pembicaraan
Misal : kamu memikirkan tentang apa? Bagaimana perasaanmu hari ini?
b. Memberi kesempatan untuk memilih
3. RESTATING (Mengulang)
a. Mengulang pokok pikiran yang diungkapkan klien
b. Guna : menguatkan ungkapan klien, mengindikasikan perawat mengikuti pembicaraan klien
c. Misal : kamu mengatakan bahwa ibumu meninggalkan waktu usiamu 5 tahun ?
4. CLARIFICATION (Klarifikasi)
a. Dilakukan jika perawat ragu, tidak jelas, tidak mendengar/klien malu mengemukakan informasi, informasi yang di dapat tidak lengkap/mengemukakan berpindah-pindah. Misal : dapatkah anda jelaskan kembali tentang….? Apa yang bapak maksud dengan….?
b. Perawat berusaha menjelaskan kembali kata ide yang tidak jelas dikatakan klien.
c. Guna : untuk kejelasan dan kesamaan ide, perasaan dan persepsi.
5. THEMA IDENTIFICATION (Identifikasi Tema)
Definisi : pokok yang mendasari persoalan/masalah yang sering muncul
a. Latar belakang masalah yang dialami klien yang muncul selama percakapan
b. Guna : meningkatkan pengertian dan eksplorasi masalah yang penting
c. Misal : saya lihat dari semua keterangan yang anda jelskan anda telah disakiti. Apakah ini latar belakang masalahnya?
6. SILINECE (Diam)
a. Biasanya dilakukan setelah mengajukan pertanyaan
b. Tujuan : memberi kesempatan berfikir dan memotivasi klien bicara.
c. Perlu ketrampilan dan ketepatan waktu
1) Bermanfaat saat klien harus mengambil keputusan
2) Pada klien menarik diri, diam berarti perawat menerima klien.
7. REFLECTION (Refleksi)
a. Definisi : mengembalikan kepada klien segala ide pasien, perasaan, pertanyaanya, dan isinya, agar pasien menyadari dan dapat mengambil keputusan.
b. Klien punya hak mengemukakan pendapat, membuat keputusan, memikirkan diri sendiri.
c. Refleksi:
1) Refleksi isi, memvalidasi yang didengar, klarifikasi ide yang diekspresikan klien dengan pengertian perawat
2) Refleksi perasaan, memberi respon pada perasaan klien terhadap isi pembicaraan, agar klien tahu dan menerima perasaannya.
d. Guna : Mengetahui dan menerima ide dan perasaan
Mengoreksi
Memberi keterangan yang jelas
e. Rugi :
1) Mengulang terlalu sering dan sama
2) Dapat menimbulkan marah, iritasi, frustasi
Misal :
Klien : Apakah menurut anda saya harus mengatakan pada dokter?
Perawat : Apakah menurut bapak sendiri bapak harus mengatakan pada dokter
Missal : Anda merasa tegang dan khawatir, apa ada hubungannya dengan….?
8. FOCUSING (Memfokuskan)
Membantu klien bicara sesuai topik yang dipilih, sesuai tujuan spesifik, lebih jelas, berfokus pada realitas.
Misal : wanita sering menjadi bulan-bulanan. Coba anda ceritakan perasaan anda sebagai wanita?
9. MEMBAGI PERSEPSI
a. Definsi : menanyakan pada klien untuk menguji pengertian perawat tentang yang ia fikir dan rasakan
b. Meminta pendapat klien tentang hal yang perawat rasakan dan difikirkan, sehingga perawat dapat meminta umpan balik dan memberi informasi
Misal : anda tertawa, tapi saya rasa anda marah pada saya.
10. INFORMING
a. Memberi informasi dan fakta untuk penkesh
b. Tidak dibenarkan memberi nasehat saat memberi informasi.
Misal :
Apakah saya perlu menerangkan tentang kerja obat yang bapak makan?
11. SUGESSTING (Saran)
a. Memberi alternatif ide untuk pemecahan masalah
b. Tepat digunakan pada fase kerja dan tidak pada fase awal hubungan.
12. HUMOR
a. Lawakan yang menyenangkan, diungkapkan dengan bermain-main.
b. Guna : Meningkatkan kesadaran, menyegarkan suasana, menurunkan agresi
c. Jangan sembarangan dan terkesan meremehkan, misal : berikan arti kata baru dari nervous
13. MENYATAKAN HASIL OBSERVASI
a. Perawat menguraikan kesan nonverbal klien
b. Misal : Anda kelihatan tampak tegang….
14. MERINGKAS
a. Pengulangan ide utama yang telah dikomunikasikan secara singkat
b. Tujuan : membantu mengingat topik yang telah dibahas sebelum meneruskan
c. Dapat mengulang aspek penting untuk interaksi berikutnya.
Misal : Selama 10 menit ini bapak dan saya telah membicarakannya….
15. MEMBERI PENGHARGAAN
a. Jangan malah membebani. Misal : Bapak Nampak cocok pakai baju biru
b. Yang membebani: Wah…. Bapak seperti Brad Pitt cakepnya.
16. MENGANJURKAN MENERUSKAN PEMBICARAAN
a. Memberi kesempatan klien untuk mengarahkan hampir seluruh pembicaraan.
b. Tidak terkesan mengarahkan pembicaraan
c. Misal : lanjutkan….
Dan kemudian…. Coba ceritakan hal tersebut pada saya.
E. FASE-FASE HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT-KLIEN
Proses berhubungan perawat klien dapat dibagi dalam 4 fase: Fae prainteraksi, fase perkenalan (Orientasi), Fase kerja dan fase terminasi..
1. FASE PRAINTERAKSI
Prakinteraksi dimulai sebelum kontak pertama dengan klien. Perawat mengeksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutannya, sehingga kesadaran dan kesiapan perawat untuk melakukan hubungan dengan klien dapat dipertanggungjawabkan.
Perawat yang sudah berpengalaman dapat menganalisa diri sendiri serta nilai tambah pengamannya berguna agar lebih efektif dalam memberikan asuhan keperawatan. Ia seharusnya mempunyai konsep diri yang stabil dan harga diri yang kuat, mempunyai hubungan yang konstruktif dengan orang lain, dan berpegang pada kenyataan dalam menolong klien (Stuart & Sundeen, 1987).
Pemakaian diri secara terapeutik berarti memaksimalkan pemakaian kekuatan dan meminimalkan pengaruh kelemahan diri dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien. Tugas tambahan dalam fase ini adalah mendapatkan informasi tentang klien dan menentukan kontak pertama.
Pra interaksi merupakan masa persiapan sebelum berhubungan dan berkomunikasi dengan klien. Seorang perawat perlu mengevaluasi dirinya tentang kemampuan yang dimilikinya. Jika merasa ada ketidaksiapan maka perlu membaca kembali, diskusi dengan teman. Jika sudah siap perlu membuat rencana interaksi dengan klien.
a. Evaluasi diri
Coba jawab pertanyaan berikut :
Apa pengetahuan yang saya miliki tentang keperawatan jiwa?
Apa yang akan saya ucapkan saat bertemu dengan klien?
Bagaimana saya bersikap jika klien diam, menolak, marah, inkohern?
Adakah pengalaman interaksi dengan klien yang negative/tidak menyenangkan?
Bagaimana tingkat kecemasan saya?
b. Penetapan tahapan hubungan
Yang perlu ditetapkan tahapan hubungan perawat klien :
Apakah kontrak pertama?
Apakah kontrak lanjutan?
Apa tujuan pertemuan?
Apa tindakan yang akan saya lakukan?
Bagaimana cara melakukan?
c. Rencana interaksi
Siapkan secara tertulis rencana percakapan yang akan dilakukan!
Tentukan tehnik komunikasi sesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai!
Tentukan tehnik observasiyang akan dilakukan!
Buat langkah-langkah prosedur yang akan dilakukan!
2. FASE PERKENALAN (ORIENTASI)
Fase ini dimulai dengan pertemuan dengan klien. Hal utama yang perlu dikaji adalah alasan klien minta pertolongan yang akan mempengaruhi terbinanya hubungan perawat-klien.
Dalam membina hubungan, tugas utama adalah membina rasa saling percaya, penerimaan dan pengertian, komunikasi yang terbuka dan perumusan KONTRAK dengan klien.
Elemen-elemen kontrak perlu diuraikan dengan jelas pada klien sehingga kerjasama perawat klien dapat optimal. Diharapkan klien berperan serta secara penuh dalam kontrak, namun pada kondisi tertentu, misalnya klien dengan gangguan realita, maka kontrak dilakukan sepihak dan perawat perlu mengulang kontrak jika kontrak realitas klien meningkat.
Perawat dan klien mungkin kan mengalami perasaan tak nyaman, bimbang karena memulai hubungan baru. Klien yang mempunyai pengalaman hubungan interpersonal yang menyakitkan adan sukar menerima dan terbuka pada orang asing. Klien anak memerlukan rasa aman untuk mengekspresikan perasaan tanpa dikritik atau dihukum.
Tugas perawat adalah mengeksplorasi pikiran, perasaan, perbuatan klien dan mengidentifikasi masalah, serta merumuskan tujuan bersama klien.
Elemen kontrak perawat-klien :
a. Nama individu (perawat dank lien)
b. Peran perawat dan klien
c. Tanggung jawab perawat dan klien
d. Harapan perawat dan klien
e. Tujuan hubungan
f. Tempat pertemuan
g. Waktu pertemuan
h. Situasi terminasi
i. Kerahasiaan
Hal-hal yang perlu dilakukan pada fase perkenalan :
Perkenalan dilakukan pada pertemuan pertama
a. Memberi salam
Selamat pagi / siang / sore / malam atau sesuai latar belakang sosial budaya yang disertai dengan mengulurkan tangan untuk jabat tangan.
b. Memperkenalkan diri perawat
“Nama saya Wahyu Purwaningsih, saya senang dipanggil Wahyu.”
c. Menanyakan nama pasien
“Nama bapak/ibu/saudara siapa, apa panggilan kesayangannya?”
d. Menyepakati pertemuan/kontrak
“Bagaimana kalau kita bercakap-cakap.”
“Dimana kita duduk”
Bagaimana kalau kita duduk disana (sebutkan tempatnya)
Jika dirumah sakit langsung katakana silahkan duduk
Jika dikamar pasien, langsung duduk disamping pasien.
e. Menhadapi kontrak
“saya perawat yang bekerja di……, saya akan merawat anda (sebutkan nama pasien) selama 8 hari.”
“dimuai saai ini S/D………, saya datang jam 07.00 dan pulang jam 14.00.”
“Saya akan membantu anda (sebutkan nama pasien) untuk menyelesaikan masalah yang anda (sebutkan nama pasien) hadapi.”
“kita bersama-sama menghadapi masalah yang anda (sebutkan nama pasien)”
f. Memulai percakapan awal
Fokus percakapan adalah pengkajian keluhan utama atau alasan masuk rumah sakit. Kemudian dilanjutkan dengan hal-hal yang terkait dengan keluhan utama. Jika mungkin melengkapi format pengkajian proses keperawatan.
Contoh komunikasi menkaji keluhan utama
“Apa yang terjadi dirumah sehingga anda (sebutkan nama pasien) dibawa kemari?”
“Apa yang anda (sebutkan nama pasien) sampai datang kemari?”
“Apa masalah yang anda rasakan (sebutkan nama pasien) rasakan?”
Jika klien menjawab lanjutkan eksplorasi sesuai dengan format pengkajian terutama terkait dengan keluhan utama.
Jika tidak menjawab “Saya tidak dapat membantu anda (sebutkan nama pasien) jika anda (sebutkan nama pasien) tidak mau menceritakan masalah yang anda (sebutkan nama pasien) hadapi.
Tampaknya anda (sebutkan nama pasien) belum mau cerita kita duduk bersama saja ya.” (10 menit).
g. Menyepakati masalah klien
Setelah pengkajian jika mungkin pada akhir wawancara sepakati masalah :
“Dari percakapan kita tadi tampaknya anda (sebutkan nama pasien) ……., (sesuaikan dengan kesimpulan masalah), “Misal : Tampaknya anda (sebutkan nama pasien) sungkan berhubungan dengan orang lain, sering marah tak terkendali dirumah.
h. Mengakhiri perkenalan
Terminasi sementara (lihat pada fase terminasi sementara)
Hal-hal yang dilakukan pada fase orientasi :
Orientasi dilakukan pada pertemuan kedua dan seterusnya.
a. Memberi salam
Sama pada perkenalan
b. Memvalidasi keadaan klien
“Bagaimana perasaan anda (sebutkan nama pasien) hari ini?”
“Coba ceritakan perasaannya hari ini?”
c. Mengingatkan kontrak
“Sesuai dengan janji kita kemarin kita akan bertemu lagi jam (sebutkan sesuai janji).
Jika klien ingat janjinya berikan pujian.
“Baiklah sekarang kita akan bicara tentang sesuai dengan hal telah disepakati. Masalah klien (cara berkenalan dengan orang lain, mengungkapkan marah, kebersihan diri, dll)
3. FASE KERJA
Pada fase kerja, perwat dan klien mengeksplorasi stressor yang tepat dan mendorong perkembangan kesadaran diri dengan menghubungkan persepsi, pikiran, perasaan dan perbuatan klien. Perawat membantu klien mengatasi kecemasan, meningkatkan kemandirian dan tanggung jawab diri sendiri dan mengembangkan mekanisme koping yang konstruktif. Perubahan perilaku maladaftif menjadi adaftif merupakan fokus fase ini.
Contoh :
“Apa yang menyebabkan ibu marah?”
Bagaimana ibu mengatasi perasaan tersebut?”
“Saya bantu ibu untuk mengatasi marah.”
4. FASE TERMINASI
Terminasi adalah fase yang amat sulit dan penting dari hubungan terapeutik. Rasa percaya dan hubungan akrab sudah terbina dan berada pada tingkat oprimal.
Keduanya, perawat dan klien akan merasakan kehilangan. Terminasi dapat terjadi pada saat perawat mengakhiri tugas pada unit tertentu atau klien pulang.
Apapun alasan terminasi, tugas perawat pada fase ini adalah menghadapi realitas perpisahan yang dapat diingkari. Klien dan perawat bersama-sama meninjau kembali proses perawatan yang telah dilalui dan pencapaian tujuan. Perasaan marah, sedih dan penolakan perlu dieksplorasidan diekspresikan.
Fase terminasi harus diatasi dengan memakai konsep proses kehilangan. Proses terminasi yang sehat akan memberikan pengalaman positif dalam membantu klien mengembangkan koping untuk perpisahan. Reaksi klien dalam menhadapi terminasi dapat bermacam cara. Klien mungkin mengingkari manfaat hubungan. Klien dapat mengekspresikan perasaan marah dan permusuhannya dengan tidak menghadiri pertemuan atau bicara dangkal.
Terminasi yang mendadak dan tanpa persiapan mungkin dipersepsikan klien sebagai penolakan. Atau perilaku klien kembali pada perilaku sebelumnya, dengan harapan perawat tidak akan mengakhiri hubungan karena klien masih memerlukan bantuan.
a. Terminasi sementara
Terminasi sementara adalah setiap akhir dari pertemuan perawat klien. Sehingga perawat masih akan bertemu lagi dengan klien.
Isi percakapan :
1) Evaluasi
“Coba ibu sebutkan hal-hal yang sudah kita bicarakan.”
2) Tindak lanjut
“Bagaimana kalau ibu lakukan diruangan?”
3) Kontrak yang akan datang
“Kapan kita bertemu lagi?”
Apa yang akan kita bicarakan?”
b. Terminasi akhir
c. Evaluaasi akhir terjadi jika pasien akan pulang atau mahasiswa yang selesai praktek dirumah sakit.
d. Isi percakapan :
1) Evaluasi
“Coba ibu sebutkan kemampuan yang sudah didapat selama dirawat disini?”
2) Tindak lanjut
“Apa rencana yang akan ibu lakukan dirumah?”
3) Kontrak yang akan dating
“Bagaimana perasaan ibu berpisah dengan saya / meninggalkan rumah sakit?”
4) Hal yang sama dengan 1,2,3 dilakukan pada keluarga.
Terminasi 1. Eksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutan sendiri
2. Analisa kekuatan kelemahan professional
3. Dapatkan data tentang klien jika mungkin
4. Rencanakan pertemuan pertama.
1. Tentukan alasan masuk klien minta pertolongan
2. Bina rasa saling percaya (trust), penerimaan dan
3. Komunikasi terbuka
4. Rumuskan kontrak pertama
5. Eksplorasi pikiran, perasaan dan perbuatan klien
6. Identifikasi masalah klien
7. Rumuskan tujuan bersama klien
1. Eksplorasi stressor yang tepat
2. Dorong perkembangan kesadaran diri klien & pemakaian mekanisme koping konstruktif
3. Atasi penolakan perilaku adaftif.
1. Ciptakan realitas perpisahan
2. Bicarakan proses terapi dan pencapaian tujuan
3. Saling mengeksplorasi perasaan penolakan&kehilangan, sedih, marah dam perilaku lain.
4. Rencana tindak lanjut (untuk terminasi sementara)
G. ANALISA DIRI
Agar seorang perawat mampu berkomunikasi terapeutik dan mejadi perawat yang terapeutik maka sebelum melakukan interaksi dengan pasien harus melakukan ANALISA DIRI, agar dapat menggunakan diri secara terapeutik, dan dengan menggunakan teknik komunikasi yang baik sehingga mampu mengubah perilaku dan emosi klien yang maladaftif.
Analisa diri meliputi :
1. KESADARAN DIRI SIAPA SAYA ? Perawat harus dapat mengkaji perasaan, reaksi, perilaku secara pribadi atau sebagai pemberi perawatan, sehingga bisa menerima perbedaan dan keunikan klien.
JOHARI WINDOW menggambarkan tentang perilaku, pikiran, perasaan seseorang.
Kuadran I
Diketahui diri & orang lain Kuadran II
Hanya diketahui orang
Kuadran III
Hanya diketahui oleh diri
(Rahasia) Kuadran IV
Tidak diketahui oleh siapapun
Prinsip :
a. Perubahan satu kuadran mempengaruhi kuadran lain.
b. Kuadran satu paling kecil : komunikasi buruk/kesadaran diri kurang.
c. Kuadran I paling besar : Kesadaran diri tinggi/komunikasi baik.
CARA MENINGKATKAN KESADARAN DIRI
a. Mempelajari diri sendiri
Melalui eksplorasi diri tentang fikiran, perasaan, perilaku, termasuk pengalaman yang menyenangkan, hubungan interpersonal dan kebutuhan pribadi.
b. Belajar dengan orang lain
Kesediaan dan keterbukaan menerima umpan balik orang lain akan meningkatkan pengetahuan tentang diri. Aspek negatif akan memberi kesadaran individu untuk memperbaikinya.
c. Membuka diri
Pribadi yang sehat berarti memiliki keterbukaan, maka perlu adanya sahabat yang dapat dipercaya sebagai tempat bercerita/curhat.
2. KLARIFIKASI NILAI
Perawat sebaiknya mempunyai sumber kepuasan dan rasa aman yang cukup, sehingga tidak menggunakan klien untuk kepuasan dam keamanannya.
Jika ada konflik, ketidakpuasan dapat disadari dan diklarifikasi agar tidak mempengaruhi hubungan komter.
Perawat sadar sistem nilai yang dimiliki, misal : keyakinan, sehingga siap mengidentifikasi situasi yang bertentangan dengan sistem nilai yang dimiliki.
3. EKSPLORASI PERASAAN
Terbuka, sadar terhadap persaannya, dan mengontrolnya sehingga bisa membawa diri secara terapeutik, sehingga tahu bagaimana berespon dan bersikap dengan klien.
4. KEMAMPUAN JADI MODEL
Kemampuan untuk jadi suri tauladan.
a) Perawat yang bermasalah, misalnya ketergantungan obat, gangguan interpersonal, dan lain-lain akan mempengaruhi hubungan dengan klien. Jadi perawat haruslah bergaya hidup sehat.
b) Dalam keperawatan jiwa, perawat tidak mungkin memisahkan hubungan professional dengan kehidupan pribadi, karena perawat menggunakan dirinya untuk menolong klien.
c) Perawat efektif bila mampu memenuhi dan memuaskan kehidupan pribadi tidak didominasi konflik, stress, mampu beradaptasi sehat.
5. BERTANGGUNG JAWAB
Perawat bertanggung jawab terhadap tindakannya, sadar akan kelebihan dan kekurangannya.
Dalam berinteraksi dengan klien seorang perawat harus mampu menghadirkan diri secara fisik dan psikoilogis dihadapan klien. Dalam usaha menghadirkan diri secara fisik seorang perawat perlu memahami SIKAP PERAWAT DALAM KOMTER. Sedangkan untuk menghadirkan diri secara psikologis dengan cara memahami DIMENSI RESPON dan DIMENSI TINDAKAN/AKSI.
H. SIKAP PERAWAT DALAM KOMUNIKASI TERAPEUTIK
a. Perawat hadir secara utuh (fisik dan psikologis) tidak hanya cukup dengan tahu tehnik komunikasi terapeutik dan isi komunikasi tapi penting juga “Sikap dan penampilan”.
b. Cara menghadirkan diri secara fisik :
1) Berhadapan, artinya saya siap untuk anda
2) Pertahankan kontak mata pada level yang sama, artinya menghargai klien dan tetap ingin berkomunikasi.
3) Membungkuk ke arah klien, artinya menunjukkan keinginan untuk mengatakan/mendengarkan sesuatu.
4) Mempertahankan sikap terbuka (tidak melipat tangan/kaki) menunjukkan keterbukaan untuk berkomunikasi
5) Tetap rileks
6) Dapat mengontrol keseimbangan antar ketegangan dan relaksasi dalam berespon pada klien.
Kehadiran secara psikologis dapat dibagi dalam 2 dimensi :
1. Dimensi respon perawat
2. Dimensi tindakan perawat.
I. DIMENSI RESPON
a. KEIKHLASAN/KESEJATIAN
Pernyataan melalui keterbukaan, kejujuran, ketulusan, tidak berpura-pura, mengekspresikan perasaan yang sebenarnya.
b. MENGHARGAI
Menerima klien apa adanya, tidak menghakimi, tidak mengkritik, tidak mengejek, tidak menghina.
Misal : duduk diam saat klien menangis, minta maaf atas hal yang tidak disukai klien, menerima permintaan klien untuk tidak bertanya pengalaman tertentu.
c. EMPATI
Empati adalah kemampuan masuk dalam kehidupan klien agar dapat merasakan pikiran dan perasaan tanpa kita terlarut didalamnya. Lalu mengidentifiasi masalah klien dan membantunya. Empati dapat secara verbal/nonverbal.
Misal : memperkenalkan diri, sikap membungkuk pada klien, respon kekuatan dan sumber daya klien, tunjukkan minat, ekspresi hangat.
d. KONKRIT
Terminologi spesifik, bukan abstrak agar tidak muncul keragu-raguan/tidak jelas.
Guna :
1) Mempertahankan respon perawat terhadap perasaan klien.
2) Memberi penjelasan akurat oleh perawat
3) Mendorong klien memikirkan masalah spesifik.
J. DIMENSI TINDAKAN/AKSI
Dimensi tindakan tidak dapat dipisahkan dengan dimensi respon. Tindakan dilaksanakan dalam konteks kehangatan dan pengertian.
Dimensi respon membawa klien pada tingkat penilikan diri tinggi dilanjutkan dengan dimensi tindakan.
a. KONFRONTASI
Merupakan ekspresi perasaan perawat tentang perilaku klien yang tidak sesuai.
Tiga kategori konfrontasi :
1) Ketidaksesuaian konsep diri klien (ekspresi klien tentang dirinya) dan ideal dirinya.
2) Ketidaksesuaian antara ekspresi nonverbal dan perilaku klien.
3) Ketidaksesuaian antara pengalaman klien dengan perawat.
Guna konfrontasi adalah untuk meningkatkan kesadaran klien akan kesesuaian perasaan, sikap, perilaku. Konfrontasi dilakukan secara asertif bukan dengan marah atau agresif.
Sebelum melakukannya pada klien kaji tingkat “TRUST atau percaya”, tepat waktu, tingkat kecemasan klien, kekuatan koping.
Konfrontasi diperlukan pada klien dengan kesadaran diri baik tapi perilaku klien belum berubah.
b. KESEGARAN
Berfokus pada saat ini, sensitive terhadap perasaan klien dan keinginan membantu segera.
c. KETERBUKAAN
Perawat memberi info tentang diri, idealnya, perasaannya, sikap dan nilainya.
Pengalaman diri untuk terapi klien dengan tukar pengalaman ini diharapkan kerjasama dan sokongan.
d. EMOTINAL CATHARSIS
1) Meminta klien bicara tentang hal yang mengganggu dirinya (Perasaanya, ketakutan, pengalaman)
2) Kaji kesiapan klien untuk bicara, bantu ekspresi perasaan klien
3) Suasana diterima dan aman klien akan memperluas kesadaran dan penerimaan diri.
e. BERMAIN PERAN
Bermain peran adalah melakukan peran pada situasi tertentu, untuk meningkatkan kesadaran diri dalam berhubungan dan kemampuan melihat situasi dari pengalaman orang lain.
Klien bebas berperilaku baru pada lingkungan aman.
Diposkan oleh Komunitas Nurse Cideres di 09:54
KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT-KLIEN
A. PENDAHULUAN
Komunikasi sangat bermakna pada profesi keperawatan yang mana merupakan metode utama dalam memberikan asuhan keperawatan. Komunikasi terapeutik sebagai komunikasi professional.
B. DEFINISI KOMUNIKASI TERAPEUTIK
Komter (komunikasi terapeutik) merupakan komunikasi yang direncanakan secara sadar, tujuan dan kegiatannya difokuskan untuk menyembuhkan klien.
Komter merupakan media untuk saling memberi dan menerima antar perawat dengan klien. Komter berlangsung secara verbal dan non verbal
Dalam komter ada tujuan spesifik, batas waktu, berfokus pada klien dalam memenuhi kebutuhan klien, ditetapkan bersama, timbal balik, berorientasi pada masa sekarang, saling berbagi perasaan.
C. TUJUAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK
Tujuan komunikasi terapeutik adalah untuk perkembangan klien (Stuart dan Sundeen):
1. Kesadaran diri, penerimaan diri, penghargaan diri yang meningkat
2. Identitas diri jelas, peningkatan integritas diri
3. Membina hubungan interpersonal yang intim, interdependen, memberi dan menerima dengan kasih sayang.
4. Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk mencapai tujuan yang realistic
D. TEKNIK KOMUNIKASI TERAPEUTIK
Menurut Stuart dan Sundeen (1998), dalam menanggapi pesan yang disampaikan klien, perawat menggunakan tehnik komunikasi terapeutik.
1. LISTENING (Mendengarkan)
Definisi : menerima informasi secara aktif dan memperhatikan respon klien.
a. Sebagai dasar utama komunikasi
b. Sehingga perawat tahu perasaan klien
c. Beri waktu yang banyak untuk bicara.
d. Jadilah pendengar yang aktif
e. Sikap/nonverbal: kontak mata, tidak menyilangkan tangan/kaki, hindari gerak tubuh yang tidak perlu, anggukkan kepala, tubuh condong
f. Nilai : anda bernilai untuk saya, saya tertarik pada anda
g. Listening secara aktif dan pasif (mendengar dengan kegiatan nonverbal)
h. Misal : oo…. oo…. oo …., mhmmm…., ya saya dengan kamu….
i. Cara jadi pendengar yang efektif :
1) Fokus pada pemahaman apa yang dikatakan seseorang
2) Pelihara kontak mata
3) Melihat sekitar, sering berubah posisi menunjukkan tidak mendengarkan
4) Posisi pada level yang sama
5) Duduk bila mungkin
6) Berdiri menandakan diangapa akan pergi, tidak punya waktu cukup untuk komunikasi
7) Sikap kalem saat klien berfikir untuk menjawab, jangan bicara sebelum orang lain bicara.
8) Respon baik (verbal, nonverbal).
2. BROAD OPENING (Pertanyaan terbuka)
a. Yaitu suatu teknik untuk membuka pembicaraan
Misal : kamu memikirkan tentang apa? Bagaimana perasaanmu hari ini?
b. Memberi kesempatan untuk memilih
3. RESTATING (Mengulang)
a. Mengulang pokok pikiran yang diungkapkan klien
b. Guna : menguatkan ungkapan klien, mengindikasikan perawat mengikuti pembicaraan klien
c. Misal : kamu mengatakan bahwa ibumu meninggalkan waktu usiamu 5 tahun ?
4. CLARIFICATION (Klarifikasi)
a. Dilakukan jika perawat ragu, tidak jelas, tidak mendengar/klien malu mengemukakan informasi, informasi yang di dapat tidak lengkap/mengemukakan berpindah-pindah. Misal : dapatkah anda jelaskan kembali tentang….? Apa yang bapak maksud dengan….?
b. Perawat berusaha menjelaskan kembali kata ide yang tidak jelas dikatakan klien.
c. Guna : untuk kejelasan dan kesamaan ide, perasaan dan persepsi.
5. THEMA IDENTIFICATION (Identifikasi Tema)
Definisi : pokok yang mendasari persoalan/masalah yang sering muncul
a. Latar belakang masalah yang dialami klien yang muncul selama percakapan
b. Guna : meningkatkan pengertian dan eksplorasi masalah yang penting
c. Misal : saya lihat dari semua keterangan yang anda jelskan anda telah disakiti. Apakah ini latar belakang masalahnya?
6. SILINECE (Diam)
a. Biasanya dilakukan setelah mengajukan pertanyaan
b. Tujuan : memberi kesempatan berfikir dan memotivasi klien bicara.
c. Perlu ketrampilan dan ketepatan waktu
1) Bermanfaat saat klien harus mengambil keputusan
2) Pada klien menarik diri, diam berarti perawat menerima klien.
7. REFLECTION (Refleksi)
a. Definisi : mengembalikan kepada klien segala ide pasien, perasaan, pertanyaanya, dan isinya, agar pasien menyadari dan dapat mengambil keputusan.
b. Klien punya hak mengemukakan pendapat, membuat keputusan, memikirkan diri sendiri.
c. Refleksi:
1) Refleksi isi, memvalidasi yang didengar, klarifikasi ide yang diekspresikan klien dengan pengertian perawat
2) Refleksi perasaan, memberi respon pada perasaan klien terhadap isi pembicaraan, agar klien tahu dan menerima perasaannya.
d. Guna : Mengetahui dan menerima ide dan perasaan
Mengoreksi
Memberi keterangan yang jelas
e. Rugi :
1) Mengulang terlalu sering dan sama
2) Dapat menimbulkan marah, iritasi, frustasi
Misal :
Klien : Apakah menurut anda saya harus mengatakan pada dokter?
Perawat : Apakah menurut bapak sendiri bapak harus mengatakan pada dokter
Missal : Anda merasa tegang dan khawatir, apa ada hubungannya dengan….?
8. FOCUSING (Memfokuskan)
Membantu klien bicara sesuai topik yang dipilih, sesuai tujuan spesifik, lebih jelas, berfokus pada realitas.
Misal : wanita sering menjadi bulan-bulanan. Coba anda ceritakan perasaan anda sebagai wanita?
9. MEMBAGI PERSEPSI
a. Definsi : menanyakan pada klien untuk menguji pengertian perawat tentang yang ia fikir dan rasakan
b. Meminta pendapat klien tentang hal yang perawat rasakan dan difikirkan, sehingga perawat dapat meminta umpan balik dan memberi informasi
Misal : anda tertawa, tapi saya rasa anda marah pada saya.
10. INFORMING
a. Memberi informasi dan fakta untuk penkesh
b. Tidak dibenarkan memberi nasehat saat memberi informasi.
Misal :
Apakah saya perlu menerangkan tentang kerja obat yang bapak makan?
11. SUGESSTING (Saran)
a. Memberi alternatif ide untuk pemecahan masalah
b. Tepat digunakan pada fase kerja dan tidak pada fase awal hubungan.
12. HUMOR
a. Lawakan yang menyenangkan, diungkapkan dengan bermain-main.
b. Guna : Meningkatkan kesadaran, menyegarkan suasana, menurunkan agresi
c. Jangan sembarangan dan terkesan meremehkan, misal : berikan arti kata baru dari nervous
13. MENYATAKAN HASIL OBSERVASI
a. Perawat menguraikan kesan nonverbal klien
b. Misal : Anda kelihatan tampak tegang….
14. MERINGKAS
a. Pengulangan ide utama yang telah dikomunikasikan secara singkat
b. Tujuan : membantu mengingat topik yang telah dibahas sebelum meneruskan
c. Dapat mengulang aspek penting untuk interaksi berikutnya.
Misal : Selama 10 menit ini bapak dan saya telah membicarakannya….
15. MEMBERI PENGHARGAAN
a. Jangan malah membebani. Misal : Bapak Nampak cocok pakai baju biru
b. Yang membebani: Wah…. Bapak seperti Brad Pitt cakepnya.
16. MENGANJURKAN MENERUSKAN PEMBICARAAN
a. Memberi kesempatan klien untuk mengarahkan hampir seluruh pembicaraan.
b. Tidak terkesan mengarahkan pembicaraan
c. Misal : lanjutkan….
Dan kemudian…. Coba ceritakan hal tersebut pada saya.
E. FASE-FASE HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT-KLIEN
Proses berhubungan perawat klien dapat dibagi dalam 4 fase: Fae prainteraksi, fase perkenalan (Orientasi), Fase kerja dan fase terminasi..
1. FASE PRAINTERAKSI
Prakinteraksi dimulai sebelum kontak pertama dengan klien. Perawat mengeksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutannya, sehingga kesadaran dan kesiapan perawat untuk melakukan hubungan dengan klien dapat dipertanggungjawabkan.
Perawat yang sudah berpengalaman dapat menganalisa diri sendiri serta nilai tambah pengamannya berguna agar lebih efektif dalam memberikan asuhan keperawatan. Ia seharusnya mempunyai konsep diri yang stabil dan harga diri yang kuat, mempunyai hubungan yang konstruktif dengan orang lain, dan berpegang pada kenyataan dalam menolong klien (Stuart & Sundeen, 1987).
Pemakaian diri secara terapeutik berarti memaksimalkan pemakaian kekuatan dan meminimalkan pengaruh kelemahan diri dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien. Tugas tambahan dalam fase ini adalah mendapatkan informasi tentang klien dan menentukan kontak pertama.
Pra interaksi merupakan masa persiapan sebelum berhubungan dan berkomunikasi dengan klien. Seorang perawat perlu mengevaluasi dirinya tentang kemampuan yang dimilikinya. Jika merasa ada ketidaksiapan maka perlu membaca kembali, diskusi dengan teman. Jika sudah siap perlu membuat rencana interaksi dengan klien.
a. Evaluasi diri
Coba jawab pertanyaan berikut :
Apa pengetahuan yang saya miliki tentang keperawatan jiwa?
Apa yang akan saya ucapkan saat bertemu dengan klien?
Bagaimana saya bersikap jika klien diam, menolak, marah, inkohern?
Adakah pengalaman interaksi dengan klien yang negative/tidak menyenangkan?
Bagaimana tingkat kecemasan saya?
b. Penetapan tahapan hubungan
Yang perlu ditetapkan tahapan hubungan perawat klien :
Apakah kontrak pertama?
Apakah kontrak lanjutan?
Apa tujuan pertemuan?
Apa tindakan yang akan saya lakukan?
Bagaimana cara melakukan?
c. Rencana interaksi
Siapkan secara tertulis rencana percakapan yang akan dilakukan!
Tentukan tehnik komunikasi sesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai!
Tentukan tehnik observasiyang akan dilakukan!
Buat langkah-langkah prosedur yang akan dilakukan!
2. FASE PERKENALAN (ORIENTASI)
Fase ini dimulai dengan pertemuan dengan klien. Hal utama yang perlu dikaji adalah alasan klien minta pertolongan yang akan mempengaruhi terbinanya hubungan perawat-klien.
Dalam membina hubungan, tugas utama adalah membina rasa saling percaya, penerimaan dan pengertian, komunikasi yang terbuka dan perumusan KONTRAK dengan klien.
Elemen-elemen kontrak perlu diuraikan dengan jelas pada klien sehingga kerjasama perawat klien dapat optimal. Diharapkan klien berperan serta secara penuh dalam kontrak, namun pada kondisi tertentu, misalnya klien dengan gangguan realita, maka kontrak dilakukan sepihak dan perawat perlu mengulang kontrak jika kontrak realitas klien meningkat.
Perawat dan klien mungkin kan mengalami perasaan tak nyaman, bimbang karena memulai hubungan baru. Klien yang mempunyai pengalaman hubungan interpersonal yang menyakitkan adan sukar menerima dan terbuka pada orang asing. Klien anak memerlukan rasa aman untuk mengekspresikan perasaan tanpa dikritik atau dihukum.
Tugas perawat adalah mengeksplorasi pikiran, perasaan, perbuatan klien dan mengidentifikasi masalah, serta merumuskan tujuan bersama klien.
Elemen kontrak perawat-klien :
a. Nama individu (perawat dank lien)
b. Peran perawat dan klien
c. Tanggung jawab perawat dan klien
d. Harapan perawat dan klien
e. Tujuan hubungan
f. Tempat pertemuan
g. Waktu pertemuan
h. Situasi terminasi
i. Kerahasiaan
Hal-hal yang perlu dilakukan pada fase perkenalan :
Perkenalan dilakukan pada pertemuan pertama
a. Memberi salam
Selamat pagi / siang / sore / malam atau sesuai latar belakang sosial budaya yang disertai dengan mengulurkan tangan untuk jabat tangan.
b. Memperkenalkan diri perawat
“Nama saya Wahyu Purwaningsih, saya senang dipanggil Wahyu.”
c. Menanyakan nama pasien
“Nama bapak/ibu/saudara siapa, apa panggilan kesayangannya?”
d. Menyepakati pertemuan/kontrak
“Bagaimana kalau kita bercakap-cakap.”
“Dimana kita duduk”
Bagaimana kalau kita duduk disana (sebutkan tempatnya)
Jika dirumah sakit langsung katakana silahkan duduk
Jika dikamar pasien, langsung duduk disamping pasien.
e. Menhadapi kontrak
“saya perawat yang bekerja di……, saya akan merawat anda (sebutkan nama pasien) selama 8 hari.”
“dimuai saai ini S/D………, saya datang jam 07.00 dan pulang jam 14.00.”
“Saya akan membantu anda (sebutkan nama pasien) untuk menyelesaikan masalah yang anda (sebutkan nama pasien) hadapi.”
“kita bersama-sama menghadapi masalah yang anda (sebutkan nama pasien)”
f. Memulai percakapan awal
Fokus percakapan adalah pengkajian keluhan utama atau alasan masuk rumah sakit. Kemudian dilanjutkan dengan hal-hal yang terkait dengan keluhan utama. Jika mungkin melengkapi format pengkajian proses keperawatan.
Contoh komunikasi menkaji keluhan utama
“Apa yang terjadi dirumah sehingga anda (sebutkan nama pasien) dibawa kemari?”
“Apa yang anda (sebutkan nama pasien) sampai datang kemari?”
“Apa masalah yang anda rasakan (sebutkan nama pasien) rasakan?”
Jika klien menjawab lanjutkan eksplorasi sesuai dengan format pengkajian terutama terkait dengan keluhan utama.
Jika tidak menjawab “Saya tidak dapat membantu anda (sebutkan nama pasien) jika anda (sebutkan nama pasien) tidak mau menceritakan masalah yang anda (sebutkan nama pasien) hadapi.
Tampaknya anda (sebutkan nama pasien) belum mau cerita kita duduk bersama saja ya.” (10 menit).
g. Menyepakati masalah klien
Setelah pengkajian jika mungkin pada akhir wawancara sepakati masalah :
“Dari percakapan kita tadi tampaknya anda (sebutkan nama pasien) ……., (sesuaikan dengan kesimpulan masalah), “Misal : Tampaknya anda (sebutkan nama pasien) sungkan berhubungan dengan orang lain, sering marah tak terkendali dirumah.
h. Mengakhiri perkenalan
Terminasi sementara (lihat pada fase terminasi sementara)
Hal-hal yang dilakukan pada fase orientasi :
Orientasi dilakukan pada pertemuan kedua dan seterusnya.
a. Memberi salam
Sama pada perkenalan
b. Memvalidasi keadaan klien
“Bagaimana perasaan anda (sebutkan nama pasien) hari ini?”
“Coba ceritakan perasaannya hari ini?”
c. Mengingatkan kontrak
“Sesuai dengan janji kita kemarin kita akan bertemu lagi jam (sebutkan sesuai janji).
Jika klien ingat janjinya berikan pujian.
“Baiklah sekarang kita akan bicara tentang sesuai dengan hal telah disepakati. Masalah klien (cara berkenalan dengan orang lain, mengungkapkan marah, kebersihan diri, dll)
3. FASE KERJA
Pada fase kerja, perwat dan klien mengeksplorasi stressor yang tepat dan mendorong perkembangan kesadaran diri dengan menghubungkan persepsi, pikiran, perasaan dan perbuatan klien. Perawat membantu klien mengatasi kecemasan, meningkatkan kemandirian dan tanggung jawab diri sendiri dan mengembangkan mekanisme koping yang konstruktif. Perubahan perilaku maladaftif menjadi adaftif merupakan fokus fase ini.
Contoh :
“Apa yang menyebabkan ibu marah?”
Bagaimana ibu mengatasi perasaan tersebut?”
“Saya bantu ibu untuk mengatasi marah.”
4. FASE TERMINASI
Terminasi adalah fase yang amat sulit dan penting dari hubungan terapeutik. Rasa percaya dan hubungan akrab sudah terbina dan berada pada tingkat oprimal.
Keduanya, perawat dan klien akan merasakan kehilangan. Terminasi dapat terjadi pada saat perawat mengakhiri tugas pada unit tertentu atau klien pulang.
Apapun alasan terminasi, tugas perawat pada fase ini adalah menghadapi realitas perpisahan yang dapat diingkari. Klien dan perawat bersama-sama meninjau kembali proses perawatan yang telah dilalui dan pencapaian tujuan. Perasaan marah, sedih dan penolakan perlu dieksplorasidan diekspresikan.
Fase terminasi harus diatasi dengan memakai konsep proses kehilangan. Proses terminasi yang sehat akan memberikan pengalaman positif dalam membantu klien mengembangkan koping untuk perpisahan. Reaksi klien dalam menhadapi terminasi dapat bermacam cara. Klien mungkin mengingkari manfaat hubungan. Klien dapat mengekspresikan perasaan marah dan permusuhannya dengan tidak menghadiri pertemuan atau bicara dangkal.
Terminasi yang mendadak dan tanpa persiapan mungkin dipersepsikan klien sebagai penolakan. Atau perilaku klien kembali pada perilaku sebelumnya, dengan harapan perawat tidak akan mengakhiri hubungan karena klien masih memerlukan bantuan.
a. Terminasi sementara
Terminasi sementara adalah setiap akhir dari pertemuan perawat klien. Sehingga perawat masih akan bertemu lagi dengan klien.
Isi percakapan :
1) Evaluasi
“Coba ibu sebutkan hal-hal yang sudah kita bicarakan.”
2) Tindak lanjut
“Bagaimana kalau ibu lakukan diruangan?”
3) Kontrak yang akan datang
“Kapan kita bertemu lagi?”
Apa yang akan kita bicarakan?”
b. Terminasi akhir
c. Evaluaasi akhir terjadi jika pasien akan pulang atau mahasiswa yang selesai praktek dirumah sakit.
d. Isi percakapan :
1) Evaluasi
“Coba ibu sebutkan kemampuan yang sudah didapat selama dirawat disini?”
2) Tindak lanjut
“Apa rencana yang akan ibu lakukan dirumah?”
3) Kontrak yang akan dating
“Bagaimana perasaan ibu berpisah dengan saya / meninggalkan rumah sakit?”
4) Hal yang sama dengan 1,2,3 dilakukan pada keluarga.
Terminasi 1. Eksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutan sendiri
2. Analisa kekuatan kelemahan professional
3. Dapatkan data tentang klien jika mungkin
4. Rencanakan pertemuan pertama.
1. Tentukan alasan masuk klien minta pertolongan
2. Bina rasa saling percaya (trust), penerimaan dan
3. Komunikasi terbuka
4. Rumuskan kontrak pertama
5. Eksplorasi pikiran, perasaan dan perbuatan klien
6. Identifikasi masalah klien
7. Rumuskan tujuan bersama klien
1. Eksplorasi stressor yang tepat
2. Dorong perkembangan kesadaran diri klien & pemakaian mekanisme koping konstruktif
3. Atasi penolakan perilaku adaftif.
1. Ciptakan realitas perpisahan
2. Bicarakan proses terapi dan pencapaian tujuan
3. Saling mengeksplorasi perasaan penolakan&kehilangan, sedih, marah dam perilaku lain.
4. Rencana tindak lanjut (untuk terminasi sementara)
G. ANALISA DIRI
Agar seorang perawat mampu berkomunikasi terapeutik dan mejadi perawat yang terapeutik maka sebelum melakukan interaksi dengan pasien harus melakukan ANALISA DIRI, agar dapat menggunakan diri secara terapeutik, dan dengan menggunakan teknik komunikasi yang baik sehingga mampu mengubah perilaku dan emosi klien yang maladaftif.
Analisa diri meliputi :
1. KESADARAN DIRI SIAPA SAYA ? Perawat harus dapat mengkaji perasaan, reaksi, perilaku secara pribadi atau sebagai pemberi perawatan, sehingga bisa menerima perbedaan dan keunikan klien.
JOHARI WINDOW menggambarkan tentang perilaku, pikiran, perasaan seseorang.
Kuadran I
Diketahui diri & orang lain Kuadran II
Hanya diketahui orang
Kuadran III
Hanya diketahui oleh diri
(Rahasia) Kuadran IV
Tidak diketahui oleh siapapun
Prinsip :
a. Perubahan satu kuadran mempengaruhi kuadran lain.
b. Kuadran satu paling kecil : komunikasi buruk/kesadaran diri kurang.
c. Kuadran I paling besar : Kesadaran diri tinggi/komunikasi baik.
CARA MENINGKATKAN KESADARAN DIRI
a. Mempelajari diri sendiri
Melalui eksplorasi diri tentang fikiran, perasaan, perilaku, termasuk pengalaman yang menyenangkan, hubungan interpersonal dan kebutuhan pribadi.
b. Belajar dengan orang lain
Kesediaan dan keterbukaan menerima umpan balik orang lain akan meningkatkan pengetahuan tentang diri. Aspek negatif akan memberi kesadaran individu untuk memperbaikinya.
c. Membuka diri
Pribadi yang sehat berarti memiliki keterbukaan, maka perlu adanya sahabat yang dapat dipercaya sebagai tempat bercerita/curhat.
2. KLARIFIKASI NILAI
Perawat sebaiknya mempunyai sumber kepuasan dan rasa aman yang cukup, sehingga tidak menggunakan klien untuk kepuasan dam keamanannya.
Jika ada konflik, ketidakpuasan dapat disadari dan diklarifikasi agar tidak mempengaruhi hubungan komter.
Perawat sadar sistem nilai yang dimiliki, misal : keyakinan, sehingga siap mengidentifikasi situasi yang bertentangan dengan sistem nilai yang dimiliki.
3. EKSPLORASI PERASAAN
Terbuka, sadar terhadap persaannya, dan mengontrolnya sehingga bisa membawa diri secara terapeutik, sehingga tahu bagaimana berespon dan bersikap dengan klien.
4. KEMAMPUAN JADI MODEL
Kemampuan untuk jadi suri tauladan.
a) Perawat yang bermasalah, misalnya ketergantungan obat, gangguan interpersonal, dan lain-lain akan mempengaruhi hubungan dengan klien. Jadi perawat haruslah bergaya hidup sehat.
b) Dalam keperawatan jiwa, perawat tidak mungkin memisahkan hubungan professional dengan kehidupan pribadi, karena perawat menggunakan dirinya untuk menolong klien.
c) Perawat efektif bila mampu memenuhi dan memuaskan kehidupan pribadi tidak didominasi konflik, stress, mampu beradaptasi sehat.
5. BERTANGGUNG JAWAB
Perawat bertanggung jawab terhadap tindakannya, sadar akan kelebihan dan kekurangannya.
Dalam berinteraksi dengan klien seorang perawat harus mampu menghadirkan diri secara fisik dan psikoilogis dihadapan klien. Dalam usaha menghadirkan diri secara fisik seorang perawat perlu memahami SIKAP PERAWAT DALAM KOMTER. Sedangkan untuk menghadirkan diri secara psikologis dengan cara memahami DIMENSI RESPON dan DIMENSI TINDAKAN/AKSI.
H. SIKAP PERAWAT DALAM KOMUNIKASI TERAPEUTIK
a. Perawat hadir secara utuh (fisik dan psikologis) tidak hanya cukup dengan tahu tehnik komunikasi terapeutik dan isi komunikasi tapi penting juga “Sikap dan penampilan”.
b. Cara menghadirkan diri secara fisik :
1) Berhadapan, artinya saya siap untuk anda
2) Pertahankan kontak mata pada level yang sama, artinya menghargai klien dan tetap ingin berkomunikasi.
3) Membungkuk ke arah klien, artinya menunjukkan keinginan untuk mengatakan/mendengarkan sesuatu.
4) Mempertahankan sikap terbuka (tidak melipat tangan/kaki) menunjukkan keterbukaan untuk berkomunikasi
5) Tetap rileks
6) Dapat mengontrol keseimbangan antar ketegangan dan relaksasi dalam berespon pada klien.
Kehadiran secara psikologis dapat dibagi dalam 2 dimensi :
1. Dimensi respon perawat
2. Dimensi tindakan perawat.
I. DIMENSI RESPON
a. KEIKHLASAN/KESEJATIAN
Pernyataan melalui keterbukaan, kejujuran, ketulusan, tidak berpura-pura, mengekspresikan perasaan yang sebenarnya.
b. MENGHARGAI
Menerima klien apa adanya, tidak menghakimi, tidak mengkritik, tidak mengejek, tidak menghina.
Misal : duduk diam saat klien menangis, minta maaf atas hal yang tidak disukai klien, menerima permintaan klien untuk tidak bertanya pengalaman tertentu.
c. EMPATI
Empati adalah kemampuan masuk dalam kehidupan klien agar dapat merasakan pikiran dan perasaan tanpa kita terlarut didalamnya. Lalu mengidentifiasi masalah klien dan membantunya. Empati dapat secara verbal/nonverbal.
Misal : memperkenalkan diri, sikap membungkuk pada klien, respon kekuatan dan sumber daya klien, tunjukkan minat, ekspresi hangat.
d. KONKRIT
Terminologi spesifik, bukan abstrak agar tidak muncul keragu-raguan/tidak jelas.
Guna :
1) Mempertahankan respon perawat terhadap perasaan klien.
2) Memberi penjelasan akurat oleh perawat
3) Mendorong klien memikirkan masalah spesifik.
J. DIMENSI TINDAKAN/AKSI
Dimensi tindakan tidak dapat dipisahkan dengan dimensi respon. Tindakan dilaksanakan dalam konteks kehangatan dan pengertian.
Dimensi respon membawa klien pada tingkat penilikan diri tinggi dilanjutkan dengan dimensi tindakan.
a. KONFRONTASI
Merupakan ekspresi perasaan perawat tentang perilaku klien yang tidak sesuai.
Tiga kategori konfrontasi :
1) Ketidaksesuaian konsep diri klien (ekspresi klien tentang dirinya) dan ideal dirinya.
2) Ketidaksesuaian antara ekspresi nonverbal dan perilaku klien.
3) Ketidaksesuaian antara pengalaman klien dengan perawat.
Guna konfrontasi adalah untuk meningkatkan kesadaran klien akan kesesuaian perasaan, sikap, perilaku. Konfrontasi dilakukan secara asertif bukan dengan marah atau agresif.
Sebelum melakukannya pada klien kaji tingkat “TRUST atau percaya”, tepat waktu, tingkat kecemasan klien, kekuatan koping.
Konfrontasi diperlukan pada klien dengan kesadaran diri baik tapi perilaku klien belum berubah.
b. KESEGARAN
Berfokus pada saat ini, sensitive terhadap perasaan klien dan keinginan membantu segera.
c. KETERBUKAAN
Perawat memberi info tentang diri, idealnya, perasaannya, sikap dan nilainya.
Pengalaman diri untuk terapi klien dengan tukar pengalaman ini diharapkan kerjasama dan sokongan.
d. EMOTINAL CATHARSIS
1) Meminta klien bicara tentang hal yang mengganggu dirinya (Perasaanya, ketakutan, pengalaman)
2) Kaji kesiapan klien untuk bicara, bantu ekspresi perasaan klien
3) Suasana diterima dan aman klien akan memperluas kesadaran dan penerimaan diri.
e. BERMAIN PERAN
Bermain peran adalah melakukan peran pada situasi tertentu, untuk meningkatkan kesadaran diri dalam berhubungan dan kemampuan melihat situasi dari pengalaman orang lain.
Klien bebas berperilaku baru pada lingkungan aman.
Diposkan oleh Komunitas Nurse Cideres di 09:54
PROSES KEPERAWATAN
PROSES KEPERAWATAN
PENDAHULUAN
• KEPERAWATAN BENTUK PELAYANAN PROFESIONAL
• TINDAKAN BUKAN RUTINITAS, TANPA POLA, TDK BERDASAR BUKTI ILMIAH
• UNTUK ITU PELAYANAN KEPERAWATAN DILAKSANAKAN SECARA SISTEMATIS DAN TERARAH untuk KEPUASAN KLIEN
• Proses keperawatan merupakan jawaban penyelesaian masalah mutu asuhan keperawatan keterampilan intelektual, interpersonal dan keterampilan teknis
• Proses keperawatan memastikan penyelesaian masalah kesehatan klien berdasarkan landasan teori yang kuat
• WUJUD TANGGUNG JAWAB DAN TANGGUNG GUGAT
PENGERTIAN
• PROSES adalah suatu rangkaian kegiatan yang berurutan yang terdiri dari komponen-komponen yang saling terkait, berhubungan, dinamis dlm rangka mencapai tujuan ttt.
• KEPERAWATAN adalah suatu btk pelayanan profesional yg merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat, baik sehat maupun sakit yg mencakup seluruh proses kehidupan.
ARTI PROSES KEPERAWATAN
• YURA & WALS (1983) ; Adalah suatu metode yg sistematis dan ilmiah yg digunakan perawat dalam mncapai atau mempertahankan kead. Bio,psiko,sosio,spritual yg optimal mll tahap pengkajian,identifikasi diagnosa kep,penentuan rencana kep., implementasi tindakan kep., serta evaluasi
• CAROL V.A (1991) PROSES KEPERAWATAN adalah metode yg sistematis untuk mengkaji respon manusia thd masalah kesehatan dan membuat rencanakeperawatan yg bertujuan mengatasi masalah tersebut.
• PROSES KEPERAWATAN adalah rangkaian kegiatan pemecahan masalah yg ilmiah, logis, sistematis, dan terorganisir bertujuan membantu klien mencapai tkt. kesehatan dan pemeliharaan kesehatan scr optimal sesuai dgn kebutuhannya mll langkah-langkah: pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi keperawatan.
Pada hakikatnya proses keperawatan teknik penyelesaian/pemecahan masalah (problem solving), proses terapeutik, melibatkan tenaga keperawatan, individu, keluarga, kelompok maupun masyarakat mencapai derajat kesehatan optimal.
Proses keperawatan adalah :
1. Suatu pendekatan sistematis untuk mengenal masalah-masalah pasien dan mencarikan alternatif pemecahan masalah dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan pasien.
2. Merupakan proses pemecahan masalah yang dinamis dalam memperbaiki dan meningkatkan kesehatan pasien sampai ke tahap maksimum.
3. Merupakan pendekatan ilmiah
4. Terdiri dari 4 tahap : pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Atau, ada pula yang menterjemahkannya ke dalam 5 tahap : pengkajian, perumusan diagnosis keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
SEJARAH
• Proses keperawatan pertama kali dijabarkan oleh Hall (1955)
• Tahun 1960, proses keperawatan diperkenalkan secara internal dalam keperawatan
• Wiedenbach (1963) mengenalkan proses keperawatan dalam 3 tahap : observasi, bantuan pertolongan dan validasi.
• Yura & Walsh (1967) menjabarkan proses keperawatan menjadi 4 tahap : pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada tahun 1967, edisi pertama proses keperawatan dipublikasikan.
• Bloch (1974), Roy (1975) Mundinger & Jauron (1975) dan Aspinall (1976) menambahkan tahap diagnosa, sehingga proses keperawatan menjadi 5 tahap : pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Proses ini dari analisis pikir : dicover (menemukan), delve (mempelajari atau menganalisis), decide (memutuskan), do (mengerjakan) dan discriminate (identik dengan evaluasi).
• Dengan berkembangnya waktu, proses eperawatan telah dianggap sebagai suatu dasar hukum praktik keperawatan. ANA (1973) menggunakan proses keperawatan sebagai suatu pedoman dalam pengembangan Standart Praktik Keperawatan.
• Tahun 1975 : diadakan konferensi nasional tentang klasifikasi diagnosis keperawatan setiap dua tahun di Universitas Sr. Louis. Klasifikasi diagnosis keperawatan ini kemudian disebut dengan NANDA (North American Nursing Diagnoses Association).
KARAKTERISTIK PROSES KEPERAWATAN
SIFAT PROSES KEPERAWATAN
• PORPOSEFUL : TUJUAN JELAS ; MEMENUHI KEBUT. KLIEN BERDASARKAN MASALAH KEP.
• DINAMIS ; DAPAT BERUBAH DAN DIPERBAHARUI
• SIKLUS (CYCLE) ; BERKESINAMBUNGAN DARI PENGKAJIAN-EVALUASI.
• INTERDEPENDENT ; SALING TERGANTUNG (DX KEP, BERDASAR PENGKAJIAN, ……… )
• INTERAKTIF ; DASAR HUB. ADALAH HUB. TIMBAL BALIK PERAWAT KLIEN
• FLEKSIBEL : TIDAK KAKU
• ARUTAN DAPAT BERUBAH
• DAPAT DIGUNAKAN SEMUA MASALAH KESEHATAN
• SEGALA TATANAN (RS /PUSKESMAS)
• KLIEN ; INDIVIDU, KELUARGA, KELOMPOK , MASYARAKAT
• TEORITIS ; HARUS SELALU DIDASARKAN ILMU, MODEL DAN FILOSOFI KEP.
• HUMANISTIK ; MEMANDANG KLIEN SBG MANUSIA
• HOLISTIK ; UTUH (BIOPSIKOSOSIOSPRITUAL)
• CARE ;BERLANDASKAN STANDAR DAN ETIK KEPERAWATAN
UNSUR PROSES KEPERAWATAN
• UNSUR KOGNITIF (KECAKAPAN INTELEKTUAL) ; PENGET. TTG PERKEMB., PERILAKU, FISIOLOGI DLL. DASAR DALAM MEMBUAT KEPUTUSAN DAN BERPIKIR
• UNSUR PERILAKU (KETERAMPILAN DALAM HUBUNGAN ANTAR MANUSIA) ; MEMBINA HUB TERAPETIK DAN SALING PERCAYA, HUB PERAWAT DG PERAWAT DAN TIM KESEHATAN
• UNSUR KETERAMPILAN (TEKHNIS)
TUJUAN PROSES KEPERAWATAN
• TUJUAN UMUM : Memberikan suatu kerangka kerja berdasarkan kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat, sehingga kebutuhan perawatan kesehatan klien, keluarga dan masyarakat dapat terpenuhi.
• TUJUAN KHUSUS :
1. Mempraktekkan metode pemecahan masalah dalam praktek keperawatan (problem solving)
2. Menggunakan standart dalam praktek keperawatan
3. Memperoleh metode yang baku, rasional dan sistematis
4. Memperoleh metode yang dapat digunakan dalam berbagai macam situasi
5. Memperoleh asuhan keperawatan yang berkualitas tinggi
MANFAAT PROSES KEPERAWATAN
Bagi Pelayanan Kesehatan :
1. Pedoman yang sistematis bagi terselenggaranya pelayanan kesehatan
2. Sebagai alat untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
Bagi Pelaksana Keperawatan
1. Meningkatkan mutu pelayanan keperawatan
2. Bila semua kebutuhan klien dapat dipenuhi, tentu akan dapat mempercepat proses penyembuhan klien dan kepuasan bagi klien akan pelayanan keperawatan yang diberikan. Dengan demikian, mutu asuhan keperawatan akan meningkat.
3. Pengembangan ketrampilan intelektual dan teknis bagi tenaga pelaksana keperawatan.
4. Peningkatan citra keperawatan dan tenaga keperawatan.
5. Jalan yang paling tepat untuk meningkatkan citra keperawatan dan profesi keperawatan adalah dengan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan. Kepuasan knsumen terhadap pelayanan keperawatan menunjukkan keyakinannya terhadap profesi keperawatan.
6. Meningkatkan peran dan fungsi perawatan dalam pengelolaan asuhan keperawatan.
7. Pengakuan otonomi keperawatan oleh masyarakat dan profesi lain.
8. Profesi keperawatan memberikan kesempatan kepada tenaga keperawatan untuk melaksanaan otonomi profesinya, yang didasari oleh tanggung gugat dan tanggung jawab, penerapan etika profesi dan standart praktek keperawatan.
9. Peningkatan rasa solidaritas.
10. Kesamaan metode praktek keperawatan yang digunakan oleh semua tenaga keperawatan akan memperkuat persatuan serta menggambarkan otonomi dan identitas keperawatan.
11. Peningkatan kepuasan tenaga keperawatan.
12. Kepuasan konsumen terhadap pelayanan keperawatan dengan sendirinya akan menimbulkan kepuasan bagi tenaga perawatan.
13. Memupuk rasa percaya diri dalam memberikan asuhan keperawatan
14. Untuk pengembangan ilmu keperawatan.
15. Proses keperawatan dapat mendukung dan memberi sumbangan dalam pengembangan penelitian ilmu keperawatan, sehingga dapat dikembangkan metode-metode yang baku dalam memberikan asuhan keperawatan.
Bagi Klien
1. Aspek keperawatan yang diterima bermutu dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah
2. Merangsang partisipasi pasien dalam perawatan dirinya (self care)
3. Kelanjutan asuhan
4. Terhindar dari mal-praktik
KOMPONEN PROSES KEPERAWATAN
Tahap-tahap Proses Keperawatan
PENGKAJIAN
1. TAHAP AWAL PROSES KEPERAWATAN
2. SUATU PROSES YG SISTEMATIS DLM PENGUMPULAN DATA DARI BERBAGAI SUMBER UNTUK MENGEVALUASI & MENGIDENTIFIKASI STATUS KES. KLIEN.
3. SECARA KOMPREHENSIF
KERANGKA DASAR
1. Iindividu mrp multidimensional yg selalu dihub. Dg kebut.
2. Individu berfungsi sbg satu kesatuan yg utuh yg dimulai sejak konsepsi sampai kematian
3. Perubahan dlm satu sistem akan mempengaruhi sistem lain
4. Individu mrp sistem terbuka yg berinteraksi dg lingkungan
5. Tiap individu mpy pola yg unik dlm memenuhi kebutuhannya
6. Semua perilaku individu mpy maksud tertentu
7. Kesehatan mrp kead. Dinamis yg berada dlm suatu rentang
8. Kes. Yg optimal sbg kead. Yg ditandai dg tercapainya potensi kes. Yg maksimal
9. Individu yg sehat ditandai dg kemamp. Beradaptasi thd perubahan dimensi perkemb., psikologik, sosiokultural, dan fisiologik
10. Tujuan perawatan adl membantu individu untuk mencapai ataun meningkatkan kead. Kesehatannya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan :
1. Memahami secara keseluruhan situasi yang sedang dihadapi oleh klien dengan cara memperhatikan kondisi fisik, psikologi, emosi, sosialkultural, dan spiritual yagn bisa mempengaruhi status kesehatannya.
2. Mengumpulkan semua informasi yang bersangkutan dengan masa lalu, saat ini bahkan bahkan sesuatu yang berpotensi menjadi masalah bagi klien guna membuat suatu database yang lengkap. Data yang terkumpul berasal dari perawat-klien selama berinteraksi dan sumber yang lain. (Gordon, 1987;1994)
3. Memahami bahwa klien adalah sumber informasi primer.
4. Sumber informasi sekunder meliputi anggota keluarga, orang yang berperan penting dan catatan kesehatan klien.
Kegiatan ….
1. Pengumpulan data
2. Validasi data
3. Pengorganisasian data
4. Identifikasi masalah
Metode pengumpulan data
1. Melakukan interview/wawancara.
2. Riwayat kesehatan/keperawatan
3. Pemeriksaan fisik
4. Mengumpulkan data penunjang hasil laboratorium dan diagnostik lain serta catatan kesehatan (rekam medik).
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Diagnosa keperawatan adalah menganalisis data subjektif dan objektif. Diagnosa keperawatan melibatkan proses berpikir kompleks tentang data yang dikumpulkan dari klien, keluarga, rekam medik, dan pemberi pelayanan kesehatan yang lain.
2. The North American Nursing Diagnosis Association (NANDA, 1992) mendefinisikan diagnosa keperawatan semacam keputusan klinik yang mencakup klien, keluarga, dan respon komunitas terhadap sesuatu yan berpotensi sebagai masalah kesehatan dalam proses kehidupan.
KOMPONEN DX KEP.
1. MASALAH (PROBLEM) ; MENGGAMBARKAN PERUBAHAN STATUS KES. KLIEN
2. PENYEBAB (ETIOLOGI) ; MENCERMINKAN PENYEBAB DARI MASALAH, FRASE “BERHUBUNGAN DENGAN”
3. DATA (SIGS AND SYMPTOM) ; DIPEROLEH SAAT PENGKAJIAN, BUKTI ADANYA MASALAH, FRASE “DITANDAI OLEH”
Tipe Diagnosa Keperawatan
a. Aktual
Menggambarkan Masalah nyata saat ini sesuai data yg ditemukan,adanya batasan karakteristik mayor.
Contoh: “ Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi lama sekunder terhadap fraktur perlvis”
b. Resiko
Menggambarkan penilaian klinis dimana individu/kelompok lbh rentan mengalami masalah dibanding individu/kelompok lain dlm situasi yang sama. masalah kes. Yg nyata akan terjadi jika tdk dilakukan intervensi.
Contoh: “ Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer”
c. Kesejahteraan/wellness
Penilaian klinis ttg individu, keluarga atau komunitas dlm transisi dari tingkat kesejahteraan ttt ke tingkat kesejahteraan yg lebih tinggi. pernyataan “potensial peningkatan” tidak mengandung unsur “yg berhubungan dengan”
PERENCANAAN KEPERAWATAN
Tujuan:
a. Administratif: lebih fokus,tanggung jawab, independen, perbaikan kualitas askep.
b. Klinik: prioritas diagnosafokus, arah dokumentasi, alat komunikasi, kriteria hasil dan tujuan keperawatan evaluasi, mengarahkan intervensi.
Langkah-langkah
• Menetukan prioritas
• Menetapkan tujuan keperawatan
• Menetapkan kriteria evaluasi
• Menyusun rencana intervensi keperawatan
• Menformulasikan rencana perawatan (Nursing Care Plan)
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
• MENGAPLIKASIKAN RENCANA ASUHAN KEP. KE DLM BENTUK INTERVENSI KEP. GUNA MEMBANTU KLIEN MENCAPAI TUJUAN YG TELAH DITETAPKAN.
• TIGA TAHAP
• PERSIAPAN (DATA,PERAWAT, KLIEN, LINGK., SARANA PRASARANA)
• PELAKSANAAN
• TERMINASI
PETUNJUK IMPLEMENTASI
• TIAP TINDAKAN PASTIKAN RASIONALISASINYA, EFEK YG DIHARAPKAN, KEMUNGKINAN EFEK SAMPING
• YAKINKAN DATA & MASALAH MASIH RELEVAN
• BUKAN KEGIATAN MEKANIK, O/KI PERLU KAJI RESPON KLIEN
• IKUT SERTAKAN KLIEN
PELAKSANA
• PERAWAT
• KLIEN
• KELUARGA
• TENAGA NON KEPERAWATAN
PRINSIP “CWIPAT”
• CHECK
• WASH YOUR HAND
• IDENTIFY THE PATIENT
• PROVIDE FOR SAFETY AND PRIVACY
• ASSESS THE PROBLEMS
• TELL THE PERSON OR TEACH THE PERSON ABOUT YOU ARE GOING TO DO
EVALUASI KEPERAWATAN
• MEMBANDINGKAN HASIL SUATU TINDAKAN KEPERAWATAN DENGAN NORMA ATAU KRITERIA TUJUAN YG TELAH DIBUAT
• KEMUNGKINAN HASIL EVALUASI ;
• TUJUAN TERCAPAI
• TUJUAN TERCAPAI SEBAGIAN
• TUJUAN TIDAK TERCAPAI
• TIMBUL MASALAH BARU
DOKUMENTASI PROSES KEPERAWATAN
• MRP PERNYATAAN TTG KEJADIAN / AKTIVITAS DGN CATATAN TERTULIS
• DAI PENGKAJIAN SAMPAI EVALUASI
• SARANA KOMUNIKASI
• DAPAT SBG ALAT BUKTI
• MEMUDAHKAN & MEMBANTU MENGATASI MASALAH KLIEN
• REFERENSI PEMBELAJARAN
Sumber :
Catatan Kuliah Konsep Dasar Keperawatan Stikes Muhammadiyah Banjarmasin Tahun 2009
Dosen : HIRYADI,M.Kep,Sp.Kom
PENDAHULUAN
• KEPERAWATAN BENTUK PELAYANAN PROFESIONAL
• TINDAKAN BUKAN RUTINITAS, TANPA POLA, TDK BERDASAR BUKTI ILMIAH
• UNTUK ITU PELAYANAN KEPERAWATAN DILAKSANAKAN SECARA SISTEMATIS DAN TERARAH untuk KEPUASAN KLIEN
• Proses keperawatan merupakan jawaban penyelesaian masalah mutu asuhan keperawatan keterampilan intelektual, interpersonal dan keterampilan teknis
• Proses keperawatan memastikan penyelesaian masalah kesehatan klien berdasarkan landasan teori yang kuat
• WUJUD TANGGUNG JAWAB DAN TANGGUNG GUGAT
PENGERTIAN
• PROSES adalah suatu rangkaian kegiatan yang berurutan yang terdiri dari komponen-komponen yang saling terkait, berhubungan, dinamis dlm rangka mencapai tujuan ttt.
• KEPERAWATAN adalah suatu btk pelayanan profesional yg merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat, baik sehat maupun sakit yg mencakup seluruh proses kehidupan.
ARTI PROSES KEPERAWATAN
• YURA & WALS (1983) ; Adalah suatu metode yg sistematis dan ilmiah yg digunakan perawat dalam mncapai atau mempertahankan kead. Bio,psiko,sosio,spritual yg optimal mll tahap pengkajian,identifikasi diagnosa kep,penentuan rencana kep., implementasi tindakan kep., serta evaluasi
• CAROL V.A (1991) PROSES KEPERAWATAN adalah metode yg sistematis untuk mengkaji respon manusia thd masalah kesehatan dan membuat rencanakeperawatan yg bertujuan mengatasi masalah tersebut.
• PROSES KEPERAWATAN adalah rangkaian kegiatan pemecahan masalah yg ilmiah, logis, sistematis, dan terorganisir bertujuan membantu klien mencapai tkt. kesehatan dan pemeliharaan kesehatan scr optimal sesuai dgn kebutuhannya mll langkah-langkah: pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi keperawatan.
Pada hakikatnya proses keperawatan teknik penyelesaian/pemecahan masalah (problem solving), proses terapeutik, melibatkan tenaga keperawatan, individu, keluarga, kelompok maupun masyarakat mencapai derajat kesehatan optimal.
Proses keperawatan adalah :
1. Suatu pendekatan sistematis untuk mengenal masalah-masalah pasien dan mencarikan alternatif pemecahan masalah dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan pasien.
2. Merupakan proses pemecahan masalah yang dinamis dalam memperbaiki dan meningkatkan kesehatan pasien sampai ke tahap maksimum.
3. Merupakan pendekatan ilmiah
4. Terdiri dari 4 tahap : pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Atau, ada pula yang menterjemahkannya ke dalam 5 tahap : pengkajian, perumusan diagnosis keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
SEJARAH
• Proses keperawatan pertama kali dijabarkan oleh Hall (1955)
• Tahun 1960, proses keperawatan diperkenalkan secara internal dalam keperawatan
• Wiedenbach (1963) mengenalkan proses keperawatan dalam 3 tahap : observasi, bantuan pertolongan dan validasi.
• Yura & Walsh (1967) menjabarkan proses keperawatan menjadi 4 tahap : pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada tahun 1967, edisi pertama proses keperawatan dipublikasikan.
• Bloch (1974), Roy (1975) Mundinger & Jauron (1975) dan Aspinall (1976) menambahkan tahap diagnosa, sehingga proses keperawatan menjadi 5 tahap : pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Proses ini dari analisis pikir : dicover (menemukan), delve (mempelajari atau menganalisis), decide (memutuskan), do (mengerjakan) dan discriminate (identik dengan evaluasi).
• Dengan berkembangnya waktu, proses eperawatan telah dianggap sebagai suatu dasar hukum praktik keperawatan. ANA (1973) menggunakan proses keperawatan sebagai suatu pedoman dalam pengembangan Standart Praktik Keperawatan.
• Tahun 1975 : diadakan konferensi nasional tentang klasifikasi diagnosis keperawatan setiap dua tahun di Universitas Sr. Louis. Klasifikasi diagnosis keperawatan ini kemudian disebut dengan NANDA (North American Nursing Diagnoses Association).
KARAKTERISTIK PROSES KEPERAWATAN
SIFAT PROSES KEPERAWATAN
• PORPOSEFUL : TUJUAN JELAS ; MEMENUHI KEBUT. KLIEN BERDASARKAN MASALAH KEP.
• DINAMIS ; DAPAT BERUBAH DAN DIPERBAHARUI
• SIKLUS (CYCLE) ; BERKESINAMBUNGAN DARI PENGKAJIAN-EVALUASI.
• INTERDEPENDENT ; SALING TERGANTUNG (DX KEP, BERDASAR PENGKAJIAN, ……… )
• INTERAKTIF ; DASAR HUB. ADALAH HUB. TIMBAL BALIK PERAWAT KLIEN
• FLEKSIBEL : TIDAK KAKU
• ARUTAN DAPAT BERUBAH
• DAPAT DIGUNAKAN SEMUA MASALAH KESEHATAN
• SEGALA TATANAN (RS /PUSKESMAS)
• KLIEN ; INDIVIDU, KELUARGA, KELOMPOK , MASYARAKAT
• TEORITIS ; HARUS SELALU DIDASARKAN ILMU, MODEL DAN FILOSOFI KEP.
• HUMANISTIK ; MEMANDANG KLIEN SBG MANUSIA
• HOLISTIK ; UTUH (BIOPSIKOSOSIOSPRITUAL)
• CARE ;BERLANDASKAN STANDAR DAN ETIK KEPERAWATAN
UNSUR PROSES KEPERAWATAN
• UNSUR KOGNITIF (KECAKAPAN INTELEKTUAL) ; PENGET. TTG PERKEMB., PERILAKU, FISIOLOGI DLL. DASAR DALAM MEMBUAT KEPUTUSAN DAN BERPIKIR
• UNSUR PERILAKU (KETERAMPILAN DALAM HUBUNGAN ANTAR MANUSIA) ; MEMBINA HUB TERAPETIK DAN SALING PERCAYA, HUB PERAWAT DG PERAWAT DAN TIM KESEHATAN
• UNSUR KETERAMPILAN (TEKHNIS)
TUJUAN PROSES KEPERAWATAN
• TUJUAN UMUM : Memberikan suatu kerangka kerja berdasarkan kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat, sehingga kebutuhan perawatan kesehatan klien, keluarga dan masyarakat dapat terpenuhi.
• TUJUAN KHUSUS :
1. Mempraktekkan metode pemecahan masalah dalam praktek keperawatan (problem solving)
2. Menggunakan standart dalam praktek keperawatan
3. Memperoleh metode yang baku, rasional dan sistematis
4. Memperoleh metode yang dapat digunakan dalam berbagai macam situasi
5. Memperoleh asuhan keperawatan yang berkualitas tinggi
MANFAAT PROSES KEPERAWATAN
Bagi Pelayanan Kesehatan :
1. Pedoman yang sistematis bagi terselenggaranya pelayanan kesehatan
2. Sebagai alat untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
Bagi Pelaksana Keperawatan
1. Meningkatkan mutu pelayanan keperawatan
2. Bila semua kebutuhan klien dapat dipenuhi, tentu akan dapat mempercepat proses penyembuhan klien dan kepuasan bagi klien akan pelayanan keperawatan yang diberikan. Dengan demikian, mutu asuhan keperawatan akan meningkat.
3. Pengembangan ketrampilan intelektual dan teknis bagi tenaga pelaksana keperawatan.
4. Peningkatan citra keperawatan dan tenaga keperawatan.
5. Jalan yang paling tepat untuk meningkatkan citra keperawatan dan profesi keperawatan adalah dengan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan. Kepuasan knsumen terhadap pelayanan keperawatan menunjukkan keyakinannya terhadap profesi keperawatan.
6. Meningkatkan peran dan fungsi perawatan dalam pengelolaan asuhan keperawatan.
7. Pengakuan otonomi keperawatan oleh masyarakat dan profesi lain.
8. Profesi keperawatan memberikan kesempatan kepada tenaga keperawatan untuk melaksanaan otonomi profesinya, yang didasari oleh tanggung gugat dan tanggung jawab, penerapan etika profesi dan standart praktek keperawatan.
9. Peningkatan rasa solidaritas.
10. Kesamaan metode praktek keperawatan yang digunakan oleh semua tenaga keperawatan akan memperkuat persatuan serta menggambarkan otonomi dan identitas keperawatan.
11. Peningkatan kepuasan tenaga keperawatan.
12. Kepuasan konsumen terhadap pelayanan keperawatan dengan sendirinya akan menimbulkan kepuasan bagi tenaga perawatan.
13. Memupuk rasa percaya diri dalam memberikan asuhan keperawatan
14. Untuk pengembangan ilmu keperawatan.
15. Proses keperawatan dapat mendukung dan memberi sumbangan dalam pengembangan penelitian ilmu keperawatan, sehingga dapat dikembangkan metode-metode yang baku dalam memberikan asuhan keperawatan.
Bagi Klien
1. Aspek keperawatan yang diterima bermutu dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah
2. Merangsang partisipasi pasien dalam perawatan dirinya (self care)
3. Kelanjutan asuhan
4. Terhindar dari mal-praktik
KOMPONEN PROSES KEPERAWATAN
Tahap-tahap Proses Keperawatan
PENGKAJIAN
1. TAHAP AWAL PROSES KEPERAWATAN
2. SUATU PROSES YG SISTEMATIS DLM PENGUMPULAN DATA DARI BERBAGAI SUMBER UNTUK MENGEVALUASI & MENGIDENTIFIKASI STATUS KES. KLIEN.
3. SECARA KOMPREHENSIF
KERANGKA DASAR
1. Iindividu mrp multidimensional yg selalu dihub. Dg kebut.
2. Individu berfungsi sbg satu kesatuan yg utuh yg dimulai sejak konsepsi sampai kematian
3. Perubahan dlm satu sistem akan mempengaruhi sistem lain
4. Individu mrp sistem terbuka yg berinteraksi dg lingkungan
5. Tiap individu mpy pola yg unik dlm memenuhi kebutuhannya
6. Semua perilaku individu mpy maksud tertentu
7. Kesehatan mrp kead. Dinamis yg berada dlm suatu rentang
8. Kes. Yg optimal sbg kead. Yg ditandai dg tercapainya potensi kes. Yg maksimal
9. Individu yg sehat ditandai dg kemamp. Beradaptasi thd perubahan dimensi perkemb., psikologik, sosiokultural, dan fisiologik
10. Tujuan perawatan adl membantu individu untuk mencapai ataun meningkatkan kead. Kesehatannya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan :
1. Memahami secara keseluruhan situasi yang sedang dihadapi oleh klien dengan cara memperhatikan kondisi fisik, psikologi, emosi, sosialkultural, dan spiritual yagn bisa mempengaruhi status kesehatannya.
2. Mengumpulkan semua informasi yang bersangkutan dengan masa lalu, saat ini bahkan bahkan sesuatu yang berpotensi menjadi masalah bagi klien guna membuat suatu database yang lengkap. Data yang terkumpul berasal dari perawat-klien selama berinteraksi dan sumber yang lain. (Gordon, 1987;1994)
3. Memahami bahwa klien adalah sumber informasi primer.
4. Sumber informasi sekunder meliputi anggota keluarga, orang yang berperan penting dan catatan kesehatan klien.
Kegiatan ….
1. Pengumpulan data
2. Validasi data
3. Pengorganisasian data
4. Identifikasi masalah
Metode pengumpulan data
1. Melakukan interview/wawancara.
2. Riwayat kesehatan/keperawatan
3. Pemeriksaan fisik
4. Mengumpulkan data penunjang hasil laboratorium dan diagnostik lain serta catatan kesehatan (rekam medik).
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Diagnosa keperawatan adalah menganalisis data subjektif dan objektif. Diagnosa keperawatan melibatkan proses berpikir kompleks tentang data yang dikumpulkan dari klien, keluarga, rekam medik, dan pemberi pelayanan kesehatan yang lain.
2. The North American Nursing Diagnosis Association (NANDA, 1992) mendefinisikan diagnosa keperawatan semacam keputusan klinik yang mencakup klien, keluarga, dan respon komunitas terhadap sesuatu yan berpotensi sebagai masalah kesehatan dalam proses kehidupan.
KOMPONEN DX KEP.
1. MASALAH (PROBLEM) ; MENGGAMBARKAN PERUBAHAN STATUS KES. KLIEN
2. PENYEBAB (ETIOLOGI) ; MENCERMINKAN PENYEBAB DARI MASALAH, FRASE “BERHUBUNGAN DENGAN”
3. DATA (SIGS AND SYMPTOM) ; DIPEROLEH SAAT PENGKAJIAN, BUKTI ADANYA MASALAH, FRASE “DITANDAI OLEH”
Tipe Diagnosa Keperawatan
a. Aktual
Menggambarkan Masalah nyata saat ini sesuai data yg ditemukan,adanya batasan karakteristik mayor.
Contoh: “ Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi lama sekunder terhadap fraktur perlvis”
b. Resiko
Menggambarkan penilaian klinis dimana individu/kelompok lbh rentan mengalami masalah dibanding individu/kelompok lain dlm situasi yang sama. masalah kes. Yg nyata akan terjadi jika tdk dilakukan intervensi.
Contoh: “ Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer”
c. Kesejahteraan/wellness
Penilaian klinis ttg individu, keluarga atau komunitas dlm transisi dari tingkat kesejahteraan ttt ke tingkat kesejahteraan yg lebih tinggi. pernyataan “potensial peningkatan” tidak mengandung unsur “yg berhubungan dengan”
PERENCANAAN KEPERAWATAN
Tujuan:
a. Administratif: lebih fokus,tanggung jawab, independen, perbaikan kualitas askep.
b. Klinik: prioritas diagnosafokus, arah dokumentasi, alat komunikasi, kriteria hasil dan tujuan keperawatan evaluasi, mengarahkan intervensi.
Langkah-langkah
• Menetukan prioritas
• Menetapkan tujuan keperawatan
• Menetapkan kriteria evaluasi
• Menyusun rencana intervensi keperawatan
• Menformulasikan rencana perawatan (Nursing Care Plan)
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
• MENGAPLIKASIKAN RENCANA ASUHAN KEP. KE DLM BENTUK INTERVENSI KEP. GUNA MEMBANTU KLIEN MENCAPAI TUJUAN YG TELAH DITETAPKAN.
• TIGA TAHAP
• PERSIAPAN (DATA,PERAWAT, KLIEN, LINGK., SARANA PRASARANA)
• PELAKSANAAN
• TERMINASI
PETUNJUK IMPLEMENTASI
• TIAP TINDAKAN PASTIKAN RASIONALISASINYA, EFEK YG DIHARAPKAN, KEMUNGKINAN EFEK SAMPING
• YAKINKAN DATA & MASALAH MASIH RELEVAN
• BUKAN KEGIATAN MEKANIK, O/KI PERLU KAJI RESPON KLIEN
• IKUT SERTAKAN KLIEN
PELAKSANA
• PERAWAT
• KLIEN
• KELUARGA
• TENAGA NON KEPERAWATAN
PRINSIP “CWIPAT”
• CHECK
• WASH YOUR HAND
• IDENTIFY THE PATIENT
• PROVIDE FOR SAFETY AND PRIVACY
• ASSESS THE PROBLEMS
• TELL THE PERSON OR TEACH THE PERSON ABOUT YOU ARE GOING TO DO
EVALUASI KEPERAWATAN
• MEMBANDINGKAN HASIL SUATU TINDAKAN KEPERAWATAN DENGAN NORMA ATAU KRITERIA TUJUAN YG TELAH DIBUAT
• KEMUNGKINAN HASIL EVALUASI ;
• TUJUAN TERCAPAI
• TUJUAN TERCAPAI SEBAGIAN
• TUJUAN TIDAK TERCAPAI
• TIMBUL MASALAH BARU
DOKUMENTASI PROSES KEPERAWATAN
• MRP PERNYATAAN TTG KEJADIAN / AKTIVITAS DGN CATATAN TERTULIS
• DAI PENGKAJIAN SAMPAI EVALUASI
• SARANA KOMUNIKASI
• DAPAT SBG ALAT BUKTI
• MEMUDAHKAN & MEMBANTU MENGATASI MASALAH KLIEN
• REFERENSI PEMBELAJARAN
Sumber :
Catatan Kuliah Konsep Dasar Keperawatan Stikes Muhammadiyah Banjarmasin Tahun 2009
Dosen : HIRYADI,M.Kep,Sp.Kom
MEMBANGUN DIRI SECARA TERAPEUTIK
Membangun diri secara terapeutik
Ketika perawat memberikan asuhan keperawatan bahwasanya seorang perawat harus meyakini keadaan pasien bahwa pasien adalah manusia yang utuh dan unik yang tepdiri dari aspek bio psiko sosial kultural spiritual.
Tetapi pada umumnya asuhan yang diberikan lebih diutamakan pada aspek biologis saja, karena aspek lain dianggap kurang penting. Padahal sebenarnya semua aspek yang ada sangat menentukan status kesehatan pasien.
Untuk dapat memberikan kualitas pelayanan yang baik, perawat harus mampu mengidentifikasi masalah dan pespon pasien.
Dalam melaksanakan upaya pelayanan seorang perawat sudah sewajarnya mempunyai sikap dan tindakan yang menunjang kesembuhan pasien dan dapat menggunakan dirinya secara terapeutik dalam menjalin hubungan interpersonal dengan pasien.
Hubungan perawat dan pasien yang terapeutik adalah pengalaman belajar bersama dan pengalaman untuk memperbaiki emosi pasien. Perawat memakai dirinya sendiri dan tekhnik pendekatan khusus dalam bekerja dengan pasien untuk memberi pengertian dan mengubah perilaku pasien.
Untuk dapat menggunakan dirinya secara terapeutik, perawat perlu mengenal dirinya, perasaan, pikiran dan nilai agar asuhan yang diberikan berkualitas. Perawat juga perlu memahami beberapa hal penting, yaitu :
TRUST
Trust adalah rasa percaya bahwa seseorang akan menaruh respek terhadap kebutuhan orang lain dan berharap akan berbuat sesuatu yang akan dipertanggungjawabkan dan diamalkan.
Perawat memberikan kesempatan pada pasien untuk belajar mempercayai orang lain dan mengalami kehangatan dan keamanan dalam bentuk hubungan dengan orang lain. Beberapa paktor yang meningkatkan rasa percaya :
1. Harus ada kesesuain antara ucapan dan perbuatan yang ditunjukkan perawat.
2. Perawat harus memiliki keterampilan yang memadai.
3. Adanya kesesuaian antara verbal dan non verbal (komunikasi) sehingga memudahkan mengembangkan rasa percaya dari pasien.
EMPATI
Empati adalah kemampuan untuk mengerti sepenuhnya tentang kondisi atau perasaan orang lain. Empati diartikan juga sebagai kemampuan menyelami ke dalam hidup orang lain. Tetapi perawat harus menyadari adanya keterpisahan dirinya dan menjamin tumbuhnya rasa aman dari pasien. Empati sebaiknya diekspresikan secara terbuka oleh perawat kepada pasien dengan komunikasi sesuai tingkatan pengertian pasien.
PENERIMAAN
Penerimaan dalam hal ini lebih dari sekedar setuju terhadap sesuatu yang terjadi pada diri pasien dan merupakan bentuk kegiatan yang integral dari hubungan perawat dan pasien serta memerlukan adanya kesadaran diri dari perawat, sehingga dapat mengenal reaksi-reaksi yang ditunjukkan dari pasien dari hubungan perawat dan pasien karena sering kali dijumpai perawat memiliki egosentris sehingga merasa pendapatnya saja yang benar.
Langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam proses penerimaan :
1. Mengenal dan memiliki keputusan, menerima pasien sebagaimana adanya yang membutuhkan pertolongan. Diperlukan adanya kesabaran, toleransi dan murah hati.
2. Menerima keputusan-keputusan yang telah dilakukan dan menguji keputusan tersebut apakah sesuai atau tidak. Perawat harus mengenal keputusan yang diambil berdasarkan pendapat, nilai atau kepercayaan dirinya dan jangan mengharapkan pasien untuk merobah orientasi nilainya dan harus sama dengan perawat.
MENJAGA KERAHASIAAN
Sesuai dengan etika perawatan, pasien berhak dijaga kerahasiaannya mengenai segala sesuatu tentang dirinya. Perawat harus mampu menjaga informasi tentang pasien, tidak memdiskusikannya di luar rumah sakit dan hanya didiskusikan di tempat yang sesuai.
TANGGUNG JAWAB
Perawatan profesional mempunyai tanggung jawab dan tanggung gugat terhadap asuhan yang diberikan pada pasien. Pada saat tertentu keadaan pasien mengalami keterbatasan, sehingga secara fisik tidak mampu bertanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan dirinya. Perawat memberikan bantuan kepada pasien dalam memenuhi kebutuhannya. Namun bukan berarti membiarkan pasien tergantung pada orang lain. Perawat bertanggung jawab dalam membimbing kemandirian pasien.
Ketika perawat memberikan asuhan keperawatan bahwasanya seorang perawat harus meyakini keadaan pasien bahwa pasien adalah manusia yang utuh dan unik yang tepdiri dari aspek bio psiko sosial kultural spiritual.
Tetapi pada umumnya asuhan yang diberikan lebih diutamakan pada aspek biologis saja, karena aspek lain dianggap kurang penting. Padahal sebenarnya semua aspek yang ada sangat menentukan status kesehatan pasien.
Untuk dapat memberikan kualitas pelayanan yang baik, perawat harus mampu mengidentifikasi masalah dan pespon pasien.
Dalam melaksanakan upaya pelayanan seorang perawat sudah sewajarnya mempunyai sikap dan tindakan yang menunjang kesembuhan pasien dan dapat menggunakan dirinya secara terapeutik dalam menjalin hubungan interpersonal dengan pasien.
Hubungan perawat dan pasien yang terapeutik adalah pengalaman belajar bersama dan pengalaman untuk memperbaiki emosi pasien. Perawat memakai dirinya sendiri dan tekhnik pendekatan khusus dalam bekerja dengan pasien untuk memberi pengertian dan mengubah perilaku pasien.
Untuk dapat menggunakan dirinya secara terapeutik, perawat perlu mengenal dirinya, perasaan, pikiran dan nilai agar asuhan yang diberikan berkualitas. Perawat juga perlu memahami beberapa hal penting, yaitu :
TRUST
Trust adalah rasa percaya bahwa seseorang akan menaruh respek terhadap kebutuhan orang lain dan berharap akan berbuat sesuatu yang akan dipertanggungjawabkan dan diamalkan.
Perawat memberikan kesempatan pada pasien untuk belajar mempercayai orang lain dan mengalami kehangatan dan keamanan dalam bentuk hubungan dengan orang lain. Beberapa paktor yang meningkatkan rasa percaya :
1. Harus ada kesesuain antara ucapan dan perbuatan yang ditunjukkan perawat.
2. Perawat harus memiliki keterampilan yang memadai.
3. Adanya kesesuaian antara verbal dan non verbal (komunikasi) sehingga memudahkan mengembangkan rasa percaya dari pasien.
EMPATI
Empati adalah kemampuan untuk mengerti sepenuhnya tentang kondisi atau perasaan orang lain. Empati diartikan juga sebagai kemampuan menyelami ke dalam hidup orang lain. Tetapi perawat harus menyadari adanya keterpisahan dirinya dan menjamin tumbuhnya rasa aman dari pasien. Empati sebaiknya diekspresikan secara terbuka oleh perawat kepada pasien dengan komunikasi sesuai tingkatan pengertian pasien.
PENERIMAAN
Penerimaan dalam hal ini lebih dari sekedar setuju terhadap sesuatu yang terjadi pada diri pasien dan merupakan bentuk kegiatan yang integral dari hubungan perawat dan pasien serta memerlukan adanya kesadaran diri dari perawat, sehingga dapat mengenal reaksi-reaksi yang ditunjukkan dari pasien dari hubungan perawat dan pasien karena sering kali dijumpai perawat memiliki egosentris sehingga merasa pendapatnya saja yang benar.
Langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam proses penerimaan :
1. Mengenal dan memiliki keputusan, menerima pasien sebagaimana adanya yang membutuhkan pertolongan. Diperlukan adanya kesabaran, toleransi dan murah hati.
2. Menerima keputusan-keputusan yang telah dilakukan dan menguji keputusan tersebut apakah sesuai atau tidak. Perawat harus mengenal keputusan yang diambil berdasarkan pendapat, nilai atau kepercayaan dirinya dan jangan mengharapkan pasien untuk merobah orientasi nilainya dan harus sama dengan perawat.
MENJAGA KERAHASIAAN
Sesuai dengan etika perawatan, pasien berhak dijaga kerahasiaannya mengenai segala sesuatu tentang dirinya. Perawat harus mampu menjaga informasi tentang pasien, tidak memdiskusikannya di luar rumah sakit dan hanya didiskusikan di tempat yang sesuai.
TANGGUNG JAWAB
Perawatan profesional mempunyai tanggung jawab dan tanggung gugat terhadap asuhan yang diberikan pada pasien. Pada saat tertentu keadaan pasien mengalami keterbatasan, sehingga secara fisik tidak mampu bertanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan dirinya. Perawat memberikan bantuan kepada pasien dalam memenuhi kebutuhannya. Namun bukan berarti membiarkan pasien tergantung pada orang lain. Perawat bertanggung jawab dalam membimbing kemandirian pasien.
MEMBANGUN DIRI SECARA TERAPEUTIK
Membangun diri secara terapeutik
Ketika perawat memberikan asuhan keperawatan bahwasanya seorang perawat harus meyakini keadaan pasien bahwa pasien adalah manusia yang utuh dan unik yang tepdiri dari aspek bio psiko sosial kultural spiritual.
Tetapi pada umumnya asuhan yang diberikan lebih diutamakan pada aspek biologis saja, karena aspek lain dianggap kurang penting. Padahal sebenarnya semua aspek yang ada sangat menentukan status kesehatan pasien.
Untuk dapat memberikan kualitas pelayanan yang baik, perawat harus mampu mengidentifikasi masalah dan pespon pasien.
Dalam melaksanakan upaya pelayanan seorang perawat sudah sewajarnya mempunyai sikap dan tindakan yang menunjang kesembuhan pasien dan dapat menggunakan dirinya secara terapeutik dalam menjalin hubungan interpersonal dengan pasien.
Hubungan perawat dan pasien yang terapeutik adalah pengalaman belajar bersama dan pengalaman untuk memperbaiki emosi pasien. Perawat memakai dirinya sendiri dan tekhnik pendekatan khusus dalam bekerja dengan pasien untuk memberi pengertian dan mengubah perilaku pasien.
Untuk dapat menggunakan dirinya secara terapeutik, perawat perlu mengenal dirinya, perasaan, pikiran dan nilai agar asuhan yang diberikan berkualitas. Perawat juga perlu memahami beberapa hal penting, yaitu :
TRUST
Trust adalah rasa percaya bahwa seseorang akan menaruh respek terhadap kebutuhan orang lain dan berharap akan berbuat sesuatu yang akan dipertanggungjawabkan dan diamalkan.
Perawat memberikan kesempatan pada pasien untuk belajar mempercayai orang lain dan mengalami kehangatan dan keamanan dalam bentuk hubungan dengan orang lain. Beberapa paktor yang meningkatkan rasa percaya :
1. Harus ada kesesuain antara ucapan dan perbuatan yang ditunjukkan perawat.
2. Perawat harus memiliki keterampilan yang memadai.
3. Adanya kesesuaian antara verbal dan non verbal (komunikasi) sehingga memudahkan mengembangkan rasa percaya dari pasien.
EMPATI
Empati adalah kemampuan untuk mengerti sepenuhnya tentang kondisi atau perasaan orang lain. Empati diartikan juga sebagai kemampuan menyelami ke dalam hidup orang lain. Tetapi perawat harus menyadari adanya keterpisahan dirinya dan menjamin tumbuhnya rasa aman dari pasien. Empati sebaiknya diekspresikan secara terbuka oleh perawat kepada pasien dengan komunikasi sesuai tingkatan pengertian pasien.
PENERIMAAN
Penerimaan dalam hal ini lebih dari sekedar setuju terhadap sesuatu yang terjadi pada diri pasien dan merupakan bentuk kegiatan yang integral dari hubungan perawat dan pasien serta memerlukan adanya kesadaran diri dari perawat, sehingga dapat mengenal reaksi-reaksi yang ditunjukkan dari pasien dari hubungan perawat dan pasien karena sering kali dijumpai perawat memiliki egosentris sehingga merasa pendapatnya saja yang benar.
Langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam proses penerimaan :
1. Mengenal dan memiliki keputusan, menerima pasien sebagaimana adanya yang membutuhkan pertolongan. Diperlukan adanya kesabaran, toleransi dan murah hati.
2. Menerima keputusan-keputusan yang telah dilakukan dan menguji keputusan tersebut apakah sesuai atau tidak. Perawat harus mengenal keputusan yang diambil berdasarkan pendapat, nilai atau kepercayaan dirinya dan jangan mengharapkan pasien untuk merobah orientasi nilainya dan harus sama dengan perawat.
MENJAGA KERAHASIAAN
Sesuai dengan etika perawatan, pasien berhak dijaga kerahasiaannya mengenai segala sesuatu tentang dirinya. Perawat harus mampu menjaga informasi tentang pasien, tidak memdiskusikannya di luar rumah sakit dan hanya didiskusikan di tempat yang sesuai.
TANGGUNG JAWAB
Perawatan profesional mempunyai tanggung jawab dan tanggung gugat terhadap asuhan yang diberikan pada pasien. Pada saat tertentu keadaan pasien mengalami keterbatasan, sehingga secara fisik tidak mampu bertanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan dirinya. Perawat memberikan bantuan kepada pasien dalam memenuhi kebutuhannya. Namun bukan berarti membiarkan pasien tergantung pada orang lain. Perawat bertanggung jawab dalam membimbing kemandirian pasien.
Ketika perawat memberikan asuhan keperawatan bahwasanya seorang perawat harus meyakini keadaan pasien bahwa pasien adalah manusia yang utuh dan unik yang tepdiri dari aspek bio psiko sosial kultural spiritual.
Tetapi pada umumnya asuhan yang diberikan lebih diutamakan pada aspek biologis saja, karena aspek lain dianggap kurang penting. Padahal sebenarnya semua aspek yang ada sangat menentukan status kesehatan pasien.
Untuk dapat memberikan kualitas pelayanan yang baik, perawat harus mampu mengidentifikasi masalah dan pespon pasien.
Dalam melaksanakan upaya pelayanan seorang perawat sudah sewajarnya mempunyai sikap dan tindakan yang menunjang kesembuhan pasien dan dapat menggunakan dirinya secara terapeutik dalam menjalin hubungan interpersonal dengan pasien.
Hubungan perawat dan pasien yang terapeutik adalah pengalaman belajar bersama dan pengalaman untuk memperbaiki emosi pasien. Perawat memakai dirinya sendiri dan tekhnik pendekatan khusus dalam bekerja dengan pasien untuk memberi pengertian dan mengubah perilaku pasien.
Untuk dapat menggunakan dirinya secara terapeutik, perawat perlu mengenal dirinya, perasaan, pikiran dan nilai agar asuhan yang diberikan berkualitas. Perawat juga perlu memahami beberapa hal penting, yaitu :
TRUST
Trust adalah rasa percaya bahwa seseorang akan menaruh respek terhadap kebutuhan orang lain dan berharap akan berbuat sesuatu yang akan dipertanggungjawabkan dan diamalkan.
Perawat memberikan kesempatan pada pasien untuk belajar mempercayai orang lain dan mengalami kehangatan dan keamanan dalam bentuk hubungan dengan orang lain. Beberapa paktor yang meningkatkan rasa percaya :
1. Harus ada kesesuain antara ucapan dan perbuatan yang ditunjukkan perawat.
2. Perawat harus memiliki keterampilan yang memadai.
3. Adanya kesesuaian antara verbal dan non verbal (komunikasi) sehingga memudahkan mengembangkan rasa percaya dari pasien.
EMPATI
Empati adalah kemampuan untuk mengerti sepenuhnya tentang kondisi atau perasaan orang lain. Empati diartikan juga sebagai kemampuan menyelami ke dalam hidup orang lain. Tetapi perawat harus menyadari adanya keterpisahan dirinya dan menjamin tumbuhnya rasa aman dari pasien. Empati sebaiknya diekspresikan secara terbuka oleh perawat kepada pasien dengan komunikasi sesuai tingkatan pengertian pasien.
PENERIMAAN
Penerimaan dalam hal ini lebih dari sekedar setuju terhadap sesuatu yang terjadi pada diri pasien dan merupakan bentuk kegiatan yang integral dari hubungan perawat dan pasien serta memerlukan adanya kesadaran diri dari perawat, sehingga dapat mengenal reaksi-reaksi yang ditunjukkan dari pasien dari hubungan perawat dan pasien karena sering kali dijumpai perawat memiliki egosentris sehingga merasa pendapatnya saja yang benar.
Langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam proses penerimaan :
1. Mengenal dan memiliki keputusan, menerima pasien sebagaimana adanya yang membutuhkan pertolongan. Diperlukan adanya kesabaran, toleransi dan murah hati.
2. Menerima keputusan-keputusan yang telah dilakukan dan menguji keputusan tersebut apakah sesuai atau tidak. Perawat harus mengenal keputusan yang diambil berdasarkan pendapat, nilai atau kepercayaan dirinya dan jangan mengharapkan pasien untuk merobah orientasi nilainya dan harus sama dengan perawat.
MENJAGA KERAHASIAAN
Sesuai dengan etika perawatan, pasien berhak dijaga kerahasiaannya mengenai segala sesuatu tentang dirinya. Perawat harus mampu menjaga informasi tentang pasien, tidak memdiskusikannya di luar rumah sakit dan hanya didiskusikan di tempat yang sesuai.
TANGGUNG JAWAB
Perawatan profesional mempunyai tanggung jawab dan tanggung gugat terhadap asuhan yang diberikan pada pasien. Pada saat tertentu keadaan pasien mengalami keterbatasan, sehingga secara fisik tidak mampu bertanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan dirinya. Perawat memberikan bantuan kepada pasien dalam memenuhi kebutuhannya. Namun bukan berarti membiarkan pasien tergantung pada orang lain. Perawat bertanggung jawab dalam membimbing kemandirian pasien.
Langganan:
Postingan (Atom)
